Volume 86

Bali dan Nias Terancam Tenggelam

HEADLINE: 115 Pulau di Indonesia Terancam Tenggelam Akibat Perubahan Iklim, Antisipasinya?

Liputan6.com 2021-09-18 00:03:54
Awan cumulonimbus menyelimuti perairan Teluk Jakarta, Minggu (10/1/2021). Sejak beberapa hari terakhir, perairan Teluk Jakarta diselimuti cuaca ekstrem yang berbahaya bagi pelayaran dan pener

Sekitar 115 pulau sedang dan kecil di Indonesia terancam hilang atau tenggelam akibat naiknya permukaan air laut. Demikian disampaikan Peneliti Ahli Utama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Eddy Hermawan dalam sebuah diskusi di Jakarta, Kamis 16 September 2021.

"Jangan terkecoh dengan kawasan Pantura saja, jangan terkecoh dengan Jakarta saja, apa yang akan terjadi di tahun-tahun berikutnya, inilah 115 pulau-pulau sedang dan kecil ini bisa tenggelam," kata Eddy.

Eddy berharap perhatian juga tertuju pada pulau-pulau sedang dan kecil di Indonesia seperti daerah wisata termasuk Bali dan Nias dan pulau-pulau lain. Termasuk di sepanjang pantai barat Sumatera yang juga terancam tenggelam, sehingga tidak hanya terpaku pada persoalan terancamnya Jakarta atau kota pesisir di Pantai Utara Jawa saja.

"Tidak hanya Jakarta yang terancam, pulau-pulau kecil juga terancam," tuturnya.

Menurut Eddy, kenaikan air laut tersebut disebabkan perubahan iklim dan penurunan muka tanah sehingga perlu kombinasi upaya mitigasi dan adaptasi ke depannya agar tidak kehilangan pulau-pulau tersebut.

Namun begitu, kepada Liputan6.com dia mengatakan publik tidak usah merasakan kekhawatiran yang berlebihan. Khususnya terkait besaran angka kenaikan air muka laut yang sebenarnya lebih kecil dari angka yang banyak dirilis berbagai lembaga. Apalagi jika merujuk pada laporan dari International Panel Climate Change (IPCC), badan resmi dunia yang bertangung jawab tentang perubahan iklim.

"Kalau melihat dari angka yang secara global pun kecil. Bahkan, 2030 di mana (Presiden AS) Joe Biden mengatakan hal itu relatif kecil. Saya menghitung hanya 25 cm di 2050, jadi 2030 tentu lebih kecil lagi kenaikan air muka lautnya," jelas Eddy, Jumat (17/9/2021) petang.

Dia mengatakan, ada media yang mengabarkan bahwa kenaikan air muka laut di pesisir Jakarta bisa mencapai empat meter pada 2030. Hal itu terlalu ekstrim dan berbahaya, karena jika ada bias pun mungkin hanya sampai 50 cm, tidak sampai hitungan meter.

"Jadi model dari mana angka meter itu? Logika saja, perjalanan es mencair dari Kutub ke Jakarta berapa lama? Kalau memang es mencair karena memang emisi CO2 naik, pasti negara-negara Skandinavia seperti Denmark dan Belgia habis duluan, nggak usah jauh-jauh, Singapura juga," tegas Eddy.

Yang jelas, lanjut dia, perubahan iklim memang terjadi, kita tak bisa menghentikan. Tapi bisa menghambatnya dengan mengantisipasi emisi CO2 itu dengan menguranginya. Karena kalau menihilkam susah, sementara tiap hari orang naik mobil dan tiap pembakaran karbon menghasilkan CO2. Negara-negara penghasil minyak juga berkontribusi terhadap perubahan iklim, kebakaran hutan juga. Karena tiap yang dibakar menghasilkan emisi.

"Memang ada keinginan untuk menghapus dampak itu menjadi nol, misalnya dengan menghadirkan teknologi mobil listrik. Tapi mobilnya belum siap pakai, stasiun pengisiannya belum ada. Mau pakai gas juga infrastrukturnya juga belum support," jelas Eddy.

Jadi, lanjut dia, tidak bijak juga jika dikatakan perubahan iklim melulu soal ulah manusia, karena juga ada pengaruh alamiah. Seperti aktivitas matahari yang mencapai puncak panasnya yang berimbas ke es di kutub.

"Manusia bukan faktor utamanya, tapi manusia yang memperparahnya. Selama kita manusia tidak tanggung jawab dengan apa yang sudah diperbuat maka akan sulit. Di sisi lain, ini terkait dengan sumber penghidupan mereka. Misal membuka lahan untuk bertani dengan cara membakar, jadi dilematis juga," ujar Eddy.

Dia pun menyarankan pemerintah menyediakan mata pencaharian yang aktivitas sehari-harinya tidak memicu kerusakan alam agar mereka bisa menghasilkan sesuatu untuk hidup tanpa harus merusak lingkungan.

"Jadi menurut hemat saya, untuk mengantisipasi agar air muka laut tak semakin parah, coba bangun mangrove di sepanjang Pantura. Hal itu sudah dilakukan tapi belum merata, kemudian juga penghijauan juga ditingkatkan untuk mengurangi emisi tadi," pungkas Eddy.

Infografis 115 Pulau di Indonesia Terancam Tenggelam. (Liputan6.com/Trieyasni)

Sementara itu, Project Officer Keadilan Iklim Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Nasional Abdul Ghofar mengatakan pihaknya tidak kaget dengan data yang dilansir BRIN.

