Volume 33

Buku Harian Hitler Bikin Malu

Skandal Memalukan Penemuan 'Buku Harian' Adolf Hitler

Liputan6.com 2021-06-29 21:00:39
Hitler dan Mussolini (Wikipedia)

Adolf Hitler, bagaimana pun adalah seorang pria. Seperti pria-pria lain, dia juga punya sisi pribadi yang harus diungkapkan. Ini adalah coretan seorang pria yang menggemparkan dunia: "Sesuai keinginan Eva, aku menjalani pemeriksaan dokter. Karena pil baru itu, aku kerap buang angin. Dan, kata Eva, nafasku bau."

Pada lembar lain, ia menulis, "Aku harus bicara serius pada Eva. Ia pikir, seorang pemimpin Jerman bisa menghabiskan waktu seenaknya untuk hal-hal pribadi." Lalu, catatan harian bertarikh Juni 1935 menyebut, "Eva kini punya 2 anjing. Ia tak lagi merasa bosan."

Buku misterius itu berisi curahan hati seorang lelaki untuk orang yang ia kasihi, Eva. Coretan itu juga berisi pengakuan yang cukup menggelitik sekaligus ironis, bahwa dia mengaku tak tahu apa yang terjadi pada nasib orang Yahudi di Jerman saat Nazi berkuasa.

Dunia digemparkan dengan penemuan buku harian Adolf Hitler. Berita penemuan itu disampaikan pada 22 April 1983 oleh majalah Jerman, Stern.

"Buku Harian Hitler Ditemukan," demikian ditulis dalam sampul muka majalah itu. Dunia pun gempar.

Kabarnya, pada April 1945, sebuah pesawat yang membawa harta benda milik Hitler kecelakaan di dekat Dresden. Buku harian Hitler, ada dalam harta benda di pesawat tersebut. Wartawan Stern, Gerd Heidemann mengaku mendapatkannya dari seorang 'sumber' Nazi.

Stern mengklaim, buku tersebut akan memaksa para sejarawan menulis ulang biografi Hitler dan sejarah Reich Ketiga (Third Reich).

Gerd Heidemann mengaku mendapatkan 62 volume buku itu dengan harga 9,3 juta mark atau US$ 6,1 juta dari pedagang barang antik sekaligus pelukis, Konrad Kujau.

Jajaran editor di majalah itu berjanji bakal menyerahkan buku harian tersebut ke Badan Arsip Jerman Barat untuk diwariskan kepada generasi mendatang.


Terkuak

Dua pekan berlalu, kisah itu pun terkuak. Rupanya, buku harian yang dibanggakan itu merupakan bohong belaka, penulisnya bukan Hitler, melainkan Kujau.

Usai terungkap, majalah Stern harus membawa malu dalam waktu cukup lama dan butuh bertahun-tahun untuk memulihkan nama baiknya.

Tak hanya menanggung malu, Heidemann bahkan sempat dihadiahi jeruji besi dalam kasus penggelapan. Sedangkan Kujau, dipenjara dengan tuduhan kasus penipuan.

Reputasi sejarawan Inggris, Hugh Trevor-Roper atau Lord Dacre -- yang menyebut buku itu asli, sementara ahli lain menyangsikannya -- runtuh seketika.

Skandal buku harian Hitler menjadi sangat besar. Jika tak disebut paling besar kelas dunia, setidaknya dalam dunia jurnalisme Jerman setelah perang Dunia II berakhir.

Badan Arsip Federal Jerman pada 2013 lalu berniat mengoleksi buku harian tersebut. Bukan sebagai sumber sejarah Nazi, melainkan sebagai pengenang kebohongan dari majalah Stern.

"Buku harian Hitler palsu adalah dokumen dari masa lalu," kata Michael Hollmann, Kepala Badan Arsip, seperti dikutip dari New York Times.

Sementara, Dominik Wichmann, Pemimpin Redaksi Stern kala itu mengatakan, pihaknya punya alasan kuat untuk menyerahkannya pada badan arsip.

"Buku harian palsu itu adalah bagian dari sejarah Stern," kata dia. "Kami tak ingin menampik fakta itu, melainkan menghadapinya dengan cara yang tepat dan faktual."


Saksikan Video Menarik Berikut Ini

Kabar Dusta yang Mengubah Hollywood

Kisah Florence Lawrence dan Hoaks yang Mengubah Hollywood

Liputan6.com 2021-06-30 07:40:20
Florence Lawrence, artis film bisu jadi subjek dalam hoaks yang melambungkan namanya (Wisconsin Center for Film and Theater Research/Public Domain)

Hari itu, 19 February 1910, Florence Lawrence dalam perjalanan menuju tempat kerja. Iseng, ia membuka koran. Perempuan itu kaget bukan kepalang saat melihat foto dirinya disertai artikel obituari. Dia diberitakan telah meninggal dunia.

"Aku terkejut melihat kemiripan foto dengan diriku. Di atasnya ada judul flamboyan yang mengumumkan kematianku yang tragis, ditabrak trem yang melaju kencang," kata Lawrence dalam sebuah artikel yang terbit pada 1914 di majalah Photoplay.

Isi dalam artikel itu jelas dusta belaka. Namun, hoaks tersebut justru melambungkan nama Florence Lawrence. Pemain film itu bahkan kemudian dijuluki 'first movie star' alias bintang film pertama.

Jangan bayangkan pemain film kala itu hidup mewah seperti saat ini. Dulu, dunia layar lebar masih belia, dengan gambar hitam putih dan tanpa suara alias bisu. Para aktris dan aktor dibayar rendah. Keberadaan mereka juga tidak dihargai.

Nama-nama pemain bahkan sengaja dirahasiakan. Itu adalah trik para penguasa dunia perfilman. Alasannya, agar para artis tidak menggunakan ketenaran dan nama besar mereka untuk meminta upah lebih besar.

Kabar bohong itulah yang pertama menguak identitas Florence Lawrence. Ia bukan lagi wajah tanpa nama.

Penampilannya yang menarik, dengan rambut terang, bibir tipis, dan dagu belah sebenarnya sudah lama menarik perhatian publik. Apalagi, hingga 1909, perempuan asal Kanada itu sudah tampil di sekitar 50 film pendek, versi lain menyebut lebih dari 100.

Sebelum hoaks itu bikin heboh, penggemarnya mengenalnya sebagai "Biograph Girl", julukan bagi para artis utama dari perusahaan Biograph Company.


Dalang Hoaks

Belakangan terkuak dalang hoaks itu adalah Carl Laemmle, produser yang kelak mendirikan Universal Pictures.

Sebagai upaya perlawanan atas dominasi Motion Picture Patents Company yang dimiliki Thomas Alva Edison, Laemmle mulai mengiklankan para pemain film yang baru direkrutnya, termasuk Florence Lawrence.

Dengan cara itu, pendapatan para pemain film akan meningkat, mereka pun diharapkan akan berpihak pada perusahaan Independent Motion Picture Co (IMP) miliknya.

Berita kematian Florence Lawrence adalah salah satunya.

Setelah artikel tersebut terbit di koran, Laemmle cepat-cepat membantah kabar bohong yang ia ciptakan sendiri. Ia memasang iklan berjudul 'We Nail a Lie'.

Iklan yang membantah kematian Florence Lawrence sekaligus mengumumkan perannya dalam film The Broken Oath (Public Domain)

"Nona Lawrence masih hidup, ia yang kini menjadi 'IMP Girl' sedang membintangi film barunya," demikian cuplikan iklan itu seperti dikutip dari situs Vanity Fair.Lawrence disebut membintangi film baru The Broken Oath. "Narasi kematian yang melibatkan trem adalah kebohongan paling konyol yang disebarkan musuh-musuh IMP."

Strategi lain disiapkan Laemmle. Pada 25 Maret 1910, kereta yang membawa Florence Lawrence berhenti di Union Station, St. Louis.

Kerumunan orang menyambut sang artis, mendekat dan mengerubunginya. Situasi menggila saat para penggemar berupaya menyentuh sang idola.

"Para penggemar meluapkan kekaguman mereka dengan merobek kancing dari mantelnya, hiasan dari topinya, dan menarik topi dari kepalanya" kata penulis biografi Florence Lawrence, John Drinkwater seperti dikutip dari situs Little White Lies.

Itu jelas peristiwa tak biasa. Bintang muda itu ketakutan, ia heran bukan kepalang. Kok bisa kerumunan orang menyambut seseorang yang hanya mereka lihat di layar?

Yang tak ia sadari, sanjungan dan semua hiruk pikuk yang menyambutnya melahirkan seorang bintang Hollywood, dirinya sendiri.

Sementara, sang produser, Laemmle mengawali apa yang kemudian menjadi sistem dalam dunia perfilman: kultus atau pemujaan untuk para selebritas.


Meninggal dalam Kondisi Tak Bahagia

Florence Lawrence makin terkenal, wajahnya tampil di sampul majalah film. Dia juga makin kaya, upahnya sekitar US$ 500 hingga US$ 1.000 per minggu. Sebagai perbandingan, sebelumnya ia mendapatkan US$ 25 per pekan.

Surat-surat penggemar mengalir ke alamatnya, sampai-sampai bikin petugas pos kewalahan.

Ketika para pengusaha film menyadari bahwa ketenaran artis, yang dulu dikhawatirkan ternyata menguntungkan, ramai-ramai mereka mempromosikan para pemain filmnya.

Penampilan Florence Lawrence (paling kanan) dalam film After All yang rilis pada 1912. (Wisconsin Center for Film and Theater Research/Public Domain)

Di sisi lain, Lawrence sendiri adalah sosok cerdas. Ia menjadi perempuan pertama yang punya perusahaan film sendiri, Victor Film Company. Selain itu, perempuan kelahiran Ontario tersebut punya toko kosmetik, Hollywood Cosmetics, yang menjual produk rias untuk film.

Dia juga penemu 'auto signaling arm' yang jadi cikal bakal lampu sein kendaraan serta lampu rem.

Namun, kejayaan itu tak abadi. Insiden kebakaran di lokasi syuting pada 1915 membuatnya mengalami retak tulang punggung dan luka bakar. Selama berbulan-bulan kemudian, Lawrence syok parah. Dia kembali ke dunia film, namun kelelahan yang dialaminya membuatnya lumpuh selama 4 bulan.

Pada 1924, setelah menjalani operasi plastik, Florence Lawrence mencoba kembali peruntungannya di Hollywood. Dia hanya dapat peran di drama kelas-B dan pemeran pembantu.

Kehidupan pribadinya pun tak mulus. Lawrence menikah tiga kali. Semua berakhir dengan perceraian, yang salah satunya bahkan membuatnya jadi korban kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).

