Volume 75

Terbaik!

Luar Biasa! Indonesia Gondol 2 Emas, Total 9 Medali Paralimpiade Tokyo 2020

Liputan6.com 2021-09-05 17:02:12
Infografis Hary Susanto/ Leani Ratri Oktila Raih Medali Emas Kedua Paralimpiade Tokyo 2020. (Liputan6.com/Abdillah)

Kontingen Indonesia meriah sukses besar di Paralimpiade Tokyo 2020. Tim Merah Putih berhasil memboyong 9 medali, sekaligus menorehan sejarah sepanjang keikutsertaannya di event olah raga dunia ini.

Perjuangan David Jacobs dan kawan-kawan di Paralimpiade Tokyo menghasilkan 2 medali emas, tiga perak, dan empat perunggu. Torehan ini melebihi target yang ditetapkan sebelumnya di pesta olahraga atlet disabilitas ini, yakni satu emas, satu perak, dan tiga perunggu.

Prestasi mengagumkan juga dicatat atlet para badminton Leani Ratri Oktila yang menyumbang 2 emas. Atlet asal Riau ini berhasil merebut emas dengan menjuarai juara nomor ganda putri SL3-SU5, bersama pasangannya Khalimatus Sadiyah.

Pada laga final Leani / Khalimatus mengalahkan jagoan China Cheng Hefang/Ma Huihui. Leani/Khalimatus menang dua set langsung 21-1 dan 21-12 dalam kurun 32 menit.

Terakhir, Leani yang turun di ganda campuran bersama Hary Susanto memastikan emas kedua bagi Indonesia setelah mengalahkan wakil Prancis Lucas Mazur/Faustine Noel di Yoyogi National Stadium, Tokyo. Keduanya menang dengan skor 23-22, 21-17.


Perunggu

Cabang para-badminton juga menyumbangkan medali perunggu lewat Fredy Setiawan yang mengalahkan Tarun (India) di nomor tunggal putra SL4. Secara total para atlet di cabang ini mengumpulkan dua emas, dua perak, dan dua perunggu.

Sumbangan medali juga datang dari cabor atletik. Saptoyoga Purnomo merebut medali perunggu lari 100 meter putra T37 Paralimpiade Tokyo 2020.

Sapto finis ketiga dengan catatan waktu 11,31 detik. Hanya terpaut 0,01 detik dari saingan terdekatnya pelari RPC Chermen Kobesov yang harus puas di posisi ke-4.


Ni Nengah Widiasih

Selain itu, lifter Ni Nengah juga berhasil meraih angkatan terbaiknya 98 kilogram. Atas pencapaiannya, Nj Nengah berhak mendapatkan medali perunggu.

Wanita berusia 28 tahun itu hanya kalah dari lifter China Guo Lingling dengan angkatan terbaiknya 109 kg.


Tenis Meja

David Jacobs mempersembahkan medali perunggu Paralimpiade Tokyo 2020 di cabang tenis meja. Ini merupakan medali ketiga untuk Indonesia.

Atlet para tenis meja kelas 10 tunggal putra ini kalah dari atlet Prancis Mateo Boheas di semifinal, sehingga tidak lolos ke final. Namun David tetap meraih medali perunggu untuk Indonesia.


Daftar Peraih Medali

Medali Emas

Leani Ratri Oktila/Khalimatus Sadiyah dari para-badminton di nomor ganda putri SL3-SU5.

Leani Ratri Oktila/Hary Susanto dari para-badminton nomor ganda campuran SL3-SU5.

Medali Perak

Leani Ratri Oktila dari para-badminton nomor tunggal putri SL4.

Dheva Anrimusthi dari para-badminton nomor tunggal putra Standing Upper 5.

Ni Nengah Widiasih dari para-powerlifting kelas 41 kg putri.

Medali Perunggu

Suryo Nugroho dari para-badminton tunggal putra Standing Upper 5.

David Jacobs dari para-tenis meja kelas 10.

Saptoyogo Purnomo dari para-atletik nomor lari 100 meter T37 putra

Fredy Setiawan dari para-badminton nomor tunggal putra SL4.

Data Pribadi Jokowi Bocor

Sertifikat Vaksin Covid-19 Presiden Jokowi Bocor di Medsos, Ini Komentar Warganet

Liputan6.com 2021-09-03 12:33:37
Presiden Republik Indonesia Joko Widodo (Jokowi). (Biro Pers, Media, dan Informasi Sekretariat Presiden RI)

Warganet dikejutkan dengan beredarnya sertifikat vaksinasi Covid-19 yang diduga milik Presiden Joko Widodo (Jokowi) di media sosial. Pantauan Tekno Liputan6.com, foto sertifikat vaksin dengan tulisan Ir Joko Widodo muncul di linimasa Twitter, Jumat (3/9/2021) pagi.

Selain nama, di gambar sertifikat vaskinasi Covid-19 itu juga terlihat NIK dan tanggal lahir, nomor ID vaksinasi, tanggal vaksinasi, QR code, serta jenis vaksin dan batch vaksinasinya.

Warganet pun banyak yang mengomentari isu kebocoran data pribadi ini di Twitter.

"Btw dipikir2 ini rada gimana yak, semua orang bisa ngecek status vaksinasi siapa aja cuma berbekal info nama dan NIK doang via app pedulilindungi," komentar seorang warganet.

"Ngakak, bayangin datanya dipake buat pinjol di telpon debt collector dibentak2," tulis warganet lainnya.

"Terlalu mudah untuk cek data orang lain, apalagi buat yang suka iseng," komentar pengguna Twitter lain.

"Makin ga percaya aja sama apk pemerintah, parah bgt itu data pribadi presiden bisa kesebar," cuit yang lain.

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.


Komentar Pakar

Pakar Keamanan Siber Pratama Persadha dalam pernyataannya mengatakan, data presiden bisa dilihat dari mana saja, termasuk dari KPU daerah ataupun pusat.

"Misalkan kita ambil tentang presiden beberapa kali mengikuti kontestasi Pilkada maupun Pemilu dari 2005, itu artinya data presiden sudah ada di KPU daerah maupun juga di pusat," kata Pratama.

Ia menambahkan, jika dirunut, data administrasi Jokowi di daerah sesuai dengan KTP.