"Walhi Sumsel dalam Laporan Tahunan 2019, salah satunya menyebutkan empat pulau di Sumsel sudah dinyatakan hilang. Demikian pula ketika isu dampak krisis iklim ramai kembali waktu (Presiden AS) Joe Biden bilang Jakarta merupakan salah satu kota yang akan tenggelam. Faktanya, tidak hanya pesisir Jakarta, Semarang, Pekalongan, dan wilayah utara Pulau Jawa sama rentannya dengan Jakarta," ujar Abdul kepada Liputan6.com, Jumat petang.

Dia mengatakan, angka penurunan permukaan tanah di lokasi tersebut lebih cepat dibandingkan Jakarta, selaras dengan kenaikan air laut sebagai dampak krisis iklim. Berikutnya pulau-pulau kecil, yang rentan karena eksposenya memang agak minim karena bukan merupakan kawasan padat penduduk.

"Kalau melihat datanya, semua itu memang dampak dari perubahan iklim ya, kalau soal adanya ulah manusia di situ, baik yang tinggal di wilayah pulau atau dalam wilayah yang lebih besar, saya pikir kalau melihat kausalitasnya memang berkaitan erat dengan aktivitas manusia," tegas Abdul.

Dia mengatakan, Intergovernmental Panel Climate Change (IPCC) pada bulan Agustus 2021 merilis laporan yang menyatakan bahwa aktivitas manusia, mulai dari industri tranposrtasi, deforestasi untuk alih fungsi kawasan perkebunan dan pertanian, maupun permukiman telah menjadi penyebab krisis iklim saat ini.

"Jadi human activity adalah faktor utama terjadinya krisis iklim. Tetapi kalau mau dilihat di skala lebih kecil, keterancaman pulau-pulau kecil itu dampak dari aktivitas manusia di sekutar pulau itu sangat minimalis, paling soal perubahan fungsi kawasan, seperti mangrove sebagai benteng alami pesisir berubah fungsi, misalnya untuk tambak," jelas Abdul.

Ketika ditanyakan sampai kapan pulau-pulau itu bisa bertahan, dia mengatakan Walhi daerah umumnya menggunakan permodelan satelit, seperti Walhi Sumsel yang mengukur hilangnya pulau-pulau kecil.

Sementara lembaga Climate Center membuat permodelan dengan tiga skenario, pertama skenario paling buruk, moderat, dan yang bagus. Kalau diambil skala moderat, mereka memproyeksikan kenaikan hingga tahun 2100 sekitar 0,4 meter atau 40 cm.

"Memang terlihat tidak tinggi, tapi jalau kita melihat kawasan permukiman di Indonesia itu sebagian besar wilayah pesisir yang hari ini sudah mengalami dampak signifikan, Pekalongan itu sudah terdampak parah, Jakarta Utara parah, Demak parah, Semarang parah, apalagi nanti kalau menunggu tahun 2050 atau 2100, dampaknya akan banyak pengungsi," ujar Abdul.

Menurut dia, ada dua langkah yang harus dilakukan pemerintah pusat untuk mencegah krisis ini terjadi. Pertama, pengurangan emisi karbon itu harus signifikan dilakukan, karena rencana pengurangan emisi Indonesia itu kurang ambisius dan kurang serius. Jadi pemerintah harus segera mengeluarkan kebijakan yang lebih serius dan ambisus untuk pengurangan emisi di semua sektor.

"Berikutnya transisi energi, kita tahu lebih dari 50 persen pembangkit listrik kita itu didominasi energi kotor terutama yang bersumber dari batubara. Nah, dorongan untuk melakukan penghentian operasj PLTU Batubara hatus dipercepat. Apalagi tren global banyak yang sudah bertransisi, PLTU sudah lama dipensiunkan, mulai mengejar enegeri baru terbarukan," jelas Abdul.

Sementara dalam skala lokal, lanjut dia, ada upaya untuk melakukan adaptasi dan mitigasi, salah satunya melakukan pendekatan di kawasan ekosistem mangrove sebagai benteng alami pertahanan dari ombak harus diperbanyak. Pemerintah bisa membantu untuk membiayai pembibitan dan pemeliharaan benteng alami yang sudah diinisiasi masyarakat.

"Jadi, alih fungsi lahan di mangrove itu harus dicegah, karena banyak praktik terutama di pesisir utara Pulau Jawa, kawasan ekosistem mangrove itu dialihfungsikan jadi kawasan industri, seperti di Kendal dekat Semarang," pungkas Abdul.


Hitung Mundur Jakarta dan Bali

Selain menyorot ratusan pulau di Indonesia yang bakal tenggelam akibat perubahan iklim dan pemanasan global, Peneliti Ahli Utama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Eddy Hermawan juga memberi catatan khusus terhadap kawasan pesisir Jakarta.

"Tidak hanya pemanasan global, penurunan muka tanah juga merupakan kontributor cukup besar yang menyebabkan Jakarta menjadi terendam," ujar Eddy.

Ia menyarankan untuk lebih mengutamakan langkah-langkah yang memprioritaskan kelestarian dan keberlanjutan lingkungan seperti penanaman mangrove dan reboisasi serta menghasilkan dan menerapkan inovasi yang bisa menjadi solusi terhadap masalah itu.

Eddy menuturkan, hasil simulasi menunjukkan kenaikan permukaan air laut akan menutupi Jakarta secara permanen pada 2050 sekitar 160,4 km persegi atau sama dengan 24,3 persen dari luas total wilayah saat ini. Air laut masuk antara lain ke wilayah Tanjung Priok, Pademangan, Penjaringan, Bandara Soekarno Hatta, Koja dan Cilincing.

Selain perubahan iklim dan penurunan muka tanah, Eddy menuturkan kondisi wilayah Jakarta juga menyebabkan potensi wilayah itu terendam air laut juga makin tinggi karena berupa wilayah landai dan teluk.

"Kondisi lokal setempat Jakarta yang memang juga menjadi serangan empuk bagi masuknya air laut karena tanahnya landai, empuk, bentuknya teluk," tutur dia.

Eddy menuturkan, semua kawasan Pantura memang berisiko masuknya air laut, namun terlebih khusus daerah Jakarta karena kondisi lokal tanah yang empuk dan topografi wilayah yang membuat Jakarta makin berisiko terendam.

"Pada dasarnya yang terjadi saat ini adalah kombinasi yang sudah airnya naik karena es mencair di kutub tetapi juga penurunan muka tanah yang tidak bisa kita kontrol sebenarnya," jelas dia.

Sementara itu, Utusan Khusus Gubernur DKI Jakarta untuk Perubahan Iklim Irvan Pulungan mengatakan salah satu faktor yang meningkatkan potensi Jakarta tenggelam di tengah dampak perubahan iklim adalah penggunaan sumber daya air secara masif yang menyebabkan penurunan muka tanah.

"Terdapat beberapa faktor yang meningkatkan potensi tenggelamnya Jakarta, yaitu letak geografis DKI Jakarta yang memang 40 persen wilayahnya berada di bawah permukaan laut, tingkat urbanisasi yang masif menyebabkan pembebanan pembangunan, serta penggunaan sumber air yang masif menyebabkan turunnya permukaan tanah," kata Irvan.

Dia menuturkan, sebagai upaya mengatasi masalah tersebut, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah mengeluarkan sejumlah kebijakan strategis terutama untuk pengendalian bencana perubahan iklim, pengendalian banjir dan perlindungan pesisir, serta perlambatan penurunan muka tanah.

"Untuk pengendalian bencana perubahan iklim, Pemerintah DKI mengeluarkan sejumlah kebijakan/regulasi terkait seperti rencana aksi daerah penurunan gas rumah kaca, bangunan gedung hijau, perlindungan dan pengelolaan pohon, dan tim kerja mitigasi dan adaptasi bencana iklim," jelas Irvan.

Aksi yang telah dilakukan terkait pengendalian untuk perubahan iklim antara lain zona rendah emisi di kawasan Kota Tua, peningkatan kuantitas dan kualitas ruang terbuka hijau, kerja sama antar pemerintah daerah hulu dalam pengelolaan daerah aliran sungai dan tata kelola wilayah tangkapan air, serta perluasan layanan air bersih melalui subsidi air minum.

Sementara aksi yang telah dilakukan terkait pengendalian banjir dan perlindungan pesisir antara lain pengerukan sungai untuk memberikan ruang tambahan bagi aliran air, sumur resapan, penanaman mangrove di pesisir Jakarta dan Kepulauan Seribu, pembangunan tanggul pantai, peningkatan adaptasi masyarakat atas bencana banjir, dan penyusunan rencana kontijensi banjir serta garis komando dalam pelaksanaan evakuasi kejadian banjir.

Irvan menuturkan perlunya inovasi dalam tata kelola kawasan perkotaan, dan pendekatan pengelolaan sumber daya yang lebih sirkular.

Pemerintah DKI Jakarta juga mendorong kolaborasi aksi pemangku kepentingan, baik pemerintah pusat dan daerah, organisasi masyarakat sipil dan organisasi akademik dalam menanggulangi krisis iklim melalui pembentukan Tim Kerja Mitigasi dan Adaptasi Perubahan Iklim.

Di sisi lain, melalui Peraturan Gubernur (Pergub) Nomor 57 Tahun 2021, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memberikan subsidi air bersih untuk mendorong terwujudnya perluasan layanan air bersih bagi warga Jakarta yang pada akhirnya dapat membantu mengurangi penggunaan air tanah yang mengakibatkan penurunan muka tanah di Jakarta.

Selain Jakarta, Pulau Bali juga diprediksi akan tenggelam. Pada tahun 2050, Pulau Bali diprediksi akan terendam seluas 489 km. Hal itu disebabkan oleh curah hujan yang terus meningkat dalam jangka panjang.

Infografis Prediksi Seperempat Wilayah Jakarta Terendam di 2050. (Liputan6.com/Trieyasni)

Terkait hal itu, Direktur Walhi Bali I Made Juli Untung Pratama mengatakan, dirinya tidak membantah temuan itu. Sejak lama Walhi Bali sudah mengingatkan banyak pihak soal adanya potensi kenaikan air laut yang lama-kelamaan membuat Bali tenggelam dan hilang. Selain perubahan iklim, kenaikan muka air laut di wilayah pesisir juga banyak disebabkan oleh pembangunan pariwisata yang tidak ramah lingkungan.

"Pembangunan proyek-proyek yang berada di pesisir ini yang mengancam Pulau Bali sesungguhnya. Kalau dibilang potensi tenggelam, tentunya itu sudah lama kami sadari," kata Made Juli saat dihubungi Liputan6.com, Jumat (17/9/2021).

Dia mengatakan, temuan Walhi mengungkap abrasi di pesisir Bali sudah terjadi sejak tahun 60-an. Sejak landasan pacu Bandara Ngurah Rai dibangun dengan mereklamasi pantai. Berdasarkan pencitraan tahun 1972 hingga saat ini tercatat garis pantai mundur hingga ribuan meter. Ukuran tahun 1972 dipakai karena di periode itulah dimulainya revolusi industri yang menjadi awal terjadinya perubahan iklim.

"Pura Cedok Waru itu saksinya, mundur sampai tiga kali karena reklamasi air laut naik. Jadinya pura itu tenggelam lalu dipindah lagi, itu sampai tiga kali," kata Made Juli.

Perubahan iklim secara global diakui memang menjadi salah satu penyebab naiknya muka air laut di banyak tempat. Tapi bukan berarti pihaknya tutup mata terhadap perusakan lingkungan yang juga marak terjadi.

Dia mencontohkan pembangunan proyek-proyek pariwisata di pesisir Bali, yang suka tidak suka turut menjadi biang keladi yang mempercepat Bali tenggelam. Apalagi melihat proyek-proyek tambang pasir, proyek perluasan bandara 153 hektare dan rencana perluasan pelabuhan seluas 1.000-an hektare.

"Kalau dalam hukum tata ruang itu kan seharusnya hukum yang mengatur pariwisata, pada kenyataanya di Bali pariwisata yang mengatur hukum," tegas Made Juli.

Dia lantas memberi contoh, ada investor ingin membangun destinasi wisata tapi di wilayah konservasi. Kenyataannya bukan pariwisatanya yang mengikuti aturan konservasi, tapi hukumnya yang dipermainkan agar wilayah konservasi ini bisa mengakomodir pariwisata.

"Baru-baru ini, tahun 2019, itu mangrove kita itu mati 17 hektare akibat reklamasi Pelabuhan Benoa," kata Made Juli.

Saat ini di Bali, kata dia, ada Perda Zonasi Pesisir, namanya Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil. Praktiknya sama seperti tata ruang, mana daerah yang boleh dibangun, dan mana daerah yang perlu dilindungi.

"Tapi pada kenyataannya, perda ini banyak mengakomodir proyek-proyek yang merusak lingkungan hidup, seperti tambang pasir, reklamasi, dan perluasan kawasan pesisir. Jika proyek-proyek seperti itu malah diakomodir, maka potensi tenggelamnya Bali akan lebih cepat," Made Juli memungkasi.


Yang Segera Hilang dari Peta

Adalah Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden yang memantik polemik di Tanah Air. Jauh-jauh berbicara dari Washington DC, Amerika Serikat, dia berbicara tentang wilayah DKI Jakarta yang dalam kondisi terancam. Tak heran kalau ucapan Biden membuat perhatian publik sedikit teralihkan dari kasus Covid-19 yang sedang tinggi-tingginya.

Dalam pidatonya di kantor Direktur Intelijen Nasional AS pada 27 Juli lalu, Biden menyebutkan bahwa Jakarta terancam tenggelam. Penyebabnya adalah perubahan iklim yang saat ini sedang menghantui seluruh dunia sehingga Indonesia harus memindahkan Ibu Kota negaranya.

Dia menyitir laporan Badan Antariksa AS (NASA) yang mengatakan meningkatnya suhu global dan lapisan es yang mencair membuat banyak kota di pesisir seperti Jakarta menghadapi risiko banjir. Juga adanya luapan air laut yang semakin besar.

Menurut situs resmi Gedung Putih, whitehouse.gov pada Jumat (30/7/2021), Biden mulai membahas isu perubahan iklim dengan menyampaikan bagaimana masalah tersebut memiliki dampak berbahaya yang sama terhadap semua negara.

Walaupun isu lingkungan tersebut sebenarnya sudah lama jadi pembahasan, kali ini gaungnya berbeda karena disampaikan seorang presiden dari negara adikuasa. Kalau soal kenaikan air laut dan penurunan tanah sudah lama diakui memang telah terjadi.

Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Kebudayaan LIPI, misalnya, pernah menyampaikan proyeksi permukaan laut pada 2050 dan 2100 akan naik 25-50 sentimeter (cm). Kenaikan permukaan laut akan mengancam warga kawasan pesisir di Indonesia, seperti Jakarta, Semarang, dan Demak.

LIPI juga membeberkan faktor lain yang ikut mendukung penurunan permukaan tanah Jakarta. Salah satunya akibat pertambahan bangunan dalam skala masif setiap tahun.

Bangunan-bangunan untuk kepentingan industri, perkantoran, perumahan menyebabkan daerah resapan air semakin menipis. Hal itu, kata ahli, perlu ditata ulang oleh pemerintah.

Hal senada diungkapkan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi). Dikutip dari laman www.walhi.or.id, abrasi mengancam keberadaan pulau-pulau di pesisir Provinsi Riau. Abrasi parah antara lain terjadi di Pulau Bengkalis, Pulau Batu Mandi (Rokan Hilir), Pulau Rupat di Bengkalis dan Pulau Rangsang. Selain hantaman gelombang laut dan pertahanan hutan mangrove minim, laju abrasi juga didorong alih fungsi lahan.

Hasil overlay garis pantai menunjukkan, sebagian besar abrasi terjadi di pantai utara Pulau Bengkalis. Paling parah di bagian barat diikuti bagian selatan. Laju abrasi dari 1988-2004, pada level 30-40 hektar rata-rata per tahun. Sejak 2004 ke atas, laju abrasi naik lebih dua kali lipat rata-rata per tahun.

Demikian pula dengan Pulau Rangsang, yang meski tak selaju abrasi, akresi di pulau ini selama 24 tahun merujuk hasil overlay hanya 243,53 hektare atau rata-rata 10,29 hektare per tahun. Artinya, pengurangan daratan Pulau Rangsang sejak 1990-2014 seluas 854 hektar atau 36,08 hektare rata-rata per tahun.

Bila melihat laju abrasi antara kedua pulau itu, Rangsang tampak lebih kritis. Dengan luas pulau 909,8 kilometer persegi, rata-rata laju abrasi per tahun Pulau Rangsang hampir setara abrasi Bengkalis yang luasnya 11.481,77 kilometer persegi. Kondisi tanah dan letak pulau pun sama. Umumnya tanah rawa gambut dan langsung berhadapan dengan laut terbuka.

Inti dari semakin parahnya abrasi tersebut adalah perencanaan diterapkan pemerintah di pulau-pulau itu tidak adaptif. Contoh, pemberian izin-izin perkebunan dan konsesi hutan tanaman industri (HTI) di pulau berkontur gambut, seperti Pulau Rangsang, Rupat dan Bengkalis merupakan sumber utama masalah ancaman.

Tak hanya itu, masih di Provinsi Riau, Pulau Padang adalah pulau lainnya yang disebut terancam tenggelam. Tenggelamnya pulau ini disebabkan oleh rusaknya ekosistem gambut akibat ulah manusia yang sengaja membakar hutan dan lahan. Permukaan laut akan meningkat dan memicu abrasi Pulau Padang.

Di luar Provinsi Riau, ada Pulau Salah Namo atau Salah Nama yang terletak di Banyu Asin, Sumatera Selatan yang juga terancam tenggelam. Pulau itu kini memiliki ketinggian dua meter di atas permukaan laut.

Dilansir dari laman The Star, Kepala Unit Lingkungan di Pulau Namo, Syahrul mengatakan, warga di pulau itu sudah tahu bahwa permukaan laut yang naik dapat menenggelamkan tempat tinggal mereka. Warga pun telah memindahkan rumah mereka berjarak puluhan meter dari posisi sebelumnya.

Masih di Sumsel, ada Pulau Burung yang juga terancam lenyap. Kekinian, ketinggian pulau itu hampir sama dengan permukaan laut. Ancaman lenyapnya pulau ini disebabkan oleh pemanasan global.

Kemudian Pulau Kelor yang masuk dalam gugusan Kepulauan Seribu, Jakarta diprediksi terancam eksistensinya. Hal itu ditunjukkan lewat luas pulau yang kian menyempit. Kini, luas pulau tersebut diperkirakan hanya tersisa satu hektare saja.

Yang paling menghawatirkan, pada tahun 2050, Pulau Bali diprediksi akan terendam seluas 489 km. Hal itu disebabkan oleh curah hujan yang terus meningkat dalam jangka panjang.

Selain terancam tenggelam, Pulau Bali juga diprediksi akan terbagi menjadi dua bagian. Nusa Dua akan menjadi pulau terpisah dari Pulau Bali.

Sementara, kabar terakhir yang dilansir Walhi, dua pulau yang berada di Sumatera Selatan yakni Pulau Betet dan Pulau Gundul sudah lenyap tenggelam. Sementara empat lainnya terancam tenggelam.

Informasi terbaru yang membuat kita makin bergidik datang dari Peneliti Ahli Utama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Eddy Hermawan yang mengatakan 115 pulau sedang dan kecil di Indonesia terancam hilang atau tenggelam akibat naiknya permukaan air laut.

"Tidak hanya Jakarta yang terancam, pulau-pulau kecil juga terancam," tutur Eddy di Jakarta, Kamis (16/9/2021).

Sulit untuk dibayangkan, 20 atau 30 tahun ke depan, kita tak akan lagi menemukan ratusan noktah kecil di peta Kepulauan Nusantara.

Tragedi di Perairan Nusakambangan

Kapal Pengayoman IV Tenggelam di Perairan Nusakambangan, 5 Orang Selamat 2 Meninggal Dunia

Liputan6.com 2021-09-17 13:45:13
Ilustrasi kapal tenggelam. Ilustrasi: Kriminologi.id

Kapal Pengayoman IV yang terbalik dan tenggelam di perairan Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah, Jumat pagi (17/9/2021). Petugas gabungan yang terdiri atas Basarnas Cilacap , TNI/Polri, dan Lembaga Pemasyarakatan Pulau Nusakambangan serta dibantu nelayan di sekitar lokasi turut mengevakuasi korban.

Koordinator Lapas Se-Nusakambangan Jalu Yuswa Panjang mengatakan, Kapal Pengayoman IV yang terbalik hingga akhirnya tenggelam itu membawa tujuh penumpang dan dua truk.

"Kapal Pengayoman IV betul tenggelam setelah terbawa arus putar. Muatan di atasnya ada truk miring dan kapal ikut miring lanjut tenggelam," kata Kepala Lapas Kelas I Batu Nusakambangan itu.

Ia mengatakan lima orang dari tujuh penumpang kapal Pengayoman IV dapat diselamatkan, sedangkan dua orang lainnya meninggal dunia.

Dalam kesempatan terpisah, Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan (KPP/Basarnas) Cilacap I Nyoman Sidakarya mengatakan lima korban selamat terdiri atas Subagyo Antoro yang merupakan nakhoda, Diki dan Melga selaku anak buah kapal, Suheris (sopir truk), serta Sulianto (penumpang).

"Sementara dua korban meninggal dunia terdiri atas Wahyu yang merupakan petugas lapas dan Kardim selaku sopir truk. Seluruh korban telah dievakuasi menuju RSUD Cilacap," tuturnya.

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.


Kronologi

Terkait dengan kronologi kejadian, dia mengatakan berdasarkan keterangan dari saksi, kapal Pengayoman IV berangkat dari Dermaga Wijayapura, Cilacap, menuju Dermaga Sodong, Pulau Nusakambangan, pada pukul 08.45 WIB dengan membawa dua buah truk dan tujuh penumpang termasuk sopir serta awak kapal.

"Di tengah perjalanan kurang lebih 1,8 kilometer, kapal terhantam angin lalu terbalik," ucap dia.

Kendati demikian, dia mengatakan pihaknya akan mengerahkan penyelam dari Basarnas, Pangkalan TNI Angkatan Laut Cilacap, Polres Cilacap, maupun komunitas guna memastikan kemungkinan adanya korban lain dalam kejadian tersebut.


Simak juga video pilihan berikut ini:

Taliban Kehabisan Uang

Taliban Sita Uang Mantan Pejabat Afghanistan Lantaran Kehabisan Uang

Liputan6.com 2021-09-17 07:01:10
Pejuang Taliban menguasai Istana Kepresidenan Afghanistan di Kabul, Afghanistan, Minggu (15/8/2021). Taliban menduduki Istana Kepresidenan Afghanistan setelah Presiden Afghanistan Ashraf Ghan

Taliban berhasil menyita uang tunai dan emas senilai lebih dari 12 juta dolar AS dari penggeledahan yang dilakukan terhadap mantan pejabat pemerintahan Afghanistan.

Saat ini Afghanistan tengah mengalami kelangkaan uang tunai, demikian dikutip dari laman DW Indonesia, Jumat (17/9/2021).

Bank sentral Afghanistan pada hari Selasa (14/09) mengatakan bahwa Taliban menyita uang tunai dan emas senilai lebih dari 12 juta dolar AS (lebih dari Rp 170 miliar) dari para mantan pejabat pemerintah.

Taliban kemudian menyerahkan hasil sitaan tersebut ke bank.

Menurut sebuah pernyataan dari bank sentral, penggeledahan oleh Taliban terjadi di kediaman mantan Wakil Presiden Amrullah Saleh, dan "sejumlah pejabat tinggi pemerintah."

Sejak mengambil alih kekuasaan di Afghanistan, Taliban juga mengambil alih kendali atas bank sentral.

Dalam sebuah cuitan, bank sentral memperlihatkan beberapa pria tampak serius menghitung tumpukan uang tunai.


Bank Sentral Kehabisan Uang Tunai

Sejak Afghanistan dikuasai Taliban, bank-bank di Afghanistan kehabisan uang tunai. Beberapa di antaranya bahkan berada di ambang penutupan.

Bank-bank yang mengalami kesulitan lantas menyampaikan kekhawatirannya perihal kelangkaan uang tunai kepada Taliban.

Sebagai respons, Taliban meluncurkan penyelidikan terhadap aset-aset para mantan pejabat pemerintah yang kemudian berujung pada terjadinya penyitaan aset.

Dalam pernyataan bank sentral, hanya Amrullah Saleh satu-satunya pejabat yang disebutkan namanya. Ia diyakini tengah berada di pegunungan Panjshir bersama para pejuang oposisi lainnya.

Sebelumnya, mantan presiden Afghanistan Ashraf Ghani juga dituduh melarikan diri dengan membawa uang jutaan dolar. Namun Ghani membantah tuduhan tersebut dengan menyebutnya sebagai tuduhan "tidak berdasar."


Pembekuan Aset Asing Memperburuk Masalah Keuangan

Bank-bank di Afghanistan pun terpaksa harus menjatah jumlah uang yang akan dikeluarkan di kantor-kantor cabangnya. Hal ini dilakukan agar bank tidak benar-benar kehabisan uang. Batas penarikan mingguan yang dilaporkan adalah sebesar $200 (sekitar Rp 2,8 juta).

Masalah keuangan di Afghanistan turut diperparah dengan dibekukannya aset asing bank sentral sejak Taliban mengambil alih kekuasaan.

Menurut mantan gubernur bank tersebut, Ajmal Ahmadi, jumlah aset yang dibekukan diperkirakan sekitar $10 miliar (lebih dari Rp 142 triliun).

Meski begitu, bank sentral yang dikendalikan Taliban mengklaim bahwa semua operasi komersial berlangsung di bawah pengawasan ketat dan melaporkan semua operasi berjalan lebih baik dari sebelumnya. "Bank-bank semuanya aman," kata pelaksana tugas gubernur bank sentral.

Misteri Batu Terbelah Sempurna

Formasi Batu Misterius Terbelah Sempurna di Arab Saudi Bikin Bingung, Karya Alien?

Liputan6.com 2021-09-16 19:40:35
Batu ini terbelah di bagian tengah dengan sempurna

Tayma Oasis yang terletak di Arab Saudi adalah rumah bagi misteri geologi yang telah berusia 4.000 tahun. Salah satu bentuk batu aneh yang terkenal adalah Al Naslaa, batuan ini memiliki formasi aneh, karena di tengah dua batu pasir itu terdapat jejak pemisahan yang sempurna seperti menggunakan sinar laser.

Dilansir dari Oddity Central, Kamis (16/9/2021), formasi batuan Al Naslaa yang terkenal di dunia terdiri dari dua batu pasir besar yang terdapat alas alami dengan ukuran yang kecil. Tapi yang benar-benar menarik perhatian adalah pemisahan sempurna antara dua batu besar, yang tampak seperti dilakukan dengan sinar laser.

Pemisahan dua batu pasir ini menyebabkan banyaknya spekulasi di internet, seperti beberapa mengatakan bahwa Al Naslaa adalah bukti peradaban kuno yang mungkin lebih maju daripada yang diceritakan dalam sejarah. Banyak orang yang kagum dengan pemisahan dua batu pasir yang sempurna, karena retakannya sangat tepat dan lurus sehingga terlihat seperti seseorang memotong batu pasir menjadi dua dengan laser.

Al Naslaa hanyalah salah satu dari banyak batu di Tayma Oasis yang memiliki penampilan unik, tetapi belahan yang hampir sempurna inilah yang membuat banyak orang tertarik.

Formasi batu Al Naslaa telah menciptakan kebingungan di antara ahli geologi dan sejarawan sejak pertama kali ditemukan, karena tidak ada yang benar-benar dapat menjelaskan bagaimana tepatnya dua batu itu dapat terpisah dengan sempurna.

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.


Teori-Teori Batu Al Naslaa

Dua batu pasir dan alasnya dapat dikaitkan dengan elemen alam, namun pemisahan vertikal yang sempurna itu terlihat seperti buatan manusia.

Banyak ahli geologi yang percaya bahwa perpecahan yang sempurna itu memiliki penyebab alami seperti gerakan tektonik. Teori ini dipercaya karena jika Bumi bergeser walaupun hanya sedikit, cukup untuk menyebabkan batu itu retak dan terpisah menjadi dua.

Ilmuwan lain yang percaya bahwa perpecahan itu benar-benar garis patahan, karena material di sekitar patahan biasanya cenderung lebih lemah dan lebih mudah terkikis. Namun, ada juga Ada orang yang percaya bahwa Al Naslaa terbentuk dari tanggul gunung berapi sehingga beberapa mineral yang lebih lemah akan mengeras di sana sebelum semuanya digali.

Spekulasi lain menyebutkan bahwa Al Naslaa adalah karya peradaban kuno yang maju atau alien. Kedua teori itu muncul karena banyak orang yang percaya bahwa garis itu terjadi karena perpecahan vertikal terlihat sempurna. Memang belum ada penjelasan secara ilmiah nya, namun, tampaknya teori tersebut tidak mungkin.

Selain garis pemisah yang lurus sempurna, ternyata terdapat lukisan kuno di permukaan batu aneh ini. Terdapat lukisan berupa kuda dan manusia di dekat bagian yang terbelah. Tapi tentu saja ahli geologi Arab Saudi, sampai kini belum dapat mengungkap asal muasal lukisan tersebut.

Penulis : Vania Dinda Marella


Infografis Batu Akik di Indonesia

 

Surat Wasiat Pangeran Philip

Surat Wasiat Pangeran Philip Dirahasiakan Selama 90 Tahun ke Depan, demi Lindungi Ratu Elizabeth II

Liputan6.com 2021-09-17 12:20:00
Dalam foto file 18 November 2017 ini memperlihatkan Ratu Inggris Elizabeth II dan Duke of Edinburgh Pangeran Philip, berpose untuk foto di Broadlands yang menandai ulang tahun pernikahan berl

Sebagian besar penduduk dunia yang hidup saat ini tampaknya tak akan bisa mengetahui isi surat wasiat Pangeran Philip. Pasalnya Pengadilan Tinggi telah memutuskan untuk merahasiakan hal ini dari publik selama 90 tahun, diwartakan BBC, Jumat (17/9/2021).

Alasannya adalah untuk melindungi martabat dan kedudukan Ratu Elizabeth II.

Sekadar informasi, selama lebih dari satu abad telah menjadi tradisi bahwa bila seorang anggota senior Kerajaan Inggris meninggal dunia, pengadilan diminta untuk menyegel surat wasiatnya.

Setelah 90 tahun lewat, nantinya akan digelar proses secara privat untuk menentukan apakah surat wasiat ini akan dibuka ke khalayak atau tidak.

Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.


Meningkatkan Perlindungan

Sidang penentuan untuk menyegel surat wasiat Pangeran Philip juga digelar secara privat, dipimpin oleh Sir Andrew McFarlane. Ia adalah hakim paling senior di pengadilan keluarga.

"Ada kebutuhan untuk meningkatkan perlindungan untuk sejumlah aspek yang benar-benar pribadi dari hidup sekelompok individu ini untuk menjaga martabat Yang Mulia dan anggota keluarga dekatnya," kata Sir Andrew.


30 Amplop

Sir Andrew mengatakan bahwa sebagai Presiden Divisi Keluarga di Pengadilan Tinggi, ia merupakan wali dari brankas yang berisi lebih dari 30 amplop. Masing-masing amplop berisi surat wasiat yang disegel, dari para anggota Keluarga Kerajaan yang telah mangkat.

Disebutkan pula bahwa untuk kali pertama selama lebih dari satu abad, ia menetapkan ada proses yang memungkinkan surat wasiat ini dibuka ke publik.


Sejak 1910

Sir Andrew menjelaskan, tradisi ini bermula setelah Pangeran Francis of Teck, adik dari Ratu Mary, meninggal pada 1910.

Menurut pakar hukum dan kerajaan Michael L Nash, mekanisme legal baru ini dilakukan setelah sang pangeran mewariskan permata emerald yang berharga dari Ratu Mary, kepada salah satu selirnya, Countess of Kilmorey.


Kematian Pangeran Philip

Seperti diketahui, Pangeran Philip meninggal dunia dalam usia 99 tahun, pada 9 April 2021 dua bulan menjelang ulang tahunnya yang seabad. Upacara pemakamannya digelar di Kapel St George di Windsor Castle, dengan protokol kesehatan ketat.

Gaun-Gaun Pria di Met Gala

Saat Para Pesohor Pria Menormalkan Pemakaian Gaun di Ajang Met Gala 2021

Liputan6.com 2021-09-17 12:03:23
Busana Jordan Roth dalam Met Gala 2021. (dok. Instagram @jordan_roth/https://www.instagram.com/p/CTyBlLes_Q5//Gabriella Ajeng Larasati)

'Pakaian tidak memiliki jenis kelamin', begitulah alasan yang kerap dilontarkan saat seseorang memakai di luar kebiasannya. Makin banyak pria bertubuh tegap tak lagi malu mengenakan gaun ataupun rok yang identik sebagai busana wanita. Itu pula yang tergambar dari penampilan sederet pesohor pria yang berpose di karpet merah Met Gala 2021.

Tampilan para selebritas pria itu seolah menormalkan penggunaan rok sebagai busana unisex. Apapun jenis kelaminnya, bisa memakainya. Terlebih, Met Gala merupakan acara prestisius bagi pecinta fesyen yang bahkan dianggap sebagai ajang Oscar-nya pelaku industri fesyen dunia.

Siapa saja selebritas pria yang 'mendobrak batas' di Met Gala 2021? Simak rangkumannya yang dilansir dari berbagai sumber, Rabu, 15 September 2021.

1. Jordan Roth

Roth yang berprofesi sebagai produser teater turut hadir di acara Met Gala 2021 dengan menggunakan busana Michael Sylvan Robinson. Busana ini tampak seperti setelan jas setengah gaun.

Roth berkolaborasi dengan desainer itu untuk merancang gaunnya. Dalam akun media sosial Instagramnya, ia membagikan pemikirannya ketika berkolaborasi dengan Robinson yang mengatakan, 'Identity is a construction, as a garment is a construction' (identitas adalah susunan, sebagaimana pakaian adalah susunan).

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.


2. Pete Davidson

Aktor dan presenter itu tampil mengenakan gaun selutut hitam yang dibalut dengan piped jacket putih dan sepatu kets bertali. Busana itu didesain oleh Thom Browne.

Pete melengkapi penampilannya dengan perhiasan yang didesain oleh Fred Leighton. Tak lupa, ia memakai kacamata hitam saat bergaya di karpet merah. Komedian itu mempersembahkan penampilannya di Met Gala untuk sang ayah yang gugur saat menara kembar WTC ambruk karena serangan teroris pada 11 September 2001.


3. Kid Cudi

Dalam acara Met Gala ini, Kid Cudi terlihat mengenakan gaya street style dengan sweater berwarna biru dan bawahan celana berwarna hitam yang dilapisi oleh rok semi transparan bermotif pada lapisan luarnya.

Kid Cudi merupakan rapper asal Amerika Serikat yang pernah membintangi film Need For Speed pada 2014 silam dan dikenal mendorong batas-batas dunia fesyen. Ia melengkapi busananya dengan menggunakan kalung kolaborasi dari KAWS x Ben Baller seharga 1 juta dolar Amerika Serikat atau hampir mencapai Rp 14,3 miliar.


4. Jeremy O. Harris

Jeremy O. Harris mengenakan pakaian bernuansa hitam dan kuning. Harris dikenal dalam sebuah pertunjukan Broadway yang berjudul Slave Play. Ia juga turut memproduseri acara HBO yang populer, Euphoria.

Busana yang dikenakan Harris dirancang oleh desainer Amerika Serikat, Tommy Hilfigher. Dia mengatakan bahwa busana ini terinspirasi dari penyanyi Aaliyah.

Kemeja hitam terbuka dipadukan dengan celana lipit yang terinspirasi dari setelan Zoot pada 1920-an. Tidak lupa, jaket bomber berwarna kuning yang berukuran besar menyerupai rok melengkapi penampilannya malam itu. (Gabriella Ajeng Larasati)


6. Troye Sivan

Penyanyi asal Australia itu tak kalah menghebohkan saat tampil di karpet merah Met Gala 2021 dengan mengenakan backless dress berwarna hitam. Gaun dengan potongan rendah di dada dan terbuka di pinggang itu dipadukan dengan kalung berlian Cartier dan gelang kulit hitam di lengan kirinya.

Troye menyempurnakan penampilannya dengan sepatu bot kulit hitam bersol tebal. Wajahnya