Toko kosmetiknya terpaksa tutup pada 1931. Dan karena ia tak mendaftarkan paten atas temuannya, namanya tak diakui. Lawrence sama sekali tak mendapatkan keuntungan. Kekayaannya lambat laun menyusut.

Pada tahun 1927, ketika bioskop tak lagi bisu, wajah-wajah tanpa suara seperti Florence Lawrence akhirnya memudar. Ia terlupakan.

Hidup Lawrence berakhir pada Desember 1938, di usia 52 tahun.

Ia ditemukan tewas di apartemennya, dengan catatan yang ditujukan pada Bob Brinlow, teman serumahnya. "Aku lelah, semoga ini berhasil. Selamat tinggal, sayangku. Mereka tidak bisa menyembuhkanku, jadi biarlah...," demikian isi pesan itu.

Florence Lawrence dimakamkan di Hollywood Forever Cemetery. Di nisannya tertulis, "The Biograph Girl, The First Movie Star".

(Ein)

Hoaks Tambang Emas di Kalimantan

Skandal Penipuan Tambang Emas Kalimantan Terbesar di Dunia

Liputan6.com 2021-06-30 05:00:29
Untuk memperkuat nilai tambah produk emas, Antam terus melakukan inovasi produk dan penjualan.

Janji mendapat keuntungan besar lewat investasi terus menjadi magnet bagi sebagian orang untuk menggelontorkan uang. Apalagi bila investasi tersebut berkaitan dengan tambang emas dengan janji laba berlipat ganda.

Namun, iming-iming duit berlipat tak melulu mulus. Kadang juga tersandung skandal yang bikin pemodal nyungsep ke jurang kerugian. Itu terjadi di Skandal Tambang Emas Bursang atau Skandal Bre-X di Kalimantan.

Skandal Bre-X ini bahkan disebut sebagai yang terbesar dalam sejarah investasi pertambangan emas dunia.

Kisahnya bermula pada 1993 saat seorang geolog asal Filipina, Michael de Guzman menjelajah hutan Kalimantan. Keluar dari sana, ia menghebohkan orang banyak: ada jutaan ton emas tertimbun di hutan Kalimantan yang siap ditambang.

Dalam kurun tiga tahun, Guzman memproduksi ribuan sample emas. Sample-sample itu pun berhasil menarik kepercayaan para investor agar menanamkan modalnya di salah satu perusahaan tambang di Kanada di mana Guzman bekerja, Bre X Minerals. Saham perusahaan itu meroket seketika.

Hanya satu masalahnya kala itu, tidak ada emas di lokasi tambang Busang, Kalimantan Timur. Guzman adalah penipu yang memberi kesan bahwa perusahaannya menambang banyak emas dan sukses membuat para investor mengguyur perusahaannya dengan dana segar.

Lantas bagaimana skema penipuan itu dijalankan Guzman melalui lokasi tambang emas di Indonesia? Bagaimana nasib Guzman yang kabarnya ditemukan tewas di hutan Kalimantan?

Berikut kisah salah satu kasus penipuan investasi paling terkenal di kancah global seperti dikutip dari Business Insider, Geology.about.com, Resource Investor dan sejumlah sumber lainnya, Rabu (2/4/2014).


Investor Datang

Niat buruk Michael de Guzman bermula saat dirinya bercita-cita menjadi seorang kaya raya. Namun dengan cara singkat. Maka tercetuslah ide untuk membuat berita bohong terkait penemuan cadangan emas itu.

Guzman percaya, agar kebohongannya dipercaya banyak orang, dia harus menggandeng geolog lain. Guzman lantas menghubungi ahli geologi lain, John Felderhof.

Guzman lalu meyakinkan Felderhof untuk menemukan investor yang mau menanamkan modalnya agar keduanya bisa mengeruk emas di belantara Kalimantan.

Dia meminta untuk mencarikan investor yang berani menghadapi risiko dan pantang menyerah. Felderhof merekomendasikan seorang pengusaha Kanada bernama David Walsh.

Walsh kala itu menjabat CEO Bre-X Gold Minerals, Ltd. Guzman dan Felderhoff lantas menyambut Walsh di Indonesia untuk membicarakan bisnis tersebut.

Dari pertemuan itu, pihak Guzman dan rekannya mendapat kontrak proyek senilai US$ 80 ribu atau Rp 904 juta dari Walsh. Bre-X bersedia membeli properti di Busang dan menunjuk Guzman sebagai manajer proyek.

Duit sudah di kantong. Guzman lantas meluncurkan langkah selanjutnya. Ia pun membentuk tim khusus guna mengambil sampel kandungan emas dalam tanah Kalimantan.


Cincin Emas

Setelah sampel terkumpul, Guzman butuh menganalisis emas secara pribadi sebelum dikirim ke luar negeri. Saat itulah, Guzman menghancurkan cincin pernikahannya dan mencampurkan serpihan emas itu dengan sampel batu di Busang. Skema ini disebut `salting` dan berulang kali dilakukan Guzman.

Dia menggunakan rasio sekitar 3 ons emas untuk setiap ton batu yang digali. Lab analisanya sangat meyakinkan dan membuat Bre-X berhasil mengundang perhatian para investor.

Pada 1995, Bre-X melalui Guzman mengklaim cadangan emas yang terkandung di lahan Busang itu berjumlah sekitar 30 juta ounce. Setiap tahun, perusahaan terus meningkatkan potensi cadangan emas di lahan tambang tersebut.

Bahkan pada 1997, Bre-X mengumumkan cadangan emas di tempat tersebut berjumlah 70 juta ounce. Dia mulai membayar penduduk lokal untuk emas yang didulang dari sungai. Selama dua tahun setengah dia menggunakan cara tersebut.

Hipotesa cadangan emas di Bre-X terus naik seiring dengan harga sahamnya. Nilai jual saham di Bre-X melesat pesat di bursa saham Alberta hingga ke level 200 dolar Kanada.

Para investor yang skeptis dengan bisnis tambang emas itu lantas mengirim auditor independen untuk mengecek komoditas logam mulia tersebut. Kala itu, para auditor menemukan itu bukan emas hasil tambang melainkan logam mulia yang didulang dari sungai.

Namun Guzman tak kehabisan akal, dia membeberkan teori vulkanik yang membuat para investor kembali percaya dan menanamkan modalnya. Harga saham Bre-X kembali melonjak.

Saat itu, Guzman, Felderhoff dan Walsh menjual porsi sahamnya di Bre-X senilai US$ 100 juta. Untung besar yang didulang dari Kalimantan tersebut lalu mengundang kecurigaan Soeharto yang kala itu menjabat sebagai Presiden Indonesia.


Saksikan Video Menarik Berikut Ini

Nyonya Kaya Jadi Koban Hoaks

Hoaks London 1810 Bikin Kalang Kabut Nyonya Kaya Raya

Liputan6.com 2021-06-29 18:00:23
Kericuhan menimpa sebuah rumah mewah di 54 Berners Street. Gara-gara hoax (Wikipedia)

Pada 1810, London menjadi kota terbesar sekaligus termakmur di dunia. Itu berkat industri yang maju pesat, serta keberadaan kota-kota penyokong seperti Liverpool dan Menchester. Selain itu, Ibu Kota Inggris itu juga menjadi jalur perlintasan perdagangan antarbenua.

Nyaris segala barang bisa ditemukan di barisan toko-toko yang berderet di Kota London. Ada kejadian tak biasa pada 27 November 1810, semua penjual di London mengirim barang ke satu alamat: 54 Berners Street.

Alamat itu menuju ke sebuah rumah besar milik Nyonya Tottenham yang berada di salah satu kawasan elite Kota London. Seluruh barang dan jasa datang di kota itu menumpuk di satu rumah, kericuhan pun tak bisa dihindari.

Kericuhan bermula sejak pagi pukul 05.00 waktu setempat. Mengutip dari situs Today I Found Out, tukang pembersih cerobong menjadi tamu pertama yang datang. Begitu pembantu menyambut, dia pun bingung lantaran tak pernah meminta jasa.

Selang beberapa menit, 12 tukang sapu cerobong datang bergantian. Bernasib sama dengan tukang sebelumnya, mereka pun diminta segera pergi.

Kiriman arang pun datang setelahnya, disusul tukang furnitur hingga petugas pemakaman yang mengantarkan peti mati.

Setelahnya, giliran kiriman kue tart pernikahan besar dengan bentuk pesanan khusus. Tak ketinggalan, sejumlah juru masak pun tiba, membaca total sebanyak 2.500 kue rasberry.

Kericuhan itu belum usai. Dokter, pengacara, tukang kebun, penjual ikan, dokter gigi, penjual barang kelontong, pendeta, pembuat sofa, karyawan pabrik karpet, sales rambut palsu atau wig, pedagang barang antik, petugas optik, penyuling minuman keras, dan perajin sepatu juga mendatangi rumah mewah itu.

Mereka yang datang itu, tujuannya antara dua: mengirim pesanan dalam jumlah besar atau menawarkan jasa kepada si Nyonya. Tak satupun mengira, bahwa pesanan itu bukan ditulis sang pemilik rumah.

"Nyonya, jalanan penuh pedagang," kata seorang penjual seperti dikutip dalam buku 'An Historical Sketch of the Art of Caricaturing' karya James Peller Malcolm.

"Ya Tuhan...," Nyonya Tottenham pun panik. "Mengapa bisa seperti ini. Aku tak memesan apa pun dari kalian. Aku tak tahu apa-apa. Demi Tuhan, jangan menyiksaku seperti ini."

Itu terjadi sepanjang hari, tanpa ada yang tahu mengapa. Selang beberapa waktu, datang selusin piano, lalu tiba-tiba ada enam orang yang menggotong alat musik organ berukuran besar.

Akhirnya, sejumlah orang penting ikut-ikutan datang, termasuk Gubernur Bank Inggris, Duke of York, Uskup Agung Canterbury, Walikota London, Ketua Mahkamah Agung, sejumlah menteri, dan para petinggi East India Company.

Orang-orang menyemut di area dekat 54 Berners Street. Tengah hari, jalanan di London macet berat. Beberapa blok di sekitar TKP dipenuhi mereka yang mengirim barang ke rumah Nyonya Tottenham dan orang-orang yang penasaran.


Ini Biang Keladi Kekacauan

Bisa dibayangkan betapa repotnya tuan rumah bila seluruh kota mendatanginya. Namun, tahukan bahwa kejadian itu berkat ulah iseng semata.

Kala itu, penulis terkenal Inggris, Theodore Hook dan rekannya sesama penulis sekaligus arsitek Samuel Beazley bertaruh: ia bisa membuat sebuah rumah di London menjadi yang paling terkenal di London. Dan ia memilih rumah Nyonya Tottenham di 54 Berners Street, London.