Bukan Hal Mengejutkan NIK Presiden Tersebar

"Pastinya dalam proses administrasi ada berkas fotokopi KTP dan KK yang orang pegawai daerah sudah tahu. Lalu saat kita mengetik KTP Joko Widodo di pencarian Google, sudah muncul banyak arsipnya di internet," kata Pratama.

Pratama pun mengatakan, bukan hal yang mengejutkan bahwa publik bisa mendapatkan data nomor KTP Jokowi.

"Belum lagi, bisa jadi karena kebocoran data yang sangat masif di negara kita beberapa tahun terakhir ini. Dari beberapa kebocoran KUP atau BPJS Kesehatan, kita bisa langsung mengecek nama presiden pada database tersebut," tutur Pratama.


Bagaimana Sertifikat Vaksin Jokowi Bisa Diakses?

Sementara itu Pakar Keamanan Siber Alfons Tanujaya mengatakan, bocornya sertifikat vaksinasi Presiden Joko Widodo kemungkinan karena sistem PeduliLindungi mengandalkan otentikasi NIK dan nama lengkap untuk menampilkan sertifikat vaksin.

"Jadi siapa pun yang memiliki data ini bisa menampilkan informasi sertifikat vaksinasi," tutur pendiri Vaksincom ini.

Menurutnya, belum tentu terjadi kebocoran data di PeduliLindungi, tetapi mungkin beredarnya nomor NIK presiden Joko Widodo yang digunakan dengan cara memasukkannya ke sistem PeduliLindungi diikuti dengan nama lengkap, untuk bisa melihat sertifikat vaksinasi.


Infografis Ayo Jangan Ragu, Vaksin Covid-19 Dipastikan Aman

 

Jembatan Melengkung Pertama

Potret Jembatan Melengkung Pertama di Indonesia

Liputan6.com 2021-09-04 19:00:59
Jembatan Sei Alalak, Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan siap diresmikan Jokowi (dok: PUPR)

Pembangunan Jembatan Sei Alalak sebagai jembatan lengkung pertama di Indonesia telah selesai dikerjakan tim kerja sama operasi (KSO) PT Wijaya Karya (Persero) Tbk dan PT Pandji.

Jembatan yang akan menghubungkan Kota Banjarmasin dengan Kabupaten Barito Kuala ini telah berhasil melalui uji beban dalam prosesnya untuk mendapatkan sertifikat laik fungsi.

Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) melalui Komisi Keamanan Jembatan dan Terowongan Jalan (KKJTJ) telah melakukan proses uji beban sebagai bagian dari rangkaian sertifikasi laik operasi pada Jembatan Sei Alalak, Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan selama dua hari, 30-31 Agustus 2021.

Pelaksanaan uji beban tersebut berlangsung secara ketat dan diawasi Komisi Keamanan Jembatan dan Terowongan Jalan (KKJTJ) dengan melibatkan sebanyak 32 truk dengan masing-masing beban seberat 24 ton.

Direktur Pembangunan Jembatan Kementerian PUPR Yudha Handita Panjiriawan mengatakan, secara keseluruhan proses uji beban menunjukan hasil yang baik. Data pengujian kemudian akan dibahas secara teknis oleh KKJTJ untuk rekomendasi keluarnya sertifikat laik fungsi.

"Secara umum hasil ujinya baik, ketika diberikan beban, lalu bebannya di release kondisi jembatannya kembali seperti semula, ini mengindikasikan struktur jembatannya baik," ujar Yudha dalam keterangan tertulis, Sabtu (4/9/2021).

Konstruksi struktur utama jembatan, terang Yudha, secara umum sudah selesai. Saat ini di lapangan hanya ada pekerjaan pembongkaran jembatan rangka baja yang lama dan proses penyelesaian akhir yang ditargetkan rampung pada akhir pekan pertama September. Serah terima sementara pekerjaan provisional hand over (PHO) direncanakan dilaksanakan pada 15 September.

Sebagai Informasi, Jembatan Sei Alalak dibangun untuk menggantikan Jembatan Kayu Tangi 1 yang telah berusia 30 tahun dan menjadi jalur utama akses Kota Banjarmasin dengan berbagai wilayah di Kalsel dan Kalimantan Tengah (Kalteng). Proyek jembatan ini dibangun dengan bersumber dari dana Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) dengan skema pekerjaan tahun jamak (multi years).

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.


Jembatan Melengkung Pertama RI

Jembatan Sei Alalak merupakan jembatan melengkung pertama di Tanah Air dengan tipe cable stayed. Direktur Utama WIKA Agung Budi Waskito menuturkan, proyek ini semakin menambah rekam jejak dan portofolio perseroan sebagai kontraktor yang concern dan implementatif pada pengembangan teknologi terkini konstruksi jembatan modern.

Sebelumnya, WIKA juga telah mengambil peran vital dalam konstruksi signature jembatan lain seperti di Jembatan Suramadu, Jembatan Cikubang, Jembatan Merah Putih, Jembatan Tumbang Samba, Jembatan Tayan, hingga Simpang Susun Semanggi.

Metode konstruksi yang digunakan pada Jembatan Sei Alalak adalah longline matchcast system, dimana sistem precast ini mampu mengefisienkan biaya dan mengoptimalkan kualitas terbaik.


Punya Estetika

Kemudian, geometri tiang pylon asimetris ditujukan untuk mengatur cable stayed agar tidak bersinggungan dan tetap berada di luar deck jembatan serta menambah estetika.

"Beton yang digunakan juga adalah beton kualitas tinggi fc'45 Mpa (K-500 ) yang menggunakan material lokal guna mengoptimalkan potensi resources yang ada. Sehingga efektivitas dan keberhasilannya, bisa menjadi lesson learn sekaligus referensi bagi proyek-proyek lainnya," ujar Agung.

Sadisnya Taliban ke Demonstran

Taliban Bubarkan Demo Hak Perempuan Afghanistan dengan Gas Air Mata

Liputan6.com 2021-09-05 12:25:28
Aksi sekelompok wanita saat berunjuk rasa di Herat, Afghanistan, Kamis (2/9/2021). Dalam aksi protes yang jarang terjadi ini mereka mengaku siap menerima aturan burqa asal putri mereka tetap

Taliban dilaporkan telah membubarkan paksa demonstrasi yang dilakukan oleh puluhan wanita di Kabul yang menuntut hak perempuan, menyusul pengambilalihan Taliban atas Afghanistan.

Kelompok perempuan itu mengatakan bahwa Taliban menargetkan mereka dengan gas air mata dan semprotan merica ketika mereka mencoba melakukan march dari jembatan ke Istana Presiden di Kabul, demikian seperti dikutip dari BBC, Minggu (5/9/2021).

Aksi sekelompok wanita saat berunjuk rasa di Herat, Afghanistan, Kamis (2/9/2021). Para pengunjuk rasa mendesak Taliban menghormati hak-hak kaum perempuan, termasuk menempuh pendidikan. (AFP Photo)

Namun, Taliban mengatakan bahwa demonstrasi itu 'tidak berizin dan telah berlangsung di luar kendali' menurut outlet media Afghanistan Tolo News/

Ini adalah yang terbaru dari beberapa protes oleh perempuan di Kabul dan Herat.

Aksi sekelompok wanita saat berunjuk rasa di Herat, Afghanistan, Kamis (2/9/2021). Dalam aksi protes yang jarang terjadi ini mereka mengaku siap menerima aturan burqa asal putri mereka tetap bisa bersekolah. (AFP Photo)

Para wanita menyerukan hak untuk bekerja dan dimasukkan dalam pemerintahan. Taliban mengatakan mereka akan mengumumkan susunan pemerintahan mereka dalam beberapa hari mendatang.

Taliban mengatakan perempuan dapat terlibat dalam pemerintahan, tetapi tidak memegang posisi menteri.


Perempuan Afghanistan Ketakutan

Banyak wanita takut kembali ke cara mereka diperlakukan ketika Taliban sebelumnya berkuasa, antara tahun 1996 dan 2001. Perempuan dipaksa untuk menutupi wajah mereka di luar, dan hukuman yang keras dijatuhkan karena pelanggaran ringan.

"Dua puluh lima tahun yang lalu, ketika Taliban datang, mereka mencegah saya pergi ke sekolah," kata jurnalis Azita Nazimi kepada Tolo.

Aksi sekelompok wanita saat berunjuk rasa di Herat, Afghanistan, Kamis (2/9/2021). Para pengunjuk rasa mendesak Taliban menghormati hak-hak kaum perempuan, termasuk menempuh pendidikan. (AFP Photo)

"Setelah lima tahun pemerintahan mereka, saya belajar selama 25 tahun dan bekerja keras. Demi masa depan kita yang lebih baik, kita tidak akan membiarkan ini terjadi."

Demonstran lain, Soraya, mengatakan kepada Reuters: "Mereka juga memukul kepala wanita dengan popor senjata, dan para wanita menjadi berdarah."

Ayam Jadi Polantas

Unik, Sekolah di Selandia Baru Ini Gunakan Ayam Jadi Petugas Lalu Lintas

Liputan6.com 2021-09-04 20:33:28
Ilustrasi ayam (Sumber: Wikimedia Commons)

Hewan penjaga dapat membantu pekerjaan manusia, misalnya seperti anjing penjaga hingga hewan peliharaan yang emosional. Namun, salah satu pra sekolah di Selandia Baru memberdayakannya dengan cara berbeda: menggunakan ayam sebagai petugas lalu lintas.

Dikutip dari Mental Floss, Sabtu (4/09/2021), The Washington Post mengatakan unggas petugas bernama Henry itu digunakan sebagai penjaga untuk Newstead Country Preschool yang terletak di dekat sebuah peternakan di Newstead, Selandia Baru.

Pemilik pertanian sekaligus kepala sekolah, Tracy Trigg melengkapi Henry dengan rompi keselamatan, lalu menyuruhnya berkeliaran di tempat parkir.

Karena orangtua yang mengantar anak-anak mereka tahu tentang Henry, mereka mengemudi dengan perlahan dan hati-hati di tempat parkir.

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Ayam jago tidur terlentang (Sumber: TikTok/nostalgila_kita90)

Merupakan Bagian dari Sekolah

Tracy mengatakan bahwa Henry adalah hewan yang tersesat dan berkeliaran di rumah tetangga pada akhir tahun 2020 dan kerap buang air kecil di karpet.

Henry mengajukan diri untuk tugas ketika suatu hari dia keluar dari kandang dan berjalan ke 37 kelas sekolah selama istirahat. Saat itulah Tracy memiliki gagasan untuk menggunakan Henry sebagai semacam peringatan bagi pengemudi.

Tidak ada salahnya jika para siswa memujanya. Karena Henry dapat membuat mobil yang datang berhenti, sehingga mobil tidak dapat melewati anak-anak, kata salah satu siswa, Molly McIlmurray.

"Kalau begitu kita bisa pergi jalan-jalan di semak-semak. Saya menyukainya."

Henry dianggap sebagai bagian dari fakultas sekolah ke titik di mana dia diizinkan di ruang istirahat. Henry juga mengenakan rompi yang Tracy beli di online shop.

"Dia cukup santai dan patuh mengenakan jaket itu. Kini, kami memasangkannya di pagi hari dan melepasnya sekitar waktu makan siang. Selama ada keju, dia senang melakukannya," ujar Tracy.

Reporter: Cindy Damara

Jadi Miliarder dari RS Bermasalah

Beli Rumah Sakit Bermasalah, Pria India Sukses Jadi Miliarder

Liputan6.com 2021-09-04 21:00:55
Ilustrasi miliarder (iStock)

Kesehatan menjadi salah satu sektor yang paling laris selama pandemi COVID-19 sehingga mampu mengantarkan Abhay Soi masuk dalam deretan miliarder terbaru di India. Ia adalah ketua dan direktur pelaksana dari Max Healthcare Institute, rantai rumah sakit yang berbasis di New Delhi.

Adanya lonjakan saham perusahaan hingga 163 persen pada 2020 membuat 23 persen saham yang dimiliki Soi bernilai USD 1,1 miliar (Rp 15,6 triliun).

HDFC Securities, perusahaan jasa keuangan Mumbai, memproyeksikan pertumbuhan ebitda tahunan gabungan Max untuk lima tahun ke depan sebesar 29 persen, dengan dukungan neraca dan arus kas yang kuat.

Lebih lanjut, Max melaporkan margin operasi tertinggi yang pernah ada sebesar 27,2 persen pada kuartal terakhir.

Hal tersebut disebabkan karena adanya peningkatan hunian rumah sakit dan vaksinasi COVID-19. Dengan demikian, pendapatan kotor menurun sebesar 12 persen menjadi USD 528 juta (Rp 7,5 triliun).

"Saya percaya sektor perawatan kesehatan telah memasuki masa keemasannya. Saya memperkirakan pertumbuhan akan berlipat ganda di masa mendatang," kata Soi.

Melansir dari Forbes, Jumat (3/9/2021), Max memiliki lebih dari 3 ribu dokter di 17 fasilitas kesehatan, termasuk 14 rumah sakit di Delhi, Mumbai, Mohali, Bathinda, dan Dehradun.

Tercatat, rantai rumah sakit ini sudah merawat 35 ribu pasien COVID-19, melakukan 650 ribu tes PCR, serta menyalurkan 1,5 juta vaksin di 15 kota besar dan kecil India.


Tentang Soi

Soi adalah lulusan dari St Stephen's College dan European University di Belgia. Pria berusia 48 tahun itu memulai kariernya sebagai profesional restrukturisasi di perusahaan konsultan Arthur Andersen.

Setelah Soi bergabung dengan tim restrukturisasi di Ernst & Young dan KPMG, kariernya semakin maju. Kemudian, ia memutuskan untuk membeli perusahaan operasi rumah sakit setelah mengumpulkan dana dari JP Morgan.

Keahlian di bidang restrukturisasi membuatnya berhasil membangun rumah sakit dan melunasi utang. Pada 2014, Soi mengambil alih Rumah Sakit Nanavati yang mengalami kesulitan di pinggiran kota Mumbai. Setelah itu, Soi berhasil memperbaiki kondisi rumah sakit.

Meskipun di tengah pandemi, Soi memperkuat merger antara perusahaan kesehatan Radiant dan Max Healthcare dalam kesepakatan multi-tingkat dengan dukungan perusahaan ekuitas swasta KKR. Akhirnya, Max Healthcare resmi terdaftar pada Agustus 2020 dengan kepemilikan saham KKR sebesar 49 persen.

Menurutnya, status baru sebagai miliarder memberikan kesempatan dan kebebasan untuk menggunakan sumber daya demi perbaikan masyarakat, serta berkontribusi pada kalangan yang kurang mampu. Soi mendirikan Yayasan bersama istrinya yang memiliki fokus pada kesehatan dan pendidikan untuk kalangan yang kurang mampu.

Reporter: Shania

Teror Penculikan 73 Anak

73 Anak Diculik di Zamfara, Baru 5 yang Berhasil Diselamatkan

Liputan6.com 2021-09-05 13:00:00
Ilustrasi berita penculikan anak. (Liputan6.com)

Polisi Negara Bagian Zamfara melaporkan pada Kamis (2/9), bahwa lima gadis yang termasuk di antara 73 anak yang diculik dari sebuah sekolah di barat laut Nigeria berhasil diselamatkan.

Sebelumnya, terjadi serangan pada hari Rabu di sebuah SMP di Desa Kaya. Kejadian ini menjadi serangan terbesar di barat laut Nigeria. Diketahui bahwa serangan digencarkan oleh kelompok geng bersenjata yang mencari uang tebusan.

Dilansir dari New York Post pada Sabtu (4/9/2021), lebih dari 1.100 anak dan remaja telah diculik sejak Desember.

Kepolisian Negara Bagian Zamfara menyatakan misi pencarian dan penyelamatan yang tengah berlangsung membuahkan hasil. Mereka telah berhasil menyelamatkan lima siswi yang diculik.

"Para korban anak sekolah diperiksa secara medis di rumah sakit. Lalu, mereka telah diinterogasi oleh kami dan selanjutnya telah kami kembalikan kepada keluarga mereka," tambahnya.

*** Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.


Lokasi Sekolah Terpencil

UNICEF mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa 100 siswa berusia antara 14, 19 tahun dan seorang guru telah diculik. 23 di antaranya berhasil melarikan diri dan telah kembali ke rumah. Dua di antaranya mengalami luka tembak.

Seorang guru di sekolah tersebut mengatakan kepada Reuters melalui telepon, bahwa setelah beberapa siswa yang melarikan diri dilaporkan. Ternyata masih ada lagi lebih dari 90 orang yang diculik. Guru juga mengatakan bahwa dua siswa yang melarikan diri telah ditembak.

Memverifikasi rincian yang tepat dari penculikan mengalami kesulitan. Lantaran lokasi cukup terpencil dari banyak sekolah yang ditargetkan. Ditambah pula tingkat keamanan yang rendah di barat laut.

Zamfara termasuk di antara empat negara bagian yang telah menerapkan larangan penjualan bahan bakar dalam jerigen dan pengangkutan kayu bakar dengan truk. Langkah ini diambil agar mengganggu kelompok geng yang bepergian dengan sepeda motor dan berkemah di hutan.

Reporter: Bunga Ruth

Klaim 40 Tahun Tak Pernah Tidur

Wanita Ini Klaim Tak Tidur Selama 40 Tahun, Ini Penjelasan Medisnya

Liputan6.com 2021-09-04 16:10:06
Wanita Ini Klaim Tak Tidur Selama 40 Tahun, Ini Pengakuan Sang Dokter (sumber: Odditycentral)

Tidur menjadi salah satu kebutuhan yang sangat dibutuhkan oleh manusia. Pasalnya, setiap orang tidak akan bisa berjaga selama 24 jam non-stop tanpa merasakan kantuk.

Namun, media China baru-baru ini mengungkapkan kepada publik mengenai adanya kasus yang cukup menarik. Pasalnya, ada seorang wanita yang menngklaim dirinya tidak pernah tertidur selama empat dekade atau 40 tahun. Tak hanya itu saja, wanita tersebut juga menyebut jika dirinya tidak pernah merasakan lelah apalagi mengantuk.

Klaim wanita yang diketahui bernama Li Zhanying ini pun langsung mencuri perhatian banyak netizen. Pasalnya bukan hanya Li Zhanying saja yang memberikan pengakuan, akan tetapi suami dan beberapa tetangganya juga memberikan konfirmasi yang serupa.

Dilansir Liputan6.com dari odditycentral, Sabtu (4/9/2021) beberapa tetangganya melakukan pengujian untuk mengonfirmasi hal tersebut. Li juga mengaku jika ia hanya mengingat dapat tidur saat masih berusia lima atau enam tahun.


Sempat mengira insomnia

Li Zhanying merupakan penduduk desa Zhongmou, Provinsi Henan. Ia cukup dikenal di desanya karena kemampuan tidak tidur sepanjang siang maupun malam. Bahkan, karena kemampuan yang dimiliki beberapa tetangga mencoba untuk menguji klaimnya dengan bermain kartu di malam hari. Namun, bukannya bisa membuktikan tetangga Li justru memilih untuk pulang karena mengantuk atau justru tertidur saat itu juga.

Suami Li yang membenarkan hal tersebut juga mengungkapkan jika setelah menikah ia selalu memperhatikan sang istri yang terjaga siang dan malam. Bahkan, menurutnya sang istri kerap melakukan pekerjaan rumah di malam hari. Khawatir jika Li mengalami insomnia berat, sang suami, Liu Suoquin mencoba membelikan pil tidur. Akan tetapi hal tersebut tidak bekerja.


Mencari pengobatan medis

Karena kondisinya yang dikhawatirkan akan memburuk, Li dan sang suami memilih untuk mencari bantuan medis. Namun, berkali-kali dilakukan pemeriksaan dokter tidak menemukan adanya sesuatu yang mencurigakan.

Pasangan ini pun memilih untuk mengunjungi pusat medis di Beijing untuk mengetahui misteri kurang tidur selama berpuluh-puluh tahun. Tim dokter pun memilih melakukan pemeriksaan menggunakan sensor canggih dan memantau Li selama 48 jam. Hasil pemeriksaan yang dilakukan dokter justru membuat banyak orang cukup tercengang. Pasalnya, dokter menyimpulkan jika Li sebenarnya tidur, tapi tidak seperti kebanyakan orang.

Dari data yang didapatkan selama pemantauan gelombak otak, Li memang didapati tetidur ringan dan sedang seperti orang biasa. Bahkan, dirinya tertidur saat berbicara dengan sang suami. Tim dokter pun menyebutnya sebagai tidur ketika terjaga. Kondisi ini mirip seperti seseorang yang tertidur sambil berjalan, dimana beberapa saraf dan organ Li masih aktif selama ia tertidur.


Tertipu oleh otak sendiri

Tim dokter juga menyebutkan jika Li telah tertipu oleh otaknya sendiri. Pasalnya, saat ia telah beristirahat sebagaian tubuhnya sudah memasuki dormansi, tapi ia tidak harus menutup mata untuk melakukannya. Bahkan, ketika ia berbicara dengan sang suami, Li Zhanying terkadang memiliki bola mata dengan pergerakan lambat dan cenderung cekung. Hal ini juga menunjukkan jika ia tengah tertidur di momen tersebut.

Karena caranya yang tidak biasa tersebut, Li pun selalu meyakini jika ia tidak pernah tertidur selama 40 tahun. Dia pun tak bisa menghabiskan lebih dari 10 menit waktunya untuk tertidur dengan mata tertutup.

Heboh Kemunculan Kecoak Hijau

Catatan Baru Penemuan Kecoak Hijau di Singapura

Liputan6.com 2021-09-04 11:31:56
Ilustrasi kecoak. (dok. unsplash @lucaslenzi)

Pada 31 Maret 2021, nimfa kecoa hijau kecil pertama kali tertangkap merangkak di tiang kayu pagar tali di taman hutan Singapura. Sementara sebagian orang biasanya mundur saat melihat kecoa, serangga hijau berpola oranye dan putih di punggungnya ini disebut malah bikin penasaran.

Melansir Mothership, Kamis, 2 September 2021, kecoak hijau terlihat di Thomson Nature Park oleh Law Jia Bao dan Triston Yeo. Dengan antena sepanjang tubuhnya, panjang serangga dengan sisi yang sedikit tembus pandang ini hanya sekitar 1 sentimeter.

Ini adalah pertama kalinya seekor kecoak hijau diamati di Singapura, dan jadi catatan perdana mereka tentang serangga dalam genus Sorineuchora. Temuan ini pun diterbitkan Museum Sejarah Alam Lee Kong Chian (LKCNHM) pada 30 Juni 2021.

Sementara, Jaringan Entomologi Singapura membagikan pengamatan baru di Facebook pada Selasa, 31 Agustus 2021. Dijelaskan bahwa hanya ada dua taksa kecoak berwarna hijau terang, dan salah satunya adalah genus Sorineuchora.

Kecoa hijau lain adalah kecoak Kuba yang hanya ditemukan di Amerika. Sayangnya, dari 11 spesies Sorineuchora yang tercatat di seluruh dunia, spesies pasti dari nimfa ini tidak dapat ditentukan karena jantan dewasa yang harusnya mengidentifikasi spesies.

Secara global, serangga menghadapi tingkat kepunahan sekitar delapan kali lebih cepat daripada hewan lain, seperti burung dan mamalia, menurut ahli entomologi LKCNHM Foo Maosheng. Populasi serangga runtuh sebagian besar karena dugaan hilangnya habitat, polusi kimia, polusi cahaya, dan perubahan iklim. Ini memengaruhi segala hal lain di rantai makanan dan merusak seluruh ekosistem dengan cara yang tidak sepenuhnya dipahami manusia.

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.


Ancaman Kepunahan Serangga

Para ilmuwan telah menggambarkan lebih dari 1 juta spesies serangga, tapi memperkirakan bahwa ada antara 10 dan 30 juta spesies di luar sana. Sebagian besar serangga yang hilang, bahkan belum pernah tercatat.

"Tidak memiliki informasi ekologi dasar ini telah membuat orang mendasarkan segalanya pada lalat buah atau kupu-kupu," kata Jessica Ware, ahli entomologi dan kurator di American Museum of Natural History.

Karena itu, ada kebutuhan mendesak untuk penelitian lebih lanjut tentang serangga, katanya. Sulit mempelajari langkah apa yang harus diambil untuk menyelamatkan serangga ketika hanya tahu sedikit tentang mereka.

"Kami juga membutuhkan lebih banyak pendidikan publik tentang risiko serangga dan ekosistem tempat mereka berada. Itu berarti fokusnya tidak hanya pada lebah madu dan kupu-kupu raja," ucapnya.


Tidak Hanya Serangga yang Terancam Punah

Berbicara ancaman kepunahan, menurut studi terbaru, setidaknya 30 persen spesies pohon dunia terancam punah di alam liar. Kategorinya mulai dari pohon ek dan magnolia yang terkenal, hingga pohon kayu tropis, melansir laman BBC.

Para ahli mengatakan, ekistensi 17,5 ribu spesies pohon terancam. Ini merupakan dua kali lipat gabungan jumlah mamalia, burung, amfibi, dan reptil yang berisiko punah. Kelompok konservasi pun menyerukan upaya perlindungan mendesak di tengah ancaman seperti deforestasi, penebangan, dan perubahan iklim.

"Kita memiliki hampir 60 ribu spesies pohon di planet ini, dan untuk pertama kalinya kami sekarang tahu spesies mana yang membutuhkan tindakan konservasi, apa ancaman terbesar bagi mereka, dan di mana mereka berada," kata Dr Malin Rivers dari badan amal Botanic Gardens Conservation International.


Infografis Timbulan Sampah Sebelum dan Sesudah Pandemi

 

Fakta Ganja dari Sisi yang Berbeda

Journal: Ganja untuk Medis, Mungkinkah?

Liputan6.com 2021-09-06 00:00:55
Perjalanan Legalisasi Ganja untuk Obat Medis (Liputan6.com/Abdillah)

Nafiah Murhayanti tak kuasa menahan air mata. Perasaannya campur aduk. Ia sedih, bingung, tak tahu harus berbuat apa. Nafiah kaget ketika putrinya, Masayu Keynan Almeera alias Keynan (11), divonis mengidap cerebral palsy atau lumpuh otak.

Bak petir di siang bolong, Keynan yang saat itu masih berusia 40 hari, divonis mengalami masalah pada otaknya. Hingga sekarang, Nafiah masih tak bisa melupakan momen tersebut.

"Dunia saya seakan runtuh saat itu juga," kata dia kepada Liputan6.com.

Sejuta pertanyaan muncul di benak Nafiah. Bagaimana masa depan Keynan? Apa Keynan bisa disembuhkan? Apa Keynan bisa sekolah layaknya anak normal? Semua momen dan pertanyaan ini membuat Nafiah frustrasi.

"Saya sampai menolak anak. Sempat tidak mau megang, sempat memusuhi suami, menyalahkan semua orang. Sangat sulit ketika anak sendiri divonis seperti itu," Nafiah bercerita.

Seiring waktu, Nafiah mulai berdamai dengan keadaan. Rasa sayang terhadap putrinya membuat ia meninggalkan semuanya dan fokus mengurus Keynan.

Sejak bayi, Keynan pun mulai menjalani fisioterapi. Dari sana banyak perkembangan yang dialami.

"Tapi hasil dari fisioterapi itu biasanya dihabisi sama kejang. Perkembangannya lewat fisioterapi bagus, tapi turunnya itu drastis banget kalau habis kejang," ucap Nafiah.

Sering Kejang

Nafiah Murhayanti bersama putrinya Keynan (11) yang mengidap cerebral palsy (Istimewa).

Sampai sekarang Keynan kadang masih kejang. Tak hanya itu, Keynan juga memiliki keterbatasan gerak. Ia cuma bisa merayap dan menggerakkan tangan.

Keinginan melihat Keynan berkembang membuat Nafiah berusaha dan melakukan riset. Sampai akhirnya bertemu dengan Dwi Pertiwi.

Nama terakhir merupakan orang tua dari almarhum Musa yang meninggal pada Desember 2020, setelah 16 tahun berjuang melawan cerebral palsy.

"Waktu itu ada acara komunitas dan bertemu Ibu Dwi. Dia bercerita sewaktu di Australia, Musa itu dikasih ekstrak ganja dan perkembangannya bagus," Nafiah menuturkan.

Musa menjadi lebih rileks, fokus, kondisi otot dan tulang menjadi lebih lembut, serta gejala kejangnya berhenti total selama periode itu.

Namun, ketika kembali ke Indonesia, Dwi menghentikan pengobatan dengan ganja kepada Musa. Ia tahu pengobatan dengan ganja dilarang dalam UU Narkotika di Indonesia, meskipun kondisi kesehatan anaknya menunjukkan perkembangan yang sangat signifikan.

Mendengar cerita itu, Nafiah melakukan riset lebih dalam. Ia mendapati banyak kasus cerebral palsy di luar negeri yang menggunakan ekstrak ganja untuk mengobati gejala kejangnya.

Nafiah ingin mencobanya untuk pengobatan Keynan. Tapi, ia tidak dapat mengaksesnya karena dilarang oleh hukum Indonesia.

Alhasil, kini Nafiah, Dwi bersama Santi Warastuti yang juga merupakan orang tua dari pasien cerebral palsy, beserta sejumlah LSM, menjadi pemohon uji materi Undang-Undang Narkotika di Mahkamah Konstitusi.

Salah satu pasal yang diuji materi ialah larangan penggunaan narkotika golongan I, termasuk ganja, untuk kepentingan medis.


Terbentur UU Narkotika

Dalam Undang-Undang (UU) No. 35 Tahun 2009 tentang Narkotika, ada larangan penggunaan Narkotika Golongan I untuk pelayanan Kesehatan. Aturan itu dipakai aparat penegak hukum untuk menyasar orang-orang yang memakai narkotika, walaupun untuk tujuan pengobatan.

Kasus seperti ini pernah menimpa Fidelis Arie Sudewarto pada 2017 di Sanggau, Kalimantan Barat. Fidelis dihukum delapan bulan penjara.

Fidelis memakai tanaman ganja untuk mengobati istrinya, Yeni Riawati, yang menderita penyakit langka Syringomyelia. Yeni, yang tidak dapat melanjutkan terapi pengobatannya setelah Fidelis ditangkap, akhirnya meninggal dunia.

Selain Fidelis, muncul pula kasus Reyndhart Rossy N. Siahaan pada Mei 2020. Rossy dipidana penjara selama 10 bulan karena kepemilikan ganja. Rossy menggunakan ganja dengan cara direbus untuk meredakan nyeri dari penyakit kelainan sarafnya.

Padahal, sesungguhnya dalam UU Narkotika, khususnya Pasal 4 huruf a, telah disebutkan bahwa tujuan pembuatan undang-undang ini adalah untuk menjamin ketersediaan narkotika untuk kepentingan pelayanan kesehatan juga pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Perspektif Kesehatan Masyarakat

Masyarakat dan relawan mengikuti kampanye untuk memperingati Hari Cerebral Palsy Sedunia di kawasan Car Free Day, Jakarta, Minggu (13/10/2019) (Liputan6.com/Johan Tallo)

Dekan Fakultas Hukum Unika Atma Jaya, Asmin Fransiska, mengatakan, perspektif kesehatan masyarakat sangat penting dalam penentuan kebijakan serta regulasi terkait narkotika. Asmin adalah salah satu saksi ahli dalam sidang uji materi UU Nomor 35/2009 tentang Narkotika di Mahkamah Konstitusi.

"Perspektif kesehatan masyarakat adalah kunci untuk menyeimbangkan tentang kebijakan narkotika dengan kebijakan penggunaan narkotika secara ilegal," ujar Asmin.

Menurut dia, implementasi UU Narkotika yang berlaku saat ini kehilangan perspektif kesehatan masyarakat. Sehingga hal itu menutup ruang bagi riset dan penggunaan narkotika tertentu bagi kepentingan kesehatan yang lebih mendesak.

Ia juga merujuk pada Konvensi Tunggal Narkotika 1961 dan Konvensi Psikotropika 1971. "Konvensi itu memberikan hak bagi negara untuk melakukan kontrol terhadap narkotika demi kepentingan dan prinsip kemanfaatan bagi warganya," papar Asmin.

Sementara mengenai substansi uji materi UU Narkotika, yakni pasal 6 ayat (1) huruf a dan Pasal 8 ayat (1), Asmin mengatakan, kedua pasal tersebut justru kontradiktif dengan maksud dan tujuan konvensi serta UU itu sendiri.

"Dalam teori kebijakan narkotika dibutuhkan dua perspektif dan mekanisme yang seimbang, yaitu 'public health' (kesehatan masyarakat) dan 'public order' (ketertiban umum)," terang dia.

Oleh karena itu, Asmin berharap nantinya negara tidak hanya menerapkan regulasi yang ketat terhadap penggunaan narkotika yang tidak semestinya, tetapi dapat pula mengikuti dinamika kebutuhan serta kepentingan kesehatan masyarakat.

Menurut dia, tidak diperbolehkannya penggunaan narkotika untuk pelayanan kesehatan sangat merugikan Indonesia. "Pembacaan atas pasal bahwa narkotika tidak diperbolehkan untuk layanan kesehatan sangatlah merugikan negara Indonesia yang hanya didasari pada konteks keamanan," ucap dia.


Kekhawatiran BNN

Kepala Biro Humas dan Protokol BNN (Badan Narkotika Nasional), Sulistyo Pudjo Hartono, menjelaskan, penggolongan narkotika, termasuk ganja, serta tindak lanjut apakah narkotika jenis tertentu boleh dipakai untuk pengobatan, merupakan kesepakatan dari semua legislator. Kesepakatan penggolongan narkotika dilakukan oleh dalam tim yang berisi para ahli dari kementerian terkait sebelum masuk ke dalam Undang Undang.

"Penggolongan tersebut masuk ke dalam bagian Undang-Undang bahwa ganja itu narkotika itu golongan satu. Seperti itu. Dengan semua konsekuensinya," Sulistyo menjelaskan kepada Liputan6.com.

Dia juga berbicara soal The Single Convention on Narcotic Drugs atau Konvensi Tunggal Narkotika tahun 1961 yang mulai memasukkan ganja sebagai Golongan I. Demikian pula Undang-Undang (UU) No. 35 Tahun 2009 tentang Narkotika, yang menempatkan ganja sebagai narkotika Golongan I.

Dalam hal ini, Sulistyo menekankan bahwa BNN sebagai institusi yang patuh pada Undang-Undang dan bukan dalam tataran legislatif. BNN dalam posisi memberikan masukan kepada negara tentang dinamika narkotika nasional. Sebab, kata dia, narkotika bersifat kompleks, holistik, integratif, dan dinamis.

Di tingkat internasional, banyak diskusi tentang penggolongan narkotika dan juga penghukumannya. Walaupun di beberapa negara memberikan restu ganja untuk penggunaan rekreasional seperti di Belanda, Indonesia tidak ikut serta. Hal tersebut bukan tanpa alasan.

BNN melihat seringkali orang membandingkan ganja tidak apple to apple dengan narkotika jenis lain seperti heroin dan kokain, yang melalui proses pemurnian terlebih dahulu.

Selain itu, BNN juga khawatir apabila ganja dilegalkan atau diturunkan golongannya, Sulistyo mengibaratkan, nanti turunan dalam golongannya juga bisa dianggap seperti induknya. Padahal, Sulistyo menyebut, ganja juga punya jenis pemurnian yang disebut (delta-9-tetrahydrocannabinol) THC.

"BNN melihat lebih banyak mudarat daripada manfaat untuk penggunaan, untuk menurunkan penggolongan dari Golongan I ke Golongan lebih rendah. Dan itu tentu saja butuh diskusi, diskusi panjang," beber Sulistyo.

Infografis: Pro Kontra Legalisasi Ganja Untuk Obat Medis (Liputan6.com / Abdillah)

Dunia Mulai Terbuka Untuk Manfaat Ganja

Ganja sendiri telah dihapus dari kategori obat-obatan berbahaya yang dikontrol paling ketat oleh Badan Kebijakan Obat Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Keputusan tersebut diambil berdasarkan rekomendasi WHO (Organisasi Kesehatan Dunia), yang ingin mempermudah penelitian medis terkait ganja.

Pada 2019, WHO menerbitkan rekomendasi bahwa ganja dan resin ganja berada di level kontrol yang akan mencegah kerusakan akibat penggunaannya. Tapi, di saat bersamaan tidak menghalangi akses penelitian dan pengembangan ganja untuk keperluan medis.

Komisi Narkotika PBB telah melakukan pemungutan suara dari negara anggota dengan hasil 27 setuju, 25 tidak setuju, dan 1 abstain. Pemungutuan suara ini terkait penghapusan ganja dan resin ganja dari Agenda IV Konvensi 1961 tentang Narkotika, sebuah regulasi global yang mengatur pengendalian obat-obatan terlarang.

Adapun jenis obat terlarang yang masuk dalam Agenda IV, yaitu heroin dan analog fentanyl, yang berpotensi mematikan. Berbeda dengan ganja yang tidak membawa risiko kematian signifikan. Teranyar, penelitian WHO memperlihatkan bahwa ganja berpotensi untuk mengobati penyakit seperti epilepsi.

Kendati demikian, WHO tetap merekomendasikan supaya ganja berada di daftar Agenda I. Hal itu dikarenakan tingkat masalah kesehatan yang tinggi akibat pemakaian ganja. WHO pun merekomendasikan agar ekstrak dan larutan ganja dihapus dari Agenda I. Namun, sejauh ini Badan Kebijakan Obat PBB belum mendukung rekomendasi itu.

Botol-botol minyak ganja hasil ekstraksi ditampilkan saat konferensi pers di Kementerian Kesehatan Thailand, Bangkok, Rabu (7/8/2019) (AP Photo/Sakchai Lalit)

Di sejumlah negara seperti Jerman, Italia, Belanda, Amerika Serikat, Kanada, Israel, dan Australia, narkotika berjenis ganja sudah digunakan bagi pelayanan kesehatan. Namun di Indonesia, ganja masih masuk ke dalam narkotika golongan I, sehingga tidak bisa digunakan untuk pelayanan medis.

"Kesalahan tafsir atas pelarangan amatlah merugikan Indonesia. Saatnya Indonesia melihat dan meninjau kembali UU Narkotika Nomor 35 Tahun 2009 yang melarang penggunaan narkotika bagi kesehatan tanpa penundaan," ungkap Asmin Fransiska.

Sementara di Thailand, ganja menjadi barang yang lumrah dipakai dalam pengobatan tradisional. Bahkan pada 2018, Thailand jadi negara pertama di Asia Tenggara yang melegalkan ganja untuk keperluan medis.

Seperti dilansir DW, Menteri Kesehatan Thailand Anutin Charnvirakul, mengakui negaranya memiliki 25 klinik dan 86 rumah sakit dengan persediaan obat-obatan berbasis ganja. Pemerintah Thailand pun mendorong investasi teknologi untuk mengekstrak, menyaring, dan memasarkan minyak ganja demi pemasukan negara.


Mengapa Ganja?

Ganja tidak selalu identik dengan psikotropika. Sebagian masyarakat dunia malah sekarang lebih mengenalnya sebagai obat.

Ganja memiliki beragam jenis kandungan. Terdapat lebih dari 100 jenis cannabinoid dalam tanaman ganja. Yang kerap kali muncul dalam bahasan publik yakni delta-9-tetrahydrocannabinol (THC) dan Cannabidiol (CBD).

Tapi, Guru Besar Universitas Syiah Kuala Banda Aceh, Musri Musman, mengungkapkan, masih banyak zat lain dalam ganja seperti, Cannabinol (CBN), CDG Cannabigerol, Cannabicyclol (CBL), atau Cannabielsoin (CBE), dan lain-lain. Dari sekian banyak zat, hanya THC yang termasuk psikotropi dan menyebabkan adiktif.

Musri yang juga merupakan salah satu saksi ahli dalam sidang uji materi UU Nomor 35/2009 tentang Narkotika di Mahkamah Konstitusi menambahkan, Indonesia perlu belajar dari Thailand soal penggunaan obat berbasis ganja.

Menurut dia, Thailand sudah memiliki struktur dan prosedur yang baku untuk penggunaan ganja sebagai obat. Bahkan sudah ada klinik Cannabis, di mana setiap hari ribuan orang berobat ke sana.

Dia membeberkan tentang perwakilan Thailand sempat datang ke Aceh untuk bekerja sama dalam pengembangan obat berbasis ganja, tapi tidak dapat dilaksanakan karena aturan di Indonesia. "Kenapa kita ragu dengan itu? Belajarlah kepada orang jika kita ragu. Atau kita ciptakan sendiri sehingga itu terjamin," kata Musri kepada Liputan6.com.

(Liputan6.com / Abdillah)

Musri menerangkan, dalam konteks ganja, rule material adalah keseluruhannya. Untuk psikotropika, bunganya yang diambil untuk dihisap. Sementara dalam pengobatan, tidak mungkin memberikan orang langsung bunganya. Adalah ekstrak bunga ganja yang dipakai untuk obat.

Selain itu, dia menerangkan, ekstrak yang diberikan kepada pasien sudah dipisahkan dari zat-zat lain sehingga konsentrasinya dibenarkan secara kesehatan dan telah dirujuk berdasarkan uji klinis. Ketika membuat ekstraknya itu, Musri menyebut ada aturan-aturannya dan tidak sembarangan diberikan kepada pasien.

"Mana yang menyebabkan terjadinya induksi kepada organel-organel lain, mana yang menyebabkan terjadinya hal-hal yang merugikan. Mana yang menyebabkan terjadinya ketergantungan. Itu sudah ada takaran-takaran di dalam uji klinis," ujar Kepala Laboratorium Kimia Bahan Alam Universitas Syiah Kuala Banda Aceh tersebut.

Yang diberikan kepada pasien epilepsi atau cerebral palsy adalah Cannabidiol (CBD). Menurut Musri, saat mengambil ekstrak CBD, para ahli sudah mampu memisahkannya dari THC karena teknologi dan ilmu pengetahuan sudah memungkinkan melakukan itu, termasuk di Indonesia.

"Jadi bahan-bahan dasar Cannabinoid itu, kecuali THC yang memberikan halusinasi atau psikotropika. Sedangkan yang lain semuanya, ya obat," pungkasnya.


INFOGRAFIS