Volume 23

Kenapa Super Blood Moon?

Mengapa Gerhana Bulan Total 26 Mei 2021 Disebut Sebagai Super Blood Moon?

Liputan6.com 2021-05-26 18:38:52
Ilustrasi gerhana bulan total. (Foto: Bambang E.Ros)

Pada hari ini, Rabu 26 Mei 2021, masyarakat di seluruh Indonesia dapat mengamati Gerhana Bulan Total. Gerhana Bulan Total kali ini disebut juga dengan nama Super Blood Moon.

Kenapa Gerhana Bulan Total kali ini disebut sebagai Super Blood Moon?

Menurut siaran pers BMKG yang diunggah di laman bmkg.go.id, Kepala Pusat Seismologi Teknik, Geofisika Potensial, dan Tanda Waktu BMKG Rahmat Triyono menyebut, Gerhana Bulan Total terjadi saat posisi Matahari, Bumi, dan Bulan sejajar.

Hal ini terjadi saat Bulan berada di umbra Bumi yang berakibat, saat puncak Gerhana Bulan Total terjadi, Bulan akan terlihat berwarna merah. Pada kondisi ini, bulan dikenal dengan nama Blood Moon.

Karena posisi Bulan saat terjadi gerhana berada di posisi terdekat dengan Bumi (Perigee), Bulan akan terlihat lebih besar dari fase-fase purnama biasa. Oleh karenanya disebut dengan Super Moon.

"Karena itulah, Gerhana Bulan Total tanggal 26 Mei 2021 dikenal juga dengan nama Super Blood Moon. Pasalnya Gerhana Bulan Total terjadi saat Bulan ada di jarak terdekatnya dengan Bumi," katanya dalam siaran pers.


Fase Gerhana

Lapan mengungkap, penyebutan Super Blood Moon karena lebar sudutnya lebih besar 13,77 persen dibandingkan dengan ketika Bulan berada di titik terjauhnya (apoge).

Tingkat kecerahannya pun 15,6 persen lebih terang ketimbang rata-rata dan 29,16 persen lebih terang dibandingkan ketika masa apoge.

Sekadar informasi, seluruh proses gerhana sejak fase awal hingga fase akhir akan berlangsung total selama 5 jam 5 menit dan 2 detik.

Sementara proses gerhana total sejak awal fase total hingga akhir fase total akan berlangsung selama 18 menit 44 detik.

Gerhana Bulan Total ini dapat disaksikan jika kondisi cuaca cerah-berawan dan aman disaksikan oleh masyarakat dengan mata telanjang, tanpa harus menggunakan kaca mata khusus gerhana.


Tentang Gerhana Bulan Total Super Blood Moon

Gerhana Bulan Total yang punya nama lain Super Blood Moon ini akan menjadi hal yang sangat spesial, pasalnya gerhana Bulan ini terjadi bersamaan dengan Perige dan Hari Raya Waisak.

Fenomena ini dianggap sangat langka karena hanya terjadi tiap 195 tahun sekali.

Mengutip laman Edukasi Sains Antariksa Lapan, Selasa (25/5/2021), Perigee merupakan masa ketika Bulan berada di jarak terdekatnya dengan Bumi. Adapun jarak Bulan dengan Bumi saat terjadinya Gerhana Bulan Total Super Blood Moon adalah 357.316 Kilometer.

Disebut sebagai Super Blood Moon karena lebar sudutnya lebih besar 13,77 persen dibandingkan dengan ketika Bulan berada di titik terjauhnya (apoge).

Tingkat kecerahannya pun 15,6 persen lebih terang ketimbang rata-rata dan 29,16 persen lebih terang dibandingkan ketika masa apoge.

Lapan menyebut, durasi fase total Gerhana Bulan Total Super Blood Moon sendiri cukup singkat, yakni hanya 14 menit 30 detik.

(Tin/Ysl)

Gerhana di Berbagai Belahan Dunia

Australia hingga Eropa, Ini Potret Gerhana Bulan Total dari Berbagai Belahan Dunia

Liputan6.com 2021-05-26 18:41:28
Perubahan gerhana dimulai dengan menutupi sebagian bulan seperti yang terlihat di Santa Monica, California, pada Rabu 26 Mei 2021. (Frederic J Brown / AFP / Getty)

Fenomena Gerhana Bulan Total yang terjadi pada 26 Mei 2021 merupakan fenomena sains yang tengah dinanti seluruh orang di dunia.

Pasalnya, fenomena gerhana bulan total ini spesial karena terjadi bertepatan dengan Super Moon atau Bulan yang berada di posisi terdekatnya dengan Bumi atau disebut juga dengan posisi perigee.

Mengutip Independent, Rabu (26/5/2021), berikut adalah sejumlah potret dari fenomena Gerhana Bulan Total dari berbagai negara:


1. Santa Monica, California

 


2. Sydney, Australia

 


3. Praha, Republik Ceko

 


4. Spanyol

 


5. Rusia

 

Super Flower Blood Moon di Papua

Warga di Papua Bisa Saksikan Gerhana Bulan Total Tanpa Harus Pakai Kacamata Khusus

Liputan6.com 2021-05-26 08:32:23
Gerhana Bulan Total ini dapat disaksikan hampir di seluruh wilayah Indonesia dari arah Timur hingga Tenggara. (Foto: Unsplash.com/Stephan).

Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyebut, warga di Papua bisa langsung menyaksikan fenomena alam langka gerhana bulan total, Rabu (26/5/2021) dengan mata telanjang, tanpa harus menggunakan kacamata khusus.

Kepala Pusat Seismologi Teknik, Geofisika Potensial dan Tanda Waktu BMKG Rahmat Triyono mengatakan, gerhana bulan total ini dapat disaksikan jika kondisi cuaca cerah berawan sejak awal proses yakni pukul 17.46 WIT hingga akhir pukul 22.51 WIT.

"Pada puncak gerhananya, di sebagian besar wilayah Indonesia posisi bulan dekat dengan horizon di bagian timur sehingga memungkinkan pengamat untuk dapat mengabadikan kejadian gerhana ini dengan latar depan bangunan yang bersejarah atau ikonis," katanya.

Menurut Rahmat fase (P1) atau awal gerhana bulan mulai 17.46.12 WIT yang melintas memotong Papua bagian tengah, sehingga pengamat di Provinsi Papua dapat menyaksikan seluruh proses terjadinya gerhana bulan total ini.

"Fase puncak gerhana bulan total terjadi pukul 20.18.43 WIT, dapat disaksikan di seluruh wilayah Indonesia, kecuali di sebagian kecil Riau, sebagian Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Aceh," ujarnya.

Rahmat menjelaskan, masyarakat juga dapat mengikuti proses pengamatan ini dengan mengakses www.bmkg.go.id/gbt, selain itu yang berada di pesisir atau pinggir laut (pantai) perlu mewaspadai terjadinya pasang air laut yang lebih tinggi dari pasang normalnya.

Gerhana bulan, kata dia, adalah peristiwa terhalanginya sinar matahari oleh bumi, sehingga tidak semuanya sampai ke bulan dilihat dari bumi, di mana peristiwa yang merupakan salah satu akibat dinamisnya pergerakan posisi matahari, bumi, dan bulan ini hanya terjadi pada saat fase purnama dan dapat diprediksi sebelumnya.

Di menambahkan gerhana bulan total terjadi saat posisi matahari-bumi-bulan sejajar, hal ini terjadi saat bulan berada di umbra bumi, yang berakibat, saat puncak gerhana bulan total terjadi, bulan akan terlihat berwarna merah (terkenal dengan istilah Blood Moon).

"Karena posisi bulan saat terjadi gerhana berada di posisi terdekat dengan bumi (Perigee), maka bulan akan terlihat lebih besar dari fase-fase purnama biasa, sehingga sering disebut dengan Super Moon, sehingga, gerhana bulan total pada 26 Mei 2021 dikenal juga dengan Super Blood Moon, karena terjadi saat bulan di Perigee atau bulan berada di jarak terdekat dengan bumi," kata Rahmat Triyono.


Simak juga video pilihan berikut ini:

Gerhana yang Mengancam

Gerhana Bulan Total, BMKG Ingatkan Masyarakat Waspada Banjir Rob

Liputan6.com 2021-05-26 16:33:04
Gerhana bulan total (dok.Instagram/@bosschaobservatory/https://www.instagram.com/p/CPPzO53nf0T/Komarudin)

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan masyarakat di daerah pesisir waspada terhadap potensi terjadinya banjir rob terkait dengan fenomena alam gerhana bulan total atau super blood moon malam ini, Rabu (26/5/2021).

"Gerhana bulan total yang akan terjadi dikenal dengan istilah super blood moon. Pada saat itu, bulan akan berwarna merah yang terlihat dengan ukuran relatif lebih besar dari fase bulan purnama biasa," ujar Kepala BMKG Wilayah I Medan Hartanto di Medan, dilansir Antara.

Hartanto menjelaskan, gerhana bulan total atau super blood moon mempengaruhi ketinggian pasang surut air laut, di mana, posisi bulan, bumi, dan matahari yang sejajar akan mengakibatkan gaya tarik terhadap air laut lebih tinggi sehingga terjadi pasang air laut lebih tinggi. Hal ini bisa menyebabkan banjir rob.

"Dampak dari banjir rob di wilayah pesisir akan berpotensi pada terganggunya transportasi pelabuhan dan pesisir, aktivitas masyarakat serta bongkar muat di pelabuhan," papar dia.

Masyarakat diimbau untuk selalu waspada dan siaga untuk mengantisipasi dampak dari banjir pesisir (rob), serta memperhatikan update informasi cuaca dari BMKG sehubungan dengan adanya gerhana bulan total atau super blood moon.


Fenomena Unik

Hartanto mengatakan, gerhana bulan total merupakan fenomena unik dan patut ditunggu masyarakat. Secara kasat mata, masyarakat dapat melihat dan menyaksikan fenomena langit secara langsung tanpa memakai teropong atau lensa optik.

"Untuk wilayah Sumatera Utara, secara umum warga tidak dapat melihat puncak gerhana matahari yang diperkirakan pada pukul 18:09:21 WIB, demikian juga dengan akhir fase total pukul 19:28:05 WIB," jelas dia.

Namun, pada akhir fase sebagian dan akhir fase penumbra, seluruh wilayah Indonesia dapat melihat dan menyaksikan, termasuk wilayah Sumut.


Gerhana Bulan

 


Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Merayakan Gerhana di Linimasa

Gerhana Bulan Total, Warganet Ramaikan Lini Masa dengan Foto Super Blood Moon

Liputan6.com 2021-05-26 19:36:48
Gerhana Bulan Total ini dapat disaksikan hampir di seluruh wilayah Indonesia dari arah Timur hingga Tenggara. (Foto: Unsplash.com/Constantin Popp).

Gerhana Bulan Total yang jatuh pada hari ini, 26 Mei 2021, disambut meriah oleh warganet. Terbukti, keyword Super Blood Moon, Gerhana, dan Bulannya ramai di lini masa Twitter.

Hal ini wajar, mengingat fenomena Gerhana Bulan Total atau Super Blood Moon ini hanya terjadi siap 195 tahun sekali.

Alhasil, warganet pun ramai-ramai menggunggah sejumlah foto yang diabadikan menggunakan smartphone atau perangkat fotografi lainnya.

Seperti apa hasil foto dan cuitan warganet tentang Gerhana Bulan Total atau Super Blood Moon ini? Berikut ini cuitan yang dihimpun tim Tekno Liputan6.com, Rabu (26/5/2021), dari lini masa Twitter.


Cuitan dan Unggahan Foto Gerhana Bulan Total


Disebut Sebagai Super Blood Moon

Pada hari ini, Rabu 26 Mei 2021, masyarakat di seluruh Indonesia dapat mengamati Gerhana Bulan Total. Gerhana Bulan Total kali ini disebut juga dengan nama Super Blood Moon.

Kenapa Gerhana Bulan Total kali ini disebut sebagai Super Blood Moon?

Menurut siaran pers BMKG yang diunggah di laman bmkg.go.id, Kepala Pusat Seismologi Teknik, Geofisika Potensial, dan Tanda Waktu BMKG Rahmat Triyono menyebut, Gerhana Bulan Total terjadi saat posisi Matahari, Bumi, dan Bulan sejajar.

Hal ini terjadi saat Bulan berada di umbra Bumi yang berakibat, saat puncak Gerhana Bulan Total terjadi, Bulan akan terlihat berwarna merah. Pada kondisi ini, bulan dikenal dengan nama Blood Moon.

Karena posisi Bulan saat terjadi gerhana berada di posisi terdekat dengan Bumi (Perigee), Bulan akan terlihat lebih besar dari fase-fase purnama biasa. Oleh karenanya disebut dengan Super Moon.

"Karena itulah, Gerhana Bulan Total tanggal 26 Mei 2021 dikenal juga dengan nama Super Blood Moon. Pasalnya Gerhana Bulan Total terjadi saat Bulan ada di jarak terdekatnya dengan Bumi," katanya dalam siaran pers.

(Ysl/Tin)

Semua Bisa Jadi Saksi Peristiwa Alam ini

Gerhana Bulan Total Bisa Disaksikan di Indonesia, Ini Lokasi dan Waktunya

Liputan6.com 2021-05-26 10:00:10
Ilustrasi gerhana bulan total (Screenshot of Twitter/@NASAMoon)

Gerhana Bulan Total atau Super Blood Moon, fenomena astronomis langka yang terjadi pada pada 26 Mei 2021 dapat disaksikan oleh sebagian besar masyarakat Indonesia.

Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) menyebutkan, warga Tanah Air dapat menyaksikan fenomena sangat langka yang hanya terjadi tiap 195 tahun sekali ini.

Kapan dan area mana saja yang dapat menyaksikan fenomena Super Blood Moon ini?

Mengutip informasi Lapan, Rabu (26/5/2021), fase awal penumbra dapat diamati mulai pukul 15.46 WIB di Papua dan Kepulauan Aru.

Sedangkan, sebagian Gerhana Bulan Total bisa diamati mulai pukul 16.44.37 WIB dari Papua, Papua Barat, Maluku (kecuali Kepulauan Aru), Maluku Utara, Sulawesi Utara, sebagian Gorontalo, sebagian Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, dan NTT.

Fase Awal Gerhana Bulan Total dapat diamati pukul 18.09.29 WIB di seluruh Indonesia kecuali Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Sebagian Riau.


Puncak Gerhana Bulan Total

Gerhana Bulan Total ini dapat disaksikan hampir di seluruh wilayah Indonesia dari arah Timur hingga Tenggara. (Foto: Unsplash.com/Stephan).

Puncak Gerhana Bulan Total dapat diamati pukul 18.18.43 WIB, 19.18.43 WITA, atau 20.18.43 WIT di seluruh Indonesia kecuali di Aceh, Pulau Nias, sebagian Sumatera Utara.

Sementara untuk fase akhir total, akhir sebagian, dan akhir penumbra dapat diamati masing-masing pukul 18.27.57 WIB, 19.52.49 WIB, dan pukul 20.51.16 WIB di seluruh Indonesia.

Masa puncak Gerhana Bulan Total sendiri bakal terjadi cukup singkat, yakni sekitar 14 menit 30 detik.


Lapan Gelar Live Streaming Pengamatan Gerhana Bulan Total

Bulan tampak berwarna merah darah saat terjadinya fenomena gerhana bulan total  di Luzern, Swiss, Jumat (27/7). Gerhana bulan yang terlama pada abad ini dapat disaksikan di seluruh dunia dengan mata telanjang. (Christian Merz/Keystone via AP)

Selain dapat menyaksikan sendiri secara langsung, kamu juga dapat melihat penampakan Gerhana Bulan Total atau Super Blood Moon ini secara live streaming YouTube.

Adapun kanal tersebut, antara lain Lapan RI, Balai Lapan Biak, Lapan Kupang, SBPJP Lapan (Pare-pare), Lapan Pasuruan, Lapan Garut, Lapan Sumedang, Pusat Sains Antariksa Lapan, BPAA Pontianak, dan Lapan Agam.

Rencananya, pengamatan dilakukan pada 26 Mei 2021 pukul 15.45 - 20.00 WIB.

Dalam acara ini, Kepala Lapan, Thomas Djamaluddin, dan Kepala Pusat Sains Antariksa Lapan, Clara Yatini, serta para peneliti Lapan dari berbagai lokasi, balai dan stasiun lapan di Indonesia akan menjadi pembicara.

(Ysl/Isk)

Super Blood Moon Memukau Penghuni Bumi

FOTO: Mengamati Fenomena Gerhana Bulan di Langit Jakarta

Liputan6.com 2021-05-26 21:00:28
Proses terjadinya gerhana bulan terlihat dari kawasan Patung Pahlawan atau Tugu Tani, Jakarta, Rabu (26/5/2021). Badan Meteorologi Klimatologi Geofisika (BMKG) menyebutkan pada hari ini, Rabu
Gerhana Bulan dari Tugu Tani
Proses terjadinya gerhana bulan terlihat dari kawasan Patung Pahlawan atau Tugu Tani, Jakarta, Rabu (26/5/2021). Badan Meteorologi Klimatologi Geofisika (BMKG) menyebutkan pada hari ini, Rabu (26/5) terjadi fenomena alam gerhana bulan atau super blood moon. (Liputan6.com/Helmi Fithriansyah)
Gerhana Bulan Total di Cilincing
Gerhana bulan terlihat dari di Jalan Belah Kapal, Cilincing, Jakarta Utara pada Rabu (26/5/2021). Gerhana bulan yang disebut juga fenomena "Super Blood Moon" tersebut berlangsung sekitar lima jam lima menit dan dapat disaksikan dari seluruh Indonesia. (merdeka.com/Imam Buhori)
Gerhana Bulan dari Tugu Tani
Proses terjadinya gerhana bulan terlihat dari kawasan Patung Pahlawan atau Tugu Tani, Jakarta, Rabu (26/5/2021). Badan Meteorologi Klimatologi Geofisika (BMKG) menyebutkan pada hari ini, Rabu (26/5) terjadi fenomena alam gerhana bulan atau super blood moon. (Liputan6.com/Helmi Fithriansyah)
Gerhana Bulan Total di Cilincing
Gerhana bulan terlihat dari di Jalan Belah Kapal, Cilincing, Jakarta Utara pada Rabu (26/5/2021). Gerhana bulan yang disebut juga fenomena "Super Blood Moon" tersebut berlangsung sekitar lima jam lima menit dan dapat disaksikan dari seluruh Indonesia. (merdeka.com/Imam Buhori)
Gerhana Bulan Total di Cilincing
Gerhana bulan terlihat dari di Jalan Belah Kapal, Cilincing, Jakarta Utara pada Rabu (26/5/2021). Gerhana bulan yang disebut juga fenomena "Super Blood Moon" tersebut berlangsung sekitar lima jam lima menit dan dapat disaksikan dari seluruh Indonesia. (merdeka.com/Imam Buhori)
Gerhana Bulan dari Tugu Tani
Proses terjadinya gerhana bulan terlihat dari kawasan Patung Pahlawan atau Tugu Tani, Jakarta, Rabu (26/5/2021). Badan Meteorologi Klimatologi Geofisika (BMKG) menyebutkan pada hari ini, Rabu (26/5) terjadi fenomena alam gerhana bulan atau super blood moon. (Liputan6.com/Helmi Fithriansyah)
Gerhana Bulan dari Petamburan
Fase gerhana bulan total terlihat di kawasan Petamburan, Jakarta, Rabu (26/5/2021). Gerhana bulan total tersebut terjadi selama sepuluh menit mulai dari pukul 18.09 WIB hingga 18.18 WIB. (Liputan6.com/Faizal Fanani)
Gerhana Bulan dari Petamburan
Fase gerhana bulan total terlihat di kawasan Petamburan, Jakarta, Rabu (26/5/2021). Gerhana bulan total tersebut terjadi selama sepuluh menit mulai dari pukul 18.09 WIB hingga 18.18 WIB. (Liputan6.com/Faizal Fanani)
Gerhana Bulan dari Petamburan
Fase gerhana bulan total terlihat di kawasan Petamburan, Jakarta, Rabu (26/5/2021). Gerhana bulan total tersebut terjadi selama sepuluh menit mulai dari pukul 18.09 WIB hingga 18.18 WIB. (Liputan6.com/Faizal Fanani)
Gerhana Bulan dari Petamburan
Fase gerhana bulan total terlihat di kawasan Petamburan, Jakarta, Rabu (26/5/2021). Gerhana bulan total tersebut terjadi selama sepuluh menit mulai dari pukul 18.09 WIB hingga 18.18 WIB. (Liputan6.com/Faizal Fanani)
Gerhana Bulan dari Petamburan
Fase gerhana bulan total terlihat di kawasan Petamburan, Jakarta, Rabu (26/5/2021). Gerhana bulan total tersebut terjadi selama sepuluh menit mulai dari pukul 18.09 WIB hingga 18.18 WIB. (Liputan6.com/Faizal Fanani)
Gerhana Bulan dari Petamburan
Fase gerhana bulan total terlihat di kawasan Petamburan, Jakarta, Rabu (26/5/2021). Gerhana bulan total tersebut terjadi selama sepuluh menit mulai dari pukul 18.09 WIB hingga 18.18 WIB. (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Begini Lho Peristiwa Gerhana yang Sebenarnya

Terjadi 26 Mei 2021, Simak Penjelasan Lengkap Soal Gerhana Bulan Total

Liputan6.com 2021-05-26 17:05:45
Gerhana bulan total (dok.Instagram/@bosschaobservatory/https://www.instagram.com/p/CPPzO53nf0T/Komarudin)

Fenomena sains Gerhana Bulan Total akan terjadi pada 26 Mei 2021. Fenomena ini pun menjadi salah satu fenomena astronomi yang terjadi pada tahun 2021 dan dikenal sebagai 'Super Flower Blood Moon.'

Namun, apa sebenarnya arti dari Gerhana Bulan Total itu sendiri?

Sebelum membahas tentang fenomena tersebut lebih jauh, penting untuk memahami makna dari Gerhana Bulan. Gerhana Bulan adalah fenomena yang terjadi di saat posisi Bumi, Bulan dan Matahari sejajar, di mana cahaya matahari yang sampai ke Bulan terhalang oleh bayangan Bumi. Demikian seperti mengutip penjelasan dari Muhammad Zamzam, peneliti Pussainsa melalui Instagram Live @pussainsa_lapan.

Lantaran hal tersebut, Bulan cenderung akan terlihat lebih redup atau bahkan gelap.

Sementara itu, Gerhana Bulan Total terjadi ketika Bulan masuk ke dalam umbra (kerucut inti dari bayangan Bumi).


Penjelasan Super Blood Moon

Gerhana Bulan Total yang terjadi pada hari ini cukup berbeda dan disebut sebagai "Super Blood Moon".

Hal ini lantaran gerhana bulan yang terjadi bertepatan dengan Super Moon atau Bulan yang berada di posisi terdekatnya dengan Bumi atau disebut juga dengan posisi perigee.

Maka dari itu, fenomena yang terjadi ini merupaka fenomena yang spesial.

Warna merah seperti merah darah yang muncul dalam peristiwa Gerhana Bulan Total terlihat pada puncak peristiwa. Hal ini yang membedakan dengan Gerhana Bulan biasa ketika Bulan justru terlihat gelap.

Warna merah berasal dari atmosfer Bumi, di mana cahaya Matahari masih ada yang lolos hingga terpantul oleh Bulan.


Infografis Tata Cara Salat Gerhana:

 

Masih Ada yang Percaya Mitosnya?

8 Mitos Soal Gerhana Bulan, Vampir hingga Ramalan Kiamat

Liputan6.com 2021-05-26 18:35:21
Ilustrasi gerhana bulan total. (Foto: Bambang E.Ros)

Gerhana Bulan Total (GBT) bakal menghiasi langit malam sejumlah negara termasuk salah satunya Indonesia. Kali ini fenomena tersebut dikenal dengan Super Blood Moon, karena bulan tampak berwarna agak oranye kemerahan dan karena bulan purnama, satelit Bumi akan tampak sangat besar juga.

Lainnya menyebut Gerhana Bulan Total itu dengan Super Flower Blood Moon Eclipse.

Gerhana bulan total 2021 yang bertepatan dengan Supermoon ini muncul untuk pertama kalinya dalam dua tahun. Terakhir terjadi pada Januari 2019.

Penampakan fenomena alam konon banyak dihubung-hubungkan dengan mitos. Terutama gerhana. Apa saja?

Berikut ini sejumlah mitos yang beredar terkait gerhana atau gerhana bulan, dikutip dari sejumlah sumber, Rabu (26/5/2020):

1. Benarkah GerhanaTerkaitMakhluk Mistis?

Ilustrasi vampir (i-Stock)

Seperti dimuat laman Space.com yang dikutip , jawabannya adalah tidak. Makna gerhana lebih dari sekedar mitos soal vampir atau manusia serigala.

Studi tentang gerhana merupakan bagian dari ilmu astronomi sejak awal, sebab, ia merupakan salah satu fenomena alam yang menakjubkan. Saat bulan berada di belakang Bumi -yang menutupi cahaya matahari yang memancar ke Bulan.

Astronom NASA, Mitzi Adams dari Marshall Space Flight Center di Huntsville menjelaskan, gerhana bulan biasanya berlangsung selama beberapa jam, tidak seperti gerhana matahari total, yang hanya berlangsung selama beberapa menit.

Untuk Gerhana Bulan, aman-aman saja melihat menggunakan teleskop. Namun, alat itu tak benar-benar dibutuhkan.

Kata Adams, mata kita adalah instrumen terbaik melihat Gerhana Bulan.


2. Kelahiran Anak Setan Jahat

Warga Eropa pada Abad Pertengahan yakin, berhubungan seksual saat Gerhana Bulan akan berdampak buruk pada anak yang dihasilkan dari hubungan suami-istri itu.

Konon, anak-anak yang dijuluki 'moon children' itu akan terlahir dengan setan jahat yang merasuk di dalam diri mereka.

Takhayul juga beredar di era modern, yang menyebut bahwa perempuan hamil dilarang menyentuh perutnya selama gerhana bulan. Jika itu dilanggar, diyakini bayi yang dilahirkan akan memiliki tanda lahir.

Besaran tanda lahir itu konon tergantung besar-kecilnya kekuatan sentuhan.


4. Makanan dan Minuman Tak Murni

Saat Gerhana Bulan parsial terjadi pada 8 Agustus 2017, banyak orang di India percaya, gerhana merupakan pertanda buruk. Selama itu, warga diminta tak makan atau minum.

Menurut kepercayaan di India, makanan menjadi tak murni saat gerhana sehingga tak boleh dikonsumsi. Untuk mengurangi dampak gerhana pada makanan, orang menambahkan kemangi (tulsi) ke makanan dan air.


5. Mitos Anak Terlahir Cacat

Mitos itu juga berlaku bagi wanita hamil di India. Para ibu yang tengah mengandung disarankan oleh para sesepuh agar tak keluar saat gerhana atau melihat aktivitas langit itu dengan mata telanjang.

Mereka mengatakan bahwa janin di rahim bisa cacat jika wanita hamil melakukannya. Tentu saja, tak ada bukti ilmiah yang mendukung anggapan itu.

Namun, kebetulan bisa saja terjadi. "Saya memotong sebutir apel, meskipun aku sudah diperingatkan untuk tidak menyentuh benda tajam. Anak saya lahir dengan jari yang tak utuh," kata salah seorang perempuan seperti dikutip dari Daily Times.


6. Bulan Hilang Dimakan jaguar

Sepanjang sejarah, banyak budaya non-Kristiani juga menafsirkan menghilangnya Bulan sebagai pertanda buruk.

Menurut National Geographic, mitos bangsa Inca meyakini, saat gerhana, Bulan dilahap oleh seekor Jaguar.


7. Dihilangkan Iblis

Sementara, bangsa Mesopotamia kuno yakin, gerhana muncul akibat ulah iblis. Pada masa lalu, sinar bulan punya arti penting sebagai penunjuk waktu dan pertanian, menghilangnya rembulan atau perubahan warnanya menjadi serupa darah adalah pemandangan yang menakutkan.

Mesopotamia kuno juga melihat Gerhana Bulan sebagai serangan terhadap bulan, demikian kata Direktur Observatorium Griffith E. C. Krupp. Dalam cerita mereka digambarkan para penyerang adalah tujuh iblis.

Budaya tradisional menghubungkan apa yang terjadi di langit dengan keadaan di Bumi, katanya. Dan karena raja mewakili tanah dalam budaya Mesopotamia, orang-orang memandang Gerhana Bulan sebagai serangan terhadap raja mereka.

"Kami tahu dari catatan tertulis (bahwa Mesopotamia) soal kemampuan yang masuk akal untuk memprediksi Gerhana Bulan," kata Krupp. Jadi untuk mengantisipasi gerhana, mereka akan memasang raja pengganti yang dimaksudkan untuk menanggung beban serangan.

"Biasanya, orang yang dinyatakan sebagai raja akan menjadi seseorang yang dilindungi," kata Krupp. Meskipun penggantinya tidak benar-benar memimpin, dia akan diperlakukan dengan baik selama periode gerhana ketika raja yang sebenarnya menyamar sebagai warga biasa. Begitu gerhana berlalu, "seperti yang Anda duga, raja-raja pengganti akan menghilang," jelas E. C. Krupp.


8. Ramalan Kiamat

Jutaan manusia telah menyaksikan gerhana bulan terlama sepanjang Abad ke-21 pada 27-28 Juli 2018. Selama 1 jam 43 menit, rembulan pun memerah, sebuah fenomena yang dikenal sebagai blood moon.

Meski merupakan fenomena astronomi biasa, sejumlah orang mengaitkannya dengan pertanda kiamat. Salah satunya adalah seorang pemuka agama bernama Paul Begley.

Ia mengaitkan fenomena Gerhana Bulan merah darah atau blood moon dengan 70 tahun berdirinya Israel sebagai nurbuat akhir zaman.

"Blood moon jelas merupakan pertanda ilahiah tentang akhir zaman," kata dia dalam video. "Ada begitu banyak ramalan yang dimainkan di sini... kita sedang berada di akhir zaman."

Ia kemudian mencocokkan ramalannya itu dengan petikan kitab suci Yoel 2:30-31. "Matahari akan berubah menjadi gelap gulita dan bulan menjadi darah sebelum datangnya hari Tuhan yang hebat dan dahsyat itu."

Sejumlah astronom terkemuka telah membantah keterkaitan fenomena alam tersebut dengan ramalan kiamat.

Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) juga membantah klaim tersebut. Menurut NASA, tak ada satupun bukti ilmiah yang mengaitkan blood moon dengan kiamat.

Seperti dikutip dari situs sains, LiveScience, pada Sabtu 27 Juli 2018, ini bukan kali pertamanya blood moon dituduh jadi pertanda kiamat.

Sepanjang sejarah, banyak budaya non-Kristiani menafsirkan menghilangnya Bulan sebagai pertanda buruk.

Kemunculan Galaksi Bima Sakti

5 Fakta Gerhana Bulan Total 26 Mei 2021, Super Blood Moon hingga Bima Sakti Muncul

Liputan6.com 2021-05-26 16:01:36
Foto fenomena gerhana bulan total di kota Jakarta, Sabtu (28/7). Gerhana bulan total "Micro Blood Moon" tersebut merupakan yang terlama pada abad ini dengan total waktu termasuk fase penumbra

Gerhana Bulan Total (GBT) yang juga disebut Blood Moon puncaknya bakal muncul pada 26 Mei 2021. Gerhana Bulan Total kali ini juga disebut Super Flower Blood Moon Eclipse.

Sebutan Super Blood Moon karena bulan tampak berwarna agak oranye kemerahan dan karena bulan purnama, satelit Bumi akan tampak sangat besar juga.

Gerhana bulan 2021 yang total ini terjadi saat Bumi berada di antara matahari dan bulan, menghalangi sinar matahari untuk mencapai satelit secara langsung. Bulan sepenuhnya berada dalam bayang-bayang Bumi dan itulah sebabnya ia disebut gerhana bulan total.

Fenomena langit ini juga bisa disaksikan di Indonesia. Selain itu, berikut ini sejumlah fakta dari Gerhana Bulan Total Rabu (26/5/2021) dikutip dari sejumlah sumber:

1. Gerhana Bulan Total Pertama dalam Dua Tahun

Gerhana Bulan Total ini dapat disaksikan hampir di seluruh wilayah Indonesia dari arah Timur hingga Tenggara. (Foto: Unsplash.com/KT).

Kemunculan pada 26 Mei ini adalah Gerhana Bulan total pertama dalam dua tahun, menjadi Super Blood Moon atau Bulan Darah Super.

Gerhana bulan total terakhir kali terjadi pada 21 Januari 2019.

2. Terlihat dari Amerika Hingga Indonesia

Gerhana Bulan Total ini dapat disaksikan hampir di seluruh wilayah Indonesia dari arah Timur hingga Tenggara. (Foto: Unsplash.com/Stephan).

Mengutip Indian Times, GBT kali ini juga akan terlihat dari beberapa bagian Pasifik, Atlantik, dan Samudera Hindia termasuk Indonesia

Selain itu, Gerhana Bulan Total kali ini juga akan terlihat di Asia Timur, Australia, Pasifik, dan Amerika. Mereka yang berada di bagian timur Australia, Selandia Baru, dan Kepulauan Pasifik, termasuk Hawaii adalah yang beruntung karena dapat menyaksikan gerhana total dan sebagian.

Menurut situs NASA, gerhana total akan terlihat mendekati waktu terbenamnya bulan di benua barat Amerika Serikat, Kanada, Meksiko, sebagian besar Amerika Tengah dan Ekuador, Peru barat, Chile selatan, dan Argentina. Di sepanjang Lingkar Asia Pasifik, gerhana total akan terlihat tepat setelah bulan terbit, kata badan antariksa tersebut.

Di India, gerhana total tidak akan terlihat. Hanya gerhana parsial, "yang terjadi saat Bulan bergerak masuk dan keluar dari bayangan Bumi" yang akan terlihat di beberapa bagian India Timur, Nepal, Tiongkok barat, Mongolia, dan Rusia timur.

3. Super Blood Moon

Ilustrasi gerhana bulan total. (Sumber foto: unsplash.com)

Ini adalah Super Blood Moon atau Bulan Darah Super, di mana bulan tampak berwarna oranye kemerahan dan juga sangat besar. Itu besar karena ini adalah bulan purnama dan satelitnya paling dekat dengan Bumi. Namun, NASA juga mengatakan bahwa tidak semua Supermoon adalah Blood Moon atau terlihat merah, karena gerhana tidak terjadi pada waktu yang sama di semua kasus. Tapi yang ini berbeda.

Menurut halaman NASA, Blood Moon tanggal 26 Mei, "sinar matahari membelok dan menyebar saat melewati atmosfer Bumi," dan selama gerhana bulan, sinar matahari yang difilter ini berhasil menembus atmosfer Bumi, dan mencapai permukaan bulan.

"Gerhana Bulan diterangi cahaya merah-oranye yang tersisa dari semua matahari terbenam dan matahari terbit yang terjadi di seluruh dunia pada saat itu. Semakin banyak debu atau awan di atmosfer Bumi selama gerhana, semakin merah Bulan akan muncul," jelas NASA.


4. Waspada Banjir Rob

Menurut Forbes, gerhana itumurni peristiwa visual tetapi sifat "supermoon" dari posisi Bulan akan berarti pasang mata air perigean yang sangat tinggi dan sangat rendah --- alias king tide --- sehingga membawa ancaman banjir ke wilayah pesisir.

5. Kemunculan Bima Sakti

Galaksi Bima Sakti (Milky Way). (Sumber: wikipedia commons)

Pergilah ke luar saat bulan purnama dan coba temukan Bima Sakti. Sangat sulit bahkan jika Anda berdiri di bawah langit yang cerah dan gelap.

Selama gerhana bulan total, pencemar cahaya terbesar di langit secara efektif dimatikan. Jadi selama 14 menit dan 30 detik tidak ada sinar matahari yang signifikan yang akan membanjiri langit malam --- dan Bima Sakti mungkin muncul.

Ini adalah pemandangan sekilas yang luar biasa selama gerhana bulan total.

Fenomena ini menjadi dua kali lipat selama peristiwa khusus ini, karena Bulan akan ditempatkan di seberang konstelasi Scorpius.

Jadi meskipun Anda tidak perlu mencari langit yang gelap untuk menonton "Blood Moon", jika Anda melakukannya, Anda akan mendapatkan pemandangan bonus.

Begini Cara Saksikan Gerhana, Jangan Salah

Bisa dengan Mata Telanjang, Begini Cara Saksikan Gerhana Bulan Total 26 Mei 2021

Liputan6.com 2021-05-26 15:00:18
Gerhana Bulan Total ini dapat disaksikan hampir di seluruh wilayah Indonesia dari arah Timur hingga Tenggara. (Foto: Unsplash.com/KT).

Gerhana bulan total yang bertepatan dengan Supermoon akan terlihat di langit Indonesia pada 26 Mei 2021 sore untuk pertama kalinya dalam dua tahun.

Gerhana bulan total terakhir, juga dikenal sebagai bulan darah, terjadi pada Januari 2019.

Melansir The Guardian, Rabu (26/5/2021), Supermoon, fenomena yang lebih umum, terjadi saat bulan purnama terjadi di dekat titik terdekat dalam orbitnya ke Bumi.

Meskipun Bumi akan menghalangi sinar matahari langsung untuk mencapainya, selama gerhana total, bulan akan tampak redup dalam warna merah-oranye.

Dr Brad Tucker, ahli astrofisika dari Universitas Nasional Australia, mengatakan meskipun bulan akan berada dalam bayangan bumi, sebagian sinar matahari masih mencapainya dengan melewati atmosfer bumi.

"Sama seperti kita mendapatkan matahari terbit dan terbenam berwarna jingga-merah [di Bumi] karena komposisi atmosfer dan sudut pancaran cahaya - yang kita sebut pembiasan - efek yang sama ini terlihat di luar angkasa," kata Tucker.

Munculnya bulan akan tergantung pada waktu dan lokasi dilihatnya, katanya.


Bisa Dilihat dengan Mata Telanjang

Tidak seperti gerhana matahari, gerhana bulan aman untuk dilihat. Fenomena ini dapat disaksikan dengan mata telanjang tanpa memerlukan peralatan khusus.

Saran Tucker untuk pengamat bulan yang tidak ingin menghabiskan waktu berjam-jam di luar adalah memeriksanya secara berkala sepanjang malam.

"Jika Anda menatapnya selama lima menit, itu akan terlihat sama. Jika Anda melihatnya dan kemudian kembali dan melihatnya dalam setengah jam, itu akan terlihat sangat berbeda," katanya.

"Saran saya adalah untuk melihatnya beberapa kali antara pukul 19.44 dan 21.11 [AEST] (Waktu Australia), benar-benar nikmati antara pukul 21.11 dan 9.25, lalu Anda bisa pergi tidur karena itu akan menghilang begitu saja."

Menurut Tucker, Super Moon bertepatan dengan gerhana bulan total setiap empat hingga lima tahun sekali. Secara statistik, satu dari tiga atau empat gerhana bulan total akan menjadi bulan super blood moon, katanya.

Sementara itu, Super Moon terjadi lebih sering - biasanya tiga hingga empat kali per tahun.

Nobar di Lereng Anteng