Hook tak pernah mengungkap motif apa yang mendasari keisengannya itu. Mungkin, karena kamar di rumah di depannya bisa disewa, agar kedua orang iseng itu bisa memantau akibat dari perbuatan mereka.

Atau karena kawasannya yang elite dan terkenal, yang meyakinkan para penjual untuk mengirim barang mereka.

Rupanya, Hook telah mengirim sebanyak 4.000 surat ke sejumlah pedagang, pengusaha, kalangan profesional, bahkan pejabat penting untuk datang ke rumah korbannya.

Wali Kota London mengaku datang karena menerima surat dari 'Nyonya Tottenham', yang mengatakan ia di ambang kematian dan meminta pejabat itu menjadi saksi wasiatnya.

Saat disadari bahwa kejadian itu merupakan lelucon belaka, pihak kepolisian pun turun tangan. Polisi diminta menenangkan massa yang marah. Pantas saja marah, Nyonya Tottenham tak mau membayar kerugian itu.

Pada malam harinya, setelah rumah itu sepi, Hook dan Beazley baru muncul dari rumah yang mereka sewa. Dengan langkah sederhana dan tak merasa berdosa, keduanya pulang.

Dua tahun berlalu, Hook akhirnya mengakui bahwa kekacauan itu akibat ulahnya. "Aku pelakunya," kata dia.

Pengakuan itu tak membuatnya dikenai dakwaan kriminal. Dan kini, rumah mewah di 54 Berners Street milik Nyonya Tottenham itu telah dirubuhkan, digantikan Five Star Sanderson Hotel.


Saksikan Video Menarik Berikut Ini

'Putri Jawa' yang Menipu Bangsawan Inggris

Berbekal Tipuan, Gadis Gelandangan Mampu Susupi Kalangan Elite Inggris

Liputan6.com 2021-06-30 12:00:47
Putri Caraboo mendapat sambutan hangat dari para aristokrat Inggris (Wikipedia)

Seorang gadis mengenakan gaun hitam lusuh lengkap dengan turban di kepalanya datang ke Almondsbury, sebuah desa yang berjarak tak jauh dari Bristol, Tenggara Inggris. Kejadian itu berlangsung pada 3 April 1917.

Gadis itu tampak bingung, seperti telah menempuh perjalanan jauh, wajahnya pun dipenuhi rasa lelah. Mengutip dari situs Mentalfloss, gadis itu tak membawa banyak barang. Hanya sebuah bundelan kain linen yang ia kepit, berisi sabun dan sejumlah peralatan mandi lain.

Paras gadis itu lumayan menarik. Meski menarik, gadis itu bertutur bahasa eksotis yang tak dipahami seorang pun di tempat itu.

Dengan sigap, warga membawa gadis itu ke tempat penampungan orang miskin. Maklum, penampilannya yang lusuh, ia disangka pengemis oleh warga. Sayangnya, pengurus penampungan tak mengizinkannya masuk.

Saat itu, tengah terjadi Perang Napoleon, gadis itu pun sempat dikira mata-mata asing. Ia pun dibawa ke hakim setempat, Samuel Worrall yang tinggal di Knole House, sebuah kediaman yang mirip istana.

Di rumah sang hakim, ada seorang pelayanan berasal dari Yunani yang punya pengetahuan terkait bahasa di Mediterania.

Dengan susah payah, pelayanan itu berusaha memahami perkataan gadis itu, tetapi terus gagal. Worrall curiga, namun istrinya merasa empati -- lebih cenderung terpesona daripada khawatir dengan kemunculan tiba-tiba perempuan itu di desa mereka.

Worrall pun meminta agar perempuan itu diinapkan di sebuah hotel. Di sana, perempuan itu bertingkah aneh, ia menolak makan dan hanya mau minum teh.

Perempuan itu berdoa dengan cara tak biasa, dengan mengangkat satu tangan menutupi matanya dan menyebut kata-kata yang kedengarannya seperti 'Allah-Talla'.

Ia tampak mengenali gambar buah yang tergantung di dinding -- bahkan menyebutnya dengan 'nanas' dalam Bahasa Indonesia atau Melayu bukan 'pineapple' -- hal ini membuat para staf dan penduduk lokal mengira ia pernah bepergian jauh ke wilayah tropis.

Saat dibawa masuk kamar, ia menatap tempat tidur dengan bingung -- sebelum akhirnya memilih meringkuk dan tidur di lantai.

Setelah beberapa malam, Worrall membawa perempuan tersebut kembali ke Knole House. Di sana, gadis misterius itu memberikan petunjuk, dengan menunjuk dirinya dan mengucap 'Caraboo' berkali-kali.

Tingkah perempuan misterius itu membuat sang hakim angkat tangan. Ia memutuskan untuk menahannya dengan tuduhan menggelandang.

Caraboo menghabiskan waktu beberapa hari di rumah sakit gelandangan St Peter di Bristol. Istri Worrall kemudian bertindak dan memindahkannya ke kantor sang suami.

Sejak itu, berita mengenai perempuan misterius itu santer menyebar ke telinga warga dan membuat penasaran banyak orang. Orang pun berduyun-duyun mendatangi sang gelandangan itu. Ada pula warga yang sengaja membawa penutur bahasa berbeda dengan niat agar misteri itu terkuak.

10 hari berlalu sejak kedatangan gadis itu, namun tak satupun perkataan yang keluar dari mulut gadis itu terungkap. Hingga akhirnya seseorang mengaku bisa memahami ucapannya.


Putri Jawa Diculik Bajak Laut

Manuel Eynesso, seorang pelaut asal Portugis yang saat itu kebetulan berada di Bristol mendatangi kantor Worrall untuk menemui sang gadis.

Eynesso punya pengelaman menjelajah hingga ke Hindia Belanda. Ia mengaku bisa mengerti apa yang diucap Caraboo. Itu adalah campuran bahasa daerah di Sumatera. Ia pun mulai menerjemahkan perkataan Caraboo.

Alih-alih sebagai pengemis, Eynesso menyebut gadis itu merupakan putri dari pulau 'Javasu' di Samudera Hindia yang diculik para bajak laut. Gadis itu kabur saat rombongan kapal penculik mengarungi Kanal Bristol.

Javasu yang ia sebut diduga adalah Pulau Jawa yang kala itu menjadi bagian dari Hindia Belanda.

Caraboo, menurut sang pelaut, mengaku berkeliling selama enam pekan hingga akhirnya menginjakkan kaki di Almondsbury.

Kisahnya itu menggegerkan. Nyonya Worrall mendapatkan apa yang ingin didengarnya: Caraboo adalah seorang putri dan adalah sebuah kehormatan bisa menjamunya di Knole House.

Knole House dalam 10 hari ke depan dipenuhi pesta perjamuan sebagai penghormatan kepada perempuan yang disangka gelandangan yang ternyata adalah putri dari kerajaan asing.

Seorang pria bernama Dr Wilkinson bahkan menuliskan laporan gilang gemilang terkait sang putri. "Tak ada yang bisa memancing kecurigaan aparat terkait Caraboo," kata dia. Namun, apa yang dikatakannya terpatahkan.


Ternyata Putri Tukang Sepatu

Kisah Putri Caraboo ramai di media massa. Deskripsi tentang perempuan muda itu dimuat beberapa pekan kemudian di Bristol Journal dan sampai ke sebuah rumah kos-kosan yang dikelola Nyonya Neale.

Nyonya Neale segera mengenali sosok perempuan muda itu. Bukan sebagai putri Jawa yang diculik, melainkan mantan tamunya yang bernama Mary Baker -- putri seorang tukang sepatu dari Desa Witheridge.

Putri Caraboo, menurut dia, adalah kabar palsu alias hoaks belaka. Kesaksian Nyonya Neale menyebar dari mulut ke mulut, melintasi batas desa, dan sampai ke Nyonya Worrall.

Ia yang awalnya tak percaya dengan kesaksian Neale, akhirnya membawa Putri 'Caraboo' ke Bristol. Alasannya, gadis itu akan dibawa ke seorang seniman yang akan mengabadikan potretnya dalam lukisan.

Nyatanya itu dusta belaka. Nyonya Worrall menggunakan kesempatan itu untuk bertemu langsung dengan Neale.

Setelah berbincang berdua, Nyonya Worrall yakin benar Putri Caraboo memang penipu ulung. Saat penipuannya terbongkar, Caraboo atau Mary Baker mengakui semuanya dengan berlinang air mata.

Identitas gadis misterius itu akhirnya terkuak. Ia bukan berasal dari negeri antah-berantah. Inggris adalah tanah kelahirannya. Mary Baker lahir di wilayah pedesaan di Devon pada 1791. Ia bertengkar hebat dengan orangtuanya di usia muda, lalu kabur dari rumah.

Ia yang luntang-lantung di jalanan pernah menjajal berbagai profesi, termasuk pelayan, di wilayah Inggris selatan -- sebelum akhirnya menjadi pengemis di sekitar Bristol pada awal tahun 1810-an.

Selama meminta-minta, ia akhirnya tahu bahwa menyamar sebagai orang asing memungkinkannya untuk memperoleh lebih banyak belas kasihan -- juga uang-- dari masyarakat.

Karakter 'Putri Caraboo', juga bahasanya yang ngawur awalnya ia ciptakan untuk menghibur anak-anak di rumah kontrakan Nyonya Neale. Sementara, tempat bernama 'Javasu' yang sempat dikira Jawa nyatanya tak pernah ada.

Setelah penipuan Mary Baker terkuak, media kembali menggila. Artikel-artikel tentang Putri Caraboo kembali bermunculan.

Namun, alih-alih menyerang gadis itu, mayoritas jurnalis menyajikan artikel tentang kemenangan kelas bawah atas aristokrasi atau bangsawan.

Baker justru dianggap pahlawan -- gadis tak berpendidikan, tertindas, melalui kecakapan, juga nyali, berhasil menyusup dan menipu kalangan paling elite dalam masyarakat. Ia dianggap telah mengekspose kelemahan dan kesombongan kaum ningrat.

Bahkan, Nyonya Worrall yang awalnya kesal, akhirnya menghargai keberhasilan Mary Baker menipunya. Empati kembali terbit di hatinya. Ia memutuskan untuk terus membantu Mary Baker, mengentaskan kesulitan hidup gadis muda itu.

Ia mengumpulkan dana untuk memindahkan Baker ke Philadelphia pada tahun 1817 untuk membuat sebuah awal baru.

Selama di Amerika, Mary Baker berhasil meraup uang dan ketenaran -- meski singkat -- lewat pertunjukan panggung di New York, lewat karakter Putri Caraboo.

Sempat ke sejumlahn negara Eropa, beberapa tahun kemudian, ia kembali ke Inggris dan menggelar pertunjukan yang sama di London. Kala itu, demam Caraboo sudah mereda, penampilannya kala itu kurang sukses.

Catatan sensus menunjukkan, pada tahun 1820-an akhir, Mary Baker berstatus janda dan namanya menjadi Mary Burgess.

Ia kembali menetap di dekat Bristol, dan mencari nafkah dengan menjual lintah ke sebuah klinik lokal, hingga akhirnya meninggal karena serangan jantung pada tahun 1864.

Meski identitas aslinya terbongkar, misteri lain belum terjawab: lantas bagaimana dengan 'pelaut Portugis' yang menerjemahkan kisahnya?

Tak jelas bagaimana kelasi itu bisa mengerti bahasa asal-asalan 'Putri Caraboo' atau, jangan-jangan, ia juga penipu.


Saksikan Video Menarik Berikut Ini

Hoaks Covid-19 Bisa Membunuh

Tak Hanya Penyakit, Hoaks COVID-19 Juga Bisa Membunuh

Liputan6.com 2021-06-30 18:24:27
Gambar ilustrasi Virus Corona COVID-19 ini diperoleh pada 27 Februari 2020 dengan izin dari Centers For Desease Control And Prevention (CDC). (AFP)

Brian Lee Hitchens tidak percaya COVID-19, seperti halnya banyak orang di Amerika Serikat dan di seluruh dunia. Ia mengira, itu rekayasa belaka. Penyakit yang dipicu virus SARS-CoV-2 dianggap flu biasa.

"Kami pikir, pemerintah menggunakannya (isu COVID-19) untuk mengalihkan perhatian kami," kata dia, kepada BBC, Mei 2020 lalu.

Pengemudi taksi itu juga termakan teori konspirasi yang mengaitkan pandemi yang terjadi dengan teknologi 5G. "Jadi, kami tak mengikuti aturan atau mencari bantuan lebih cepat."

Keyakinannya itu runtuh pada awal Mei 2020. Ia dan istrinya, Erin, positif COVID-19 dan harus dirawat di rumah sakit. Kondisi Brian jauh lebih mendingan daripada pasangannya. Setidaknya ia masih bisa bicara lewat telepon.

Sang istri dalam kondisi kritis, tak sadarkan diri, menggunakan ventilator. Paru-parunya meradang, sementara tubuh pasien tak merespons upaya yang dilakukan paramedis.

"Dan kini aku menyadari, virus corona bukan hal palsu," kata Brian, dengan napas tersenggal. "Itu nyata dan sedang menyebar."

Pada Agustus 2020, Brian harus menghadapi kenyataan pahit. Ia selamat, namun istrinya meninggal dunia.

Brian mengaku mendapatkan kabar-kabar palsu soal COVID-19 lewat Facebook. Belakangan, ia menggunakan sosial media tersebut untuk menyadarkan banyak orang.


Termakan 'Nasihat' Donald Trump

Hydroxychloroquine adalah obat untuk mencegah dan mengobati penyakit malaria. Di tengah pandemi, produk itu naik daun, diklaim berpotensi melawan virus pemicu COVID-19, meski tanpa dasar hasil penelitian yang sahih.

Spekulasi soal hydroxychloroquine mulai berseliweran di media sosial China pada Januari 2020.

Pernyataan dari banyak tokoh, seperti Bos Tesla, Elon Musk dan Presiden Brasil Jair Bolsonaro kian bikin orang penasaran.

Hydroxychloroquine juga disebut-sebut di konferensi pers di Gedung Putih dan cuitan Donald Trump di Twitter. Saat itu, miliarder nyentrik itu masih berkuasa. Orang-orang pun kian yakin dibuatnya.

Presiden AS Donald Trump bersama Ibu Negara, Melania Trump menyaksikan  gerhana matahari dari balkon Gedung Putih di Washington, Senin (21/8). Trump tertangkap kamera menyaksikan fenonema langka tersebut tanpa kacamata pelindung. (NICHOLAS KAMM/AFP)

Masalahnya mereka menggunakan obat itu sembarang. Akibatnya bisa fatal. Di Nigeria, banyak orang dilarikan ke rumah sakit akibat keracunan hydroxychloroquine. Pihak berwenang pun segera mengeluarkan peringatan ke masyarakat.

Sementara, pada awal Maret 2020, seorang pria 43 tahun di Vietnam mengonsumsi chloroquine dalam dosis besar. Sontak, wajah dan badannya memerah, gemetar, dan tak bisa melihat dengan jelas.

Direktur klinik yang merawat korban, Dr Nguyen Trung Nguyen, mengatakan bahwa pasien itu beruntung segera mendapatkan perawatan dengan cepat. Jika tidak, nyawanya mungkin melayang.

Obat Malaria Hydroxychloroquine. (AP / John Locher)

Gary Lenius dan istrinya, Wanda juga jadi korban hoaks. Keduanya menenggak sejumlah bahan kimia berbeda yang berfungsi sebagai disinfektan.

Efeknya bahaya. Dalam beberapa menit keduanya mengalami pusing hebat, badan panas. Lalu, mereka muntah-muntah dan sulit bernapas.

Gary, yang sehari-hari bekerja sebagai petugas bersih-bersih meninggal dunia. Hanya Wanda yang lolos dari maut.

Perempuan itu mengungkapkan alasan mengapa mereka menenggak cairan pembersih. "Trump terus mengatakan bahwa itu bisa menyembuhkan," kata dia seperti dikutip dari BBC.

Tak hanya mereka yang termakan 'nasihat' Donald Trump. Sejumlah orang dilarikan ke rumah sakit setelah mengonsumsi disinfektan.


Keracunan Alkohol di Iran

Iran menjadi salah satu negara paling terdampak COVID-19. Sejak awal teori konspirasi menyebar di sana.

Hamad Jalali Kashani, aktivis sosial media sekaligus pembuat film dokumenter mengklaim bahwa COVID-19 sengaja digunakan untuk menakut-nakuti warga agar tak memberikan suara di pemilu. Belakangan, ia positif COVID-19 dan meninggal dunia pada Februari 2020.

Pimpinan Garda Revolusi Iran, Hossein Salami menunjuk Amerika Serikat sebagai dalang. "Kami akan menang dalam perang melawan virus, yang mungkin merupakan produk dari invasi biologis Amerika, yang pertama kali menyebar ke China dan kemudian ke Iran dan seluruh dunia," kata dia, tanpa memberikan bukti apapun, seperti dikutip dari DW.

Reaksi para pelayat saat pemakaman korban yang meninggal karena COVID-19 di sebuah pemakaman pinggiran Kota Ghaemshahr, Iran, 17 Desember 2020. Dalam beberapa hari terakhir angka infeksi virus corona COVID-19 di Iran turun 10 persen. (AP Photo/Ebrahim Noroozi)

Hoaks soal pengobatan COVID-19 juga makan korban dalam jumlah besar. Kali itu, alkohol, minuman yang dilarang di Iran, yang disebut-sebut bisa melawan virus corona, demikian seperti dikutip dari Al Jazeera.

Antara 20 Februari hingga 7 April 2020, ada 728 orang meninggal dunia akibat keracunan alkohol. Jumlah itu 10 kali lipat dari tahun sebelumnya.

Juru bicara Kementerian Kesehatan Iran, Kianoush Jahanpour menyebut, 5.011 orang lainnya mengalami masalah kesehatan akibat hal yang sama, 90 di antaranya kehilangan penglihatan atau atau mengalami kerusakan pada mata.

Investigasi BBC menemukan, klaim bahwa alkohol bisa menyembuhkan COVID-19 beredar di aplikasi Telegram.

Dalam sebuah kasus terverifikasi, anak berusia 5 tahun tak lagi bisa melihat setelah diberi minuman alkohol oleh orangtuanya. Mereka termakan hoaks.


Hoaks Menyebar Secepat Virus

Hingga kini belum ada data teranyar soal berapa orang yang dilarikan ke rumah sakit atau bahkan meninggal akibat hoaks COVID-19.

Pada Agustus 2020, penelitian yang dimuat American Journal of Tropical Medicine and Hygiene memperkirakan setidaknya 5.800 orang dilarikan ke rumah sakit akibat termakan hoaks COVID-19. Kasus kematian akibat keracunan alkohol mendominasi.

Ilustrasi Covid-19 (Arfandi Ibrahim/Liputan6.com)

Badan Kesehatan Dunia (WHO) sebelumnya mengatakan bahwa 'infodemik' seputar COVID-19 menyebar secepat virus itu sendiri. Teori konspirasi, desas-desus, dan stigma budaya, dan lain-lain berkontribusi pada kematian dan cedera.

Rumor di internet memicu penghakiman massa di India dan keracunan massal di Iran. Insinyur telekomunikasi diancam, diserang. Pun dengan tiang-tiang telepon yang dibakar gara-gara isu 5G.

Sosial media juga digunakan para penipu menjual produk yang diklaim sebagai obat COVID-19 atau ramuan yang konon bisa mencegahnya.

(Ein)

Spageti yang Tumbuh di Pohon

Tayangan Hoaks Panen Spageti Bikin Geger Warga Inggris

Liputan6.com 2021-06-30 17:00:37
6 Cara Makan Spageti ala Orang Indonesia Ini Bikin Geleng Kepala (sumber: 1cak)

Stasiun televisi Inggris, BBC pada 1 April 1957 menayangkan seorang perempuan sedang memanen spageti di Ticimo, Swiss. Dengan teliti, si perempuan itu memetik setiap helai pasta itu dari pohon dan meletakkannya ke dalam baskom lalu mengeringkannya.

Mi asal Italia itu bisa langsung disantap. Atau yang menginginkan kelezatan ganda, bisa menambahkannya bumbu dan minyak zaitun.

"Bagi mereka yang menyukai makanan itu, spageti yang ditanam sendiri tak ada tandingannya," kata sang penyiar berita, Richard Dimbleby, seperti dikutip dari BBC.

Dimbleby menjelaskan, bahwa saat Maret tiba, spageti dalam kondisi kritis lantaran bunga es pada awal musim bisa merusak hasil panen para petani itu.

Dia menambahkan, spageti bisa tumbuh dengan panjang yang sama berkat kerja keras para petani dari generasi ke generasi.

Spageti bisa tumbuh? Tentu saja itu tidak benar, meski dokumenter itu ditayangkan dalam program Panorama yang merupakan acara serius dalam stasiun berita Inggris itu.

Saat itu, spageti belum dikonsumsi secara luas oleh warga Inggris. Makanan itu pun masih menjadi hidangan eksotis yang nyatanya bisa menipu pemirsa saat itu.

Saking penasarannya mereka mencari tahu bagaimana caranya bisa mendapatkan bibit tanaman itu dan menumbuhkannya. Jawabannya, "Letakkan spageti kering di kaleng tomat dan berharap yang terbaik," demikian dikutip dari Mirror.

Sementara itu, mereka yang mengetahui tayangan itu hanya tipuan, mengkritik keras BBC. Maklum, program tersebut biasanya menayangkan berita faktual.

Tayangan panen spageti itu menjadi pemantik bagi media lain di seantero dunia untuk menayangkan April Mop, dengan gaya dan racikan yang berbeda dengan tujuan yang tak jauh berbeda: membuat jengkel.


Stoking Ajaib dari Swedia

Melompat ke acara TV di Swedia. Pada 1962, negara itu hanya punya satu stasiun TV, SVT (Sveriges Television), yang ditonton dari layar hitam putih.

Lewat salah satu tayangan, diumumkan bahwa seorang ahli teknik Swedia, Kjell Stensson menemukan cara jitu mengubah layar hitam putih menjadi berwarna dengan seketika.

Kata Kjell mengatakan kepada pemirsa bahwa menutup layar TV dengan stoking nilon bisa membuat cahaya berpendar sedemikian rupa sehingga menampilkan warna-warna. Cukup siapkan gunting dan plester.

Lalu, cari sudut pandang yang pas agar warna terpampang jelas. Penjelasan disampaikan dengan melibatkan sains, hingga terdengar meyakinkan.

Ribuan pemirsa mengikuti tips itu, menggunting stoking dan menempelkannya pada layar. Tapi, keajaiban tak datang meski penonton sibuk memiringkan kepala, ke kanan lalu ke kiri, mencari posisi yang pas agar bisa menangkap warna. Mereka tak sadar kena tipu!

Sejumlah orang masih ingat adegan lucu saat orangtua mereka cepat-cepat mencari stoking untuk menutupi televisi, mereka sibuk memiringkan kepala setelahnya.

Empat tahun kemudian, saat April Mop 1966, SVT berusaha melakukan uji coba siaran berwarnanya. Tayangan televisi berwarna mulai di Swedia pada 1 April 1970.

Tayangan tipuan lainnya, juga dikabarkan BBC, adalah tampilan jam Big Ben akan diganti, dari menggunakan jarum ke digital pada 1 April 1980.

BBC Jepang juga mengabarkan jarum jam akan dilelang untuk 4 pendengar pertama yang mengontak pihak mereka. Salah satu yang kena tipu adalah pelaut Negeri Sakura, yang segera menelepon meski berada di tengah Samudera Atlantik.


Gunung Es

Dari stoking, kita beranjak ke negeri kanguru, Australia. Beredar kabar bahwa orang bisa melihat gunung es dari Sydney Harbour pada April 1978.

Petualang sekaligus pebisnis sukses Dick Smith, sesumbar akan menarik gunung es dari Antartika. Bongkahan besar itu akan dipecah jadi kubus-kubus kecil dan satunya dijual 10 sen.

Konon, es batu dari air murni Antartika itu akan meningkatkan rasa setiap minuman yang didinginkannya. Heboh pun terjadi, stasiun radio setempat ramai mengabarkan berita itu.

Hingga akhirnya hujan pun turun menguak fakta sebenarnya. Air yang turun dari langit mengikis es yang ternyata hanya busa pemadam kebakaran hingga menyisakan lembaran plastik putih yang dijadikan alasnya.

Kemudian, pada 1 April 1972, media di seluruh dunia mengumumkan temuan bangkai monster Loch Ness yang mengambang di air. Ternyata itu adalah gajah laut yang telah mati.

Media terkemuka Guardian tak ketinggalan melempar guyon. Pada 1977, mereka memublikasikan tentang San Serrife, negara kecil di Samudera Hindia yang terdiri dari sejumlah pulau hingga berbentuk mirip titik koma (semicolon). Dua pulau terbesarnya disebut Upper Caisse dan Lower Caisse.

Laporan dibuat meyakinkan, dilengkapi artikel sejarah, geografi, dan keseharian hidup warga di tengah pemandangan yang indah.

Akibatnya, telepon Guardian berdering sepanjang hari, para pembaca menuntut penjelasan tentang lokasi destinasi liburan yang terdengar sempurna itu.

Yang juga tak kalah heboh adalah, gambar mumi 'peri' sepanjang 8 inchi yang diunggah situs Lebanon Circle Magik Co. Akibatnya pada 1 April 2007, situs tersebut menerima puluhan ribu pengunjung dan ratusan e-mail.

Belakangan pemilik situs, Dan Baines mengaku itu adalah tipuan belaka. Meski telah berkata jujur, masih banyak orang yang menghubunginya, mereka menolak fakta bahwa peri itu nyatanya tak ada.


Sejarah April Mop

Ada banyak versi tentang asal usul April Mop, yang juga dikenal sebagai April Fools' Day atau All Fools' Day. Warga Inggris mulai merayakannya pada 1 April 1700. Pada hari itu, orang-orang saling iseng, berbohong, atau melempar lelucon hingga tengah hari, tanpa harus merasa bersalah atau dipersalahkan.

Sejumlah sejarawan berspekulasi bahwa April Mop bisa ditelusuri pada 1582 ketika Prancis mengganti kalender, dari Julian menjadi Gregorian.

Pada Abad Pertengahan, tahun baru dirayakan pada tanggal 25 Maret di seluruh Eropa. Di sejumlah lokasi di Prancis, perayaannya bahkan hingga 1 April.

Setelah Raja Charles IX mengganti kalender, tahun baru dipindah jadi 1 Januari. Mereka yang tetap merayakan tahun baru di musim semi, atau lupa soal pergantian kalender itu dijuluki 'Poisson d'avril' atau 'April Fish' -- simbol orang yang gampang dikibuli.

Sejarawan juga mengaitkan April Mop dengan festival kuno seperti Hilaria -- yang dirayakan di Roma pada akhir Maret. Orang-orang yang datang diwajibkan memakai pakaian yang mengaburkan identitasnya.


Saksikan Video Menarik Berikut Ini

Raksasa Palsu yang Menipu Amerika

Giant Cardiff, Kisah Kebohongan Terbesar Amerika Abad 19

Liputan6.com 2021-06-29 07:00:35
Sosok raksasa Cardiff Giant ditemukan di New York pada 16 Oktober 1869 (Wikipedia/Public Domain)

Sosok makhluk menyerupai manusia, tetapi bertubuh besar diyakini pernah menginjakkan kaki di muka bumi. Bukti autentik tentang keberadaan makhluk misterius itu belum pernah ada. Namun, pada sejumlah legenda dan penafsiran kitab suci sempat berkisah mengenai hal itu.

Suatu hari di "Stub" Newel di Cardiff, New York terjadi geger luar biasa. Pada 16 Oktober 1869, dua orang pekerja, Gideon Emmons dan Henry Nichols, menemukan hal aneh saat menggali sumur di belakang gudang milik William C.

Mereka menemukan sosok seperti manusia, tetapi berukuran sangat besar, tingginya mencapai 3 meter. Saat itu, makhluk aneh itu dalam keadaan beku. Tak lama setelah kejadian, ratusan orang berdatangan untuk mencari tahu kebenarannya.

Warga pun datang dalam keadaan heran yang amat sangat. Makhluk itu memang ada di tempat itu. Makhluk dengan kaki yang juga berukuran besar itu diklaim merupakan nenek moyang jauh dari suku asli Onroaga Iroguois. Temuan itu pun kemudian mendapat julukan Cardiff Giant.

Temuan sosok raksasa itu diklaim sebagai penemuan arkeologi paling besar sekaligus penting abad 19. Ahli geologi James Hall dan ilmuwan Rochester University, Henry Ward ikut menyatakan kekagumannya.

"Para pria meninggalkan pekerjaan mereka," demikian dilaporkan Syracuse Journal seperti dikutip dari History. "Para ibu segera menggendong bayi dan anak mereka, cepat-cepat menuju ke lokasi temuan."

Antusias warga sangat tinggi akan keberadaan makhluk raksasa itu. Sang pemilik lahan, Newell lalu melindungi raksasa itu dengan sebuah tenda putih dan mulai menagih 50 sen untuk masuk.

Sekitar 2.500 orang datang pada pekan pertama setelah penemuan. Pameran terus dibuka hingga sejumlah pengusaha muncul dan membelinya dengan harga mahal.

Seperti dikutip dari The Vintage News, belakangan, kenyataan pun terkuak. Temuan tersebut sama sekali bukan jasad raksasa yang membeku oleh waktu, melainkan patung yang terbuat dari gipsum.

Raksasa palsu itu sudah diletakkan di lahan pertanian milik Newell, setahun sebelum akhirnya 'ditemukan'. Ternyata, adalah kabar bohong alias hoaks yang menjadi muasal kehebohan.

Otak di balik penipuan tersebut ternyata adalah sepupu pemilik lahan bernama George Hull.

Hull sendiri bukan orang berada. Dirinya bahkan tak pernah mencicipi bangku sekolah. Sehari-hari, pria itu memenuhi kebutuhannya dengan menjajakan tembakau.

Tapi, Hull juga seorang ateis dan punya antusiasme pada sains--pada zaman ketika orang-orang berpendirian seperti dirinya tak diterima masyarakat.

Suatu ketika, ia berniat melakukan sesuatu, untuk mengguncang para penganut agama: dengan menciptakan kebohongan dan mengambil manfaat ekonomi dari sana.

Motif Hull murni uang. Dengan kejadian itu, dirinya meraup keuntungan sebesar US$ 20.000. Saat itu, uang sebesar itu tentu menggiurkan. Terlebih, bagi seorang pekerja yang tak pernah mengenyam pendidikan sekolah.


Kepalsuan Hull Terkuak

Berita mengenai Giant Cardiff menyebar bagai jamur di musim hujan. Jasad besar itu akhirnya mengundang sejumlah pengusaha untuk membelinya. Dengan harapan, jasad raksasa itu dapat menghasilkan uang lebih banyak lewat pameran.

Pemeran demi pameran berlangsung meriah. Hingga suatu ketika, seorang insinyur pertambangan mengatakan bahwa gipsum pembuatnya cepat rusak di lahan pertanian milik Newell yang lembab.

Sementara, ahli paleontologi Yale yang terkenal, Otniel Charles Marsh hanya butuh sesaat untuk menyatakan bahwa 'raksasa' tersebut masih sangat baru. "Itu omong kosong belaka," kata dia.

Meski begitu, euforia masyarakat belum surut. Raksasa itu ternyata juga menarik perhatian PT Barnum, pria yang memproklamasikan diri sebagai Pangeran Humbugs, yang antusias membeli artefak apa pun, tidak peduli apakah palsu atau asli, untuk ditampilkan dalam museum miliknya, American Museum di New York.

Namun, usaha Barnum gagal saat hendak membeli artefak palsu tersebut. Giant Cardiff tidak dilepas oleh para pengusaha yang menguasai kepemilikannya.

Melepas Giant Cardiff sama dengan menghentikan mesin uang yang telah mencetak banyak dolar.

Kesal karena tak bisa mendapatkannya, Barnum pun membuat replika dan memamerkannya pada orang-orang sebagai 'Giant Cardiff yang asli'.

Perselisihan pun muncul. Para pengusaha menggugat Barnum. Hakim yang menangani kasus tersebut mengeluarkan pernyataan cerdik.

"Bawa raksasa milik Anda ke sini, dan buat dia bersumpah sebagai yang asli," demikian kata hakim, seperti diungkap Mark Rose, kontributor topik tersebut untuk Archaeology.org.

Maksudnya, hakim menegaskan, tak masuk akal bagi penggugat membuat tuduhan tentang sesuatu yang sudah palsu sejak awal.

Hull kemudian akhirnya mengaku, bahwa Giant Cardiff adalah tipuan belaka.

Pada tanggal 2 Februari 1870, Chicago Tribune menerbitkan sebuah berita tentang tipuan tersebut, yang menampilkan kesaksian dari pemahat patung raksasa itu.

Giant Cardiff adalah salah satu tipuan paling terkenal dalam sejarah Amerika. Pertanyaannya, mengapa sampai butuh waktu berbulan-bulan bagi warga untuk menyadarinya?


Perbesar

Disney kini tengah mengembangkan film bertema Charles Darwin dengan gaya petualangan ala Indiana Jones.

Tipuan Giant Cardiff muncul 10 tahun setelah terbitnya buku On the Origin of Species karya Charles Darwin, yang menawarkan gagasan baru dan signifikan pada masyarakat: evolusi.

Orang-orang kala itu sangat tertarik dengan topik seperti evolusi dan fosil.

Di sisi lain, ilmu arkeologi masih dalam tahap perkembangan awal. Belum ada metode pembuktian terhadap temuan purbakala seperti yang ada saat ini.

Hingga saat ini, Giant Cardiff masih bisa dilihat secara langsung. Patung itu disimpan di Farmers Museum di Cooperstown, New York.


Saksikan Video Menarik Berikut Ini

Penampakan Monster Nessie

Menguak Misteri Kemunculan Makhluk Besar di Dataran Tinggi Skotlandia

Liputan6.com 2021-06-30 16:00:24
10 Kebohongan Besar yang Mengejutkan Dunia (Wikipedia)

Publik internasional sempat digegerkan dengan kemunculan makhluk besar di sekitar Loch Ness, danau perairan dalam yang berada di Dataran Tinggi Skotlandia.

Makhluk diduga reptil air prasejarah itu disebut plesiosaurus-atau ikan raksasa air tawar seperti sturgeon. Bahkan, seorang pekerja kehutanan dan petugas pemadam kebakaran di Drumnadrochit, Ross MacAulay telah menjalani seluruh hidupnya di sekitar Loch Ness.

Namun, Ross sekarang harus mempertimbangkan kembali keraguannya setelah memotret makhluk yang kelihatannya berukuran 12 kaki di ponselnya.

Pria berusia 35 tahun itu mengkau telah menangkap penampakan pertama Nessie di Loch Ness pada ponselnya. Tepat pada 8 Juli, saat Ross mengemudi tepat di luar Fort Augustus, dia melihat ke air, sekitar 200 kaki di bawah jalan dan menemukan sesuatu yang aneh.

"Ada beberapa kayak (perahu kecil bertenaga manusia), tetapi 100 meter di depan kayak tersebut ada sesuatu di bawah permukaan," jelasnya.

Ross pun mulai memperhatikannya selama lima menit. Ia memperhatikan makhluk tersebut yang tidak ada leher panjang, tidak ada kepala, hanya punuk.

Ia memperkirakan panjangnya sekitar 12 kaki dan lebar 4 kaki. Loch Ness berwarna abu-abu muda tersebut pun turun ke bawah air lalu naik lagi dan kemudian menghilang.

Makhluk yang biasa disebut Nessie itu kerap digambarkan memiliki tubuh besar seperti dinosaurus, leher panjang, dengan satu atau dua punuk yang menonjol dari air.

Kepercayaan populer terhadap Nessie bervariasi sejak isu ini pertama dibawa ke ranah publik dunia pada 1933. Bukti keberadaannya dianggap anekdotal, dengan beberapa foto yang juga disebut hoaks.

Komunitas ilmiah menganggap monster Loch Ness sebagai fenomena tanpa dasar biologis. Mereka pun menegaskan bahwa penampakan Nessie hanyalah tipuan semata, angan-angan, dan kesalahan identifikasi objek-objek duniawi.

Ahli genetika Neil Gemmell dari Otago University di Selandia Baru mengatakan, sebuah survei DNA lingkungan yang diambil dari Loch Ness tidak menemukan tanda-tanda "monster" yang dimaksud.

Para peneliti Selandia Baru membuat catatan menyeluruh terhadap seluruh spesies yang hidup di Danau Ness dengan menarik DNA dari contoh air danau.

Loch Ness juga bukan rumah bagi Nessie si dinosaurus air, sebuah teori yang digunakan untuk menjelaskan sosok misterius yang dilaporkan telah dilihat beberapa kali sejak 1930-an.

Gemmell mengatakan, jejak DNA lebih dari 3.000 spesies yang hidup di sekitar atau di dalam Loch Ness termasuk ikan, rusa, babi, burung, manusia, dan bakteri tidak menampakkan bukti keberadaan "monster".

"Kami tidak menemukan si reptil raksasa. Kami tidak menemukan reptil sama sekali," kata Gemmell kepada Live Science.

"Kami menguji berbagai sampel tentang ikan sturgeon raksasa atau ikan lele yang mungkin ada di sini dari waktu ke waktu, tetapi kami juga tidak menemukan itu," imbuhnya.

Satu hal yang peneliti temukan adalah bahwa Loch Ness berisi banyak belut. Selain itu, para ilmuwan menambahkan, penampakan Nessie mungkin adalah penampakan belut yang tumbuh terlalu besar. Meskipun teori ini kemungkinannya sangat kecil.


Romawi

Monster Loch Ness muncul saat orang-orang Romawi datang ke Skotlandia utara pada abad pertama Masehi. Mereka menemukan dataran tinggi itu dihuni suku-suku yang ganas, dengan tubuh penuh tato yang disebut Picts.

Makhluk misterius tersebut punya paruh atau moncong, kepalanya bulat, dan ia punya sirip alih-alih kaki. Sejumlah orang mendeskripsikannya sebagai 'gajah berenang'.

Meski berpenampilan sangar, suku Picts adalah penyayang binatang. Sejumlah gambar hewan diukir dalam monumen batu. Hampir semua bisa dikenali, kecuali satu.

Seperti dikutip dari www.pbs.org, penggambaran hewan suku Picts menjadi bukti paling awal terkait mitos yang telah bertahan setidaknya selama 1.500 tahun. Makhluk tersebut berada di dataran Tinggi Skotlandia (Scottish Highlands): bahwa Danau Loch Ness adalah rumah bagi hewan air misterius atau bahkan monster.

Dalam legenda Skotlandia, hewan-hewan raksasa dikaitkan dengan sejumlah perairan, dari aliran sungai hingga danau besar, yang kerap dilabeli sebagai Loch-na-Beistie di peta lama.

Konon, makhluk-makhluk tersebut punya kekuatan magis dan niat jahat. Dengan kedok menawarkan tunggangan di punggungnya, mereka membawa anak-anak ke dalam air.

Referensi tertulis terkait makhluk Loch Ness ada dalam biografi Saint Columba, pemuka agama yang disebut berjasa menyebarkan agama Kristen ke Skotlandia.

Pada 22 Agustus 565, berdasarkan keterangan Adomnan, Kepala Biara Iona kesembilan, Saint Columba sedang dalam perjalanan untuk mengunjungi raja suku Pict ketika dia berhenti di sepanjang pinggiran Loch Ness.

Melihat seekor binatang besar akan menyerang seorang pria yang sedang berenang di danau, Columba mengangkat tangannya, memanggil nama Tuhan dan memerintahkan monster itu untuk berbalik cepat.

"Jangan pergi lebih jauh, atau sentuh orang itu, kembali secepat mungkin," kata Saint Columba, seperti dikutip dari www.smithsonianmag.com.

Konon, hewan itu menurut, dan perenang itu diselamatkan. Sejak saat itu, muncul legenda monster Loch Ness. Namun, kisah dalam biografi yang ditulis lebih dari 100 tahun setelah kematian Saint Columba diragukan para ilmuwan.

Apalagi, setelahnya, penampakan monster Loch Ness 'tak terlihat' hingga 1.368 tahun lamanya.


Saksikan video pilihan berikut ini

Mereka yang Mengaku Putri Anastasia

Swafoto Pertama di Dunia Sesaat Sebelum Jatuhnya Kekaisaran Rusia

Liputan6.com 2021-07-01 01:00:28
Grand Duchess Anastasia Nikolaevna. (Wikipedia)

Swafoto kerap menjadi salah satu cara mengekspresikan diri seseorang. Belakangan swafoto banyak dijadikan bahan untuk eksis di media sosial.

Namun, siapa sangka, swafoto diperkirakan sudah pernah dilakukan sejak zaman sebelum era teknologi. Seperti yang dilakukan Grand Duchess Anastasia Nikolaevna, putri keempat Tsar Nicholas II yang merupakan penguasa terakhir Kekaisaran Rusia.

"Aku mengambil foto ini sendiri, menghadap ke cermin. Sangat sulit karena tanganku bergetar," kata dia, seperti Liputan6.com kutip dari Daily Mail, Selasa (29/6/2021).

Anastasia diduga mengambil foto dirinya sendiri pada tahun 1913, lima tahun sebelum kematiannya yang tragis. Anastasia mengambil foto dirinya menggunakan Kodak Brownie yang dirilis pada tahun 1990.

Di depan sebuah cermin, Anastasia mengabadikan citra dirinya yang kala itu berusia 13 tahun. Ia terlihat menatap dirinya dengan rasa ingin tahu.

Bisa jadi, Anastasia merupakan remaja pertama yang punya swafoto, dengan susah payah menstabilkan kamera itu di atas sebuah kursi. Sambil mengatur fokus melalui jendela bidik di bagian atas kotak.

Foto tersebut kemudian dikirim kepada seorang teman Anastasia pada tahun 1914. Berdasarkan situs Alexander Palace Time Machine, Anastasia menulis dan mengirim foto tersebut pada tanggal 28 Oktober 1914.

Namun, kejadian nahas menimpa dirinya, Anastasia tewas saat keluarganya dibantai oleh anggota Cheka, polisi rahasia Bolshevik pada 17 Juli 1918. Dia adalah adik dari Grand Duchess Olga, Grand Duchess Tatiana, dan Grand Duchess Maria. Sekaligus kakak dari Alexei Nikolaevich, Tsarevich atau pangeran Rusia.

Pada 6 Februari 1928, seorang perempuan yang mengaku sebagai Anastasia Tschaikovsky mengklaim sebagai putri bungsu sang Tsar dan menggelar konferensi pers di New York.

Di depan wartawan, perempuan tersebut mengaku berada di AS untuk memperbaiki rahangnya yang konon patah oleh tentara Bolshevik saat lari dari lokasi eksekusi di Ekaterinburg, Rusia.

Ia disambut hangat oleh Gleb Botkin, putra dokter keluarga Kekaisaran Romanov yang dieksekusi pada 1918. Botkin memanggil Anastasia Tschaikovsky sebagai 'Yang Mulia' dan mengklaim bahwa perempuan itu adalah Grand Duchess Anastasia teman mainnya saat kecil.


Kejatuhan Kekaisaran Rusia

Antara tahun 1918-1928, sudah lebih dari setengah lusin perempuan muncul, mengklaim berhak atas harta peninggalan Dinasti Romanov di sejumlah Bank Eropa.

Beberapa wartawan Amerika skeptis terhadap klaim Anastasia Tschaikovsky. Grand Duke of Hesse, paman Anastasia, menyewa detektif swasta untuk mengungkap identitas asli Anastasia Tschaikovsky. Hasilnya, dia sejatinya adalah Franziska Schanzkowska, pekerja pabrik keturunan Polandia - Jerman dari Pomerania yang menghilang pada 1920. Schanzkowska memiliki sejarah ketidakstabilan mental dan terluka dalam ledakan pabrik tahun 1916.

Temuan ini diterbitkan di surat kabar Jerman tetapi tidak terbukti secara definitif. Namun, uji DNA yang dilakukan terakhir mengonfirmasi bahwa ia tak punya kaitan darah dengan Romanov.

Anastasia menjadi subjek legenda yang tak terhitung jumlahnya selama hampir 100 tahun. Banyak orang mengaku sebagai dirinya, dibumbui film-film Hollywood yang mengisahkan dugaan ia berhasil melarikan diri dari pembantaian.

Dugaan tersebut dipicu fakta bahwa lokasi ia dimakamkan tidak diketahui pasti. Anastasia menjadi bagian dari salah satu misteri besar abad ke-20. Diawali kejatuhan Kekaisaran Rusia. Pada 1917, kaum revolusioner memaksa Tsar Nicholas II mundur, lalu memenjarakannya beserta keluarga di Istana Czarskoye Selo dan lalu dibawa ke Ekaterinburg di Pegunungan Ural.

Perang sipil pun pecah, khawatir pasukan anti-Bolshevik menyelamatkan keluarga sang kaisar, otoritas setempat menjatuhkan hukuman mati. Seperti Liputan6.com kutip dari History.com, sesaat setelah tengah malam, 17 Juli 1918, kaisar dan keluarganya beserta dokter keluarganya Botkin dipaksa berpakaian lengkap.

Mereka disuruh berbaris, dan difoto di ruang bawah tanah. Alasannya, untuk memadamkan rumor bahwa mereka telah melarikan diri. Tiba-tiba, hampir selusin orang bersenjata menyerbu masuk ke ruangan dan memberondong keluarga kekaisaran.

Asap mengepul dari senapan. Mereka yang masih bernafas ketika asap menghilang, ditikam sampai mati. Para algojo kemudian membawa jasad-jasad itu ke sebuah tambang, sekitar 14 kilometer dari Ekaterinburg, membakar mereka dalam api unggun berbahan bakar bensin.

Tulang-belulang disiram cairan asam agar hancur. Apa yang kemudian tersisa dilemparkan ke dalam lubang tambang, yang ditutupi dengan kotoran.

Jasad keluarga Romanova diekskavasi pada 1991, diidentifikasi secara formal dengan sampel DNA, dan dimakamkan kembali di Katedral St Petersburg pada 1998.

Namun, antropolog saat itu ragu soal tubuh Anastasia sisi kiri wajahnya rusak menjadi potongan-potongan kecil. Kemudian, pada 2007, jasad gadis kecil dan seorang anak ditemukan di Porosenkovsy Meadow dan diidentifikasi sebagai Grand Duchess Maria dan Aleksey.

Akhirnya jenazah Tsar terakhir, istri, dan 5 anaknya lengkap. Namun, benarkah misteri berakhir?


Saksikan video pilihan berikut ini

Crop Circle, Bukti Alien?

Deretan Informasi Hoaks Terbesar Dunia, dari Alien Hingga Hitler

Liputan6.com 2021-07-01 05:00:25
10 Kebohongan Besar yang Mengejutkan Dunia (Wikipedia)

Kabar bohong atau hoax menimbulkan keresahan masyarakat. Bahkan, muncul spekulasi dan kekhawatiran akan terjadi sesuatu di kemudian hari dari hoax yang beredar.

Bahkan, informasi hoax pernah membuat masyarakat internasional gempar. Mulai dari kemunculan crop cirle hingga autopsi alien.

Berikut 10 daftar informasi hoax yang dikutip Liputan6.com dari Herald Sun:

Invasi Alien

Kabar keberadaan Alien di bumi masih menjadi polemik hingga saat ini. Bahkan, banyak akademisi dunia dari berbagai bidang terus mencoba membuktikan keberadaan alien.

Hingga pada tahun 1938, beredar kabar alien melakukan invasi di bumi dan menimbulkan kepanikan. George Orson Welles dikenal karena siaran drama radionya pada 30 Oktober 1938 dengan cerita The War of the Worlds karya H. G. Wells. Bumi diserang makhluk Mars!

Drama itu disampaikan sedemikian rupa hingga kedengarannya seperti sebuah siaran berita kontemporer ini menimbulkan kepanikan sejumlah besar pendengarnya. Welles pun panen kecaman dari masyarakat dan media lainnya.

Otopsi Alien

Masih seputar Alien, pada 8 Juli 1947 silam, insiden menghebohkan terkait unidentified flying object (UFO) terjadi di Roswell, New Mexico.

Di tengah badai besar, ditemukan sebuah pesawat berbentuk mirip piring terbang, kondisinya rusak parah. Ada tiga jasad mirip manusia berpakaian metalik di sekitarnya.

Seorang pebisnis Inggris mengklaim menemukan film lawas yang diklaim merekam detik-detik kecelakaan pesawat di Roswell. Ia juga mengklaim mendapatkan rekaman otopsi jasad alien.

Pada tahun 2006, si pebisnis mengaku film tersebut tidak asli alias hoax, melainkan rekonstruksi rekaman yang pernah ia lihat.


Penampakan Peri

Pada tahun 1917, jauh sebelum Photoshop dan efek canggih dalam film ditemukan, serangkaian foto menunjukkan penampakan peri.

Foto-foto itu diambil di Bradford, Inggris oleh dua gadis muda Elsie Wright yang kala itu berusia 16 tahun dan Frances Griffiths yang masih 9 tahun.

Gambar-gambar itu jadi ramai jadi perhatian saat penulis terkenal Sir Arthur Conan Doyle, menggunakannya sebagai ilustrasi artikelnya di The Strand Magazine edisi Natal 1920 -- yang membahas soal peri.

Heboh pun terjadi, sejumlah orang percaya gambar itu asli, lainnya skeptis dan menduga itu palsu.

Pada tahun 1980-an, salah satu dari 2 gadis tersebut mengaku foto-foto tersebut palsu, peri-peri itu dibuat dari potongan kertas dan dipasang dengan menggunakan jepitan rambut. Meski demikian, ia bersikukuh salah satu gambar asli.


Monster Loch Ness

Terkenal sebagai 'Surgeon's Photo', foto lawas tersebut adalah foto yang diklaim penampakan monster Loch Ness paling terkenal sepanjang masa. Foto hitam putih itu dijepret tahun 1934, oleh seorang dokter bedah terkemuka, Kolonel Robert Wilson. Selama beberapa dekade, gambar itu diyakini sebagai bukti keberadaan makhluk misterius itu.

Hingga akhirnya 60 tahun kemudian, fakta tentang foto itu terkuak. Christian Spurling di usia ke-90 tahun pada tahun 1994 mengaku membuat monster palsu menggunakan kapal selam mainan atas permintaan ayah mertuanya, Marmaduke Wetherell.

Wetherell, seorang pemburu, merasa terhina saat 'jejak kaki monster' yang ia temukan pada Desember 1933 ternyata adalah tapak kaki kuda nil.


Crop Circle

Crop circle atau lingkaran tanaman sudah lama jadi teka-teki. Apakah bentuk aneh itu disebabkan pendaratan piring terbang? Atau cuaca yang aneh?

Crop circle menjadi salah satu misteri besar pada tahun 1970-an hingga 1980-an. Para ahli ramai-ramai menebak siapa yang bertanggungjawab menciptakan pola rumit tapi teratur itu di ladang-ladang gandum.

Belakangan terkuak, crop circle tak lain tak bukan adalah kerjaan orang iseng. Pasangan asal Inggris, Doug Bower dan Dave Chorley akhirnya muncul dan mengaku bertanggung jawab atas serangkaian kemunculan lingkaran tanaman itu.

Pasangan itu mengaku mulai membuat crop circle pada tahun 1978, sebagai lelucon, setelah salah satu dari mereka mendengar tentang kemunculan lingkaran tanaman di Tully, Queensland. Crop circle dibuat menggunakan papan, tali, dan sejumlah peralatan lain.

Fenomena crop circle yang tercatat dalam sejarah pertama kali muncul di Inggris pada 1647. Namun Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) menepis dugaan keterkaitannya dengan alien.

"Crop circle dibuat oleh manusia sebagai lelucon," jawab ilmuwan senior NASA, David Morrison seperti dimuat laman astrobiology.nasa.gov.

Kata Morrison, itu adalah pertanyaan yang mudah dijawab. "Karena pelaku aslinya telah mengaku dan menunjukkan bagaimana mereka melakukannya," tambah dia.

Crop circle atau lingkaran tanaman biasanya muncul di ladang gandum, barley, jagung, atau sawah padi. Fenomena crop circle yang tercatat dalam sejarah pertama kali muncul di Inggris pada 1647.

Sementara, seperti dimuat situs Bizarrebytes.com, sekitar 80 persen formasi crop circle secara ilmiah terbukti hanya kabar bohong atau hoax.

Sementara 20 persennya belum diketahui penyebab pastinya -- apakah kerjaan alien, konspirasi pemerintah, atau karena faktor cuaca.


Microsoft Beli Gereja Vatikan

Sebuah kabar menyebar di dunia maya pada tahun 1994. Kabar tersebut menyebutkan bahwa raksasa internet Microsoft telah membeli Gereja Katolik.

"MICROSOFT Corp. dan Vatikan mengumumkan bahwa raksasa perangkat lunak dari Redmon akan mengakuisisi Gereja Katolik Roma sebagai dalam pertukaran saham MICROSOFT untuk jumlah yang tidak ditentukan. Jika kesepakatan dihasilkan, maka ini adalah kali pertamanya perusahaan komputer-sofware mengakuisisi sebuah agama besar dunia," demikian kabar yang beredar.

Artikel tersebut juga menyertakan pernyataan yang diklaim dari Bill gates. "Kami berharap banyak dari pertumbuhan di pasar agama dalam lima sampai sepuluh tahun ke depan. Gabungan sumber daya dari MICROSOFT dan Gereja Katolik akan membuat agama makin mudah dan lebih menyenangkan bagi banyak orang."

Saat rumor merebak di internet, Microsoft mengeluarkan pernyataan bahwa informasi itu bohong belaka.


Putri Duyung Fiji

Pada tahun 1842 seorang pebisnis hiburan bernana PT Barnum bikin geger saat menampilkan makhluk aneh, dengan kepala dan tubuh monyet, tapi berekor ikan.

Ia menyebutnya sebagai Fiji Mermaid, putri duyung dari Fiji, yang diklaim ditangkap di perairan pulau tersebut.

Ribuan orang berduyun-duyun mendatangi pameran makhluk aneh itu di Concert Hall, Broadway, New York.

Mereka yang datang kecewa, sebab, penampakan 'putri duyung' tak secantik di pamflet. Mengerikan bahkan. Dengan mulut terbuka, memamerkan gigi-giginya.

Sebelum memajang putri duyung itu, Barnum telah berkonsultasi dengan ilmuwan, mencari tahu apakah makhluk itu asli. Jawabannya tidak. Maka, ia membayar orang untuk berpura-pura sebagai ahli dan meyakinkan publik soal keasliannya.

Lalu, apa sebenarnya putri duyung itu? Diduga itu adalah buatan manusia, bentuk kesenian Jepang pada awal 1800-an.


Horor Amityville

Sebuah tempat tinggal menjadi TKP pembunuhan massal. Pemilik rumah, Ronald DeFeo, Jr menembak mati 6 anggota keluarganya. Bangunan itu lalu jadi rumah kosong.

Lalu, 13 bulan kemudian, George Lutz dan keluarganya pindah ke rumah yang beralamat di 112 Ocean Avenue, Amityville itu pada tahun 1976.

Mereka hanya bertahan 28 hari, konon karena diteror serangkaian peristiwa aneh: pintu depan yang tiba-tiba terbanting sendiri, tempat tidur anak-anak bergerak naik dan turun secara misterius.

Lalu, sebuah buku yang mengklaim berdasarkan kisah nyata beredar. Tentang rumah hantu itu. Judulnya, 'The Amityville Horror - A True Story'.

Pada tahun 1979, pengacara lokal muncul mengaku sebagai pihak yang mengarang cerita-cerita itu, dengan bayaran beberapa botol anggur.

Sejak keluarga Lutz membiarkan rumah tersebut pada 1976, para pemilik selanjutnya melaporkan bahwa tidak ada masalah dengan mereka, tidak ada kesulitan selama mereka tinggal di sana.


Monster Bigfoot Beku

Sales mobil Rick Dyer dan anggota polisi Matt Whitton mengklaim memecahkan salah satu misteri besar sepanjang masa: big foot.

Pada tahun 2008 mereka mengklaim menemukan monster tersebut dan membekukannya dalam kulkas mereka.

Namun, kemudian terungkap bahwa 'bigfoot' itu adalah kostum Sasquatch yang mereka beli dari internet, diisi dengan bangkai hewan possum dan sisa-sisa dari tempat penyembelihan hewan.

Tipuan mereka terkuak. Whitton dilaporkan dipecat dari kepolisian. Sementara, Dyer pada 2012 kembali mengklaim membunuh bigfoot dan memungut bayaran dari mereka yang ingin melihat. Lagi-lagi, Bigfoot itu palsu. Buatan pabrik mainan.


Buku Harian Hitler

Pada tahun 1983, majalah Jerman Stern mempublikasikan apa yang diklaim sebagai buku harian Adolf Hitler.

Majalah tersebut membayar sekitar US$ 4 juta untuk mendapatkan catatan berharga milik sang fuhrer, yang merekam kejadian dari tahun 1932 hingga 1945.

Konon buku harian tersebut selamat dari sebuah kecelakaan kapal terbang pada tahun 1945.

Catatan harian itu diklaim telah melewati uji tulisan tangan, dan berdasarkan sampel isinya, dinyartakan akurat secara historis.

Namun, hanya 2 minggu kemudian, buku harian itu ternyata palsu. Petunjuknya didapat dari kertasnya -- yang berasal dari era modern.

Buku harian tersebut ternyata ditulis oleh penipu Konrad Kujau. Kujau dan jurnalis yang ditugaskan untuk membelinya, Gerd Heidemann dipenjara atas tuduhan penipuan dan penggelapan.


Simak juga video pilihan berikut ini:

Benang Merah Manusia dan Kera

Teori Darwin dan Kebohongan Fosil Piltdown Man

Liputan6.com 2021-06-30 15:00:24
Disney kini tengah mengembangkan film bertema Charles Darwin dengan gaya petualangan ala Indiana Jones.

Siapa tidak kenal Charles Darwin, sosok yang terkenal dengan teori asal usul spesies pernah menjadi perdebatan dunia. Bahkan, perdebatan tersebut terbilang lama.

Perburuan nenek moyang yang menghubungkan kera dengan manusia tak pernah berakhir sejak Charles Darwin memublikasikan teorinya soal asal-usul spesies atau Origin of Species pada 1859.

Temuan sensasional fosil yang diberi nama Neanderthals, telah didapatkan di Jerman dan Prancis. Para ilmuwan Inggris pun tak mau ketinggalan, ingin membuktikan bahwa Britania Raya juga memainkan peran penting dalam latar agung evolusi manusia.

Dan Piltdown Man adalah jawaban atas doa mereka. Karena berkat dia, Inggris bisa mengklaim sebagai tempat kelahiran umat manusia. Pada akhir 1912, surat kabar di seluruh dunia mengabarkan berita sensasional: "Mata Rantai yang Hilang Akhirnya Ditemukan - Teori Charles Darwin Terbukti!"

Pada waktu bersamaan, dalam sebuah pertemuan Geological Society di London, yang dihadiri para elite dalam dunia ilmu pengetahuan di Britania Raya.

Fosil itu diklaim sebagai nenek moyang orang Inggris atau Piltdown Man, meski julukan resminya adalah Eoanthropus dawsoni diambil dari nama Charles Dawson, arkeolog amatir yang mengaku menemukannya di lubang berisi kerikil di Barkham Manor, Piltdown, Sussex.

Seperti dikutip dari BBC, Selasa (20/11/2018), temuan itu kemudian diserahkan pada Sir Arthur Smith Woodward, ahli palaeontologi, yang dengan senang hati menerimanya.

Kala itu, para ilmuwan di dunia sedang berlomba-lomba menemukan benang merah yang terputus dari Teori Evolusi. Namun, sejak awal penemuannya, Piltdown Man telah mendapatkan penentangan.

Sejumlah ahli dari luar Inggris meragukan kecocokan antara tengkorak dan rahang fosil itu. Namun, sejumlah temuan fosil serupa kemudian ditemukan di lokasi di mana belulang purba tersebut ditemukan.

Sejak saat itu Piltdown Man dimasukkan dalam silsilah nenek moyang manusia purba, sebelum Homo sapiens atau manusia modern. Namun, 40 tahun kemudian, pada 21 November 1953, kebenaran akhirnya terkuak. Segala klaim terkait fosil itu ternyata hoaks.


Kabar Hoax

Perkembangan teknologi penanggalan fosil pada tahun 1940-an menguak kebohongan itu. Pada 1949, Dr Kenneth Oakley, staf Natural History Museum menguji fosil Piltdown Man.

Pada 21 November 1953 pun menggegerkan dunia. Berita yang ditulis semua media bikin Natural History Museum malu berat. Bahwa, temuan nenek moyang manusia di Inggris adalah kabar bohong alias hoaks belaka. Dan, bahkan para ilmuwan pun tertipu karenanya.

"Hoaks Piltdown Man Terkuak," demikian judul berita yang dimuat New York Times pada 21 November 1953.

"Bagian tengkorak Piltdown Man, salah satu fosil paling terkenal di dunia, dinyatakan sebagai hoaks oleh pihak berwenang di British Natural History Museum," demikian kutipan isi artikel. "Pernyataan itu...dibuat setelah 20 tahun desas-desus dan spekulasi di kalangan ahli paleontologi Eropa tentang keaslian fosil itu."

Sementara, judul utama atau headline yang terpampang di halaman muka London Star menyebutnya sebagai, "Hoaks Terbesar dalam Dunia Ilmu Pengetahuan Abad Ini".

Selain terkuaknya kebohongan tentang Piltdown Man, sejumlah peristiwa bersejarah lain juga terjadi pada 21 November.

Pada 21 November 2009, tambang batu bara di Provinsi Heilongjiang, China meledak akibat akumulasi gas di dalamnya. Akibatnya, 108 orang dikonfirmasi tewas, sementara 29 lainnya dirawat di rumah sakit.

Sementara, pada 1985, seorang anggota intelijen Angkatan Laut Amerika Serikat (AS) ditangkap lantaran membocorkan rahasia negara ke Israel. Rahasia tersebut terkait kebijakan Negeri Paman Sam di kawasan Timur Tengah.

Analis intelijen bernama Jonathan Jay Pollard tersebut dibekuk Biro Investigasi Federal AS (FBI) bersama sang istri, Anne, saat hendak menuju Kedutaan Besar Israel untuk meminta suaka atau perlindungan.


Saksikan video pilihan berikut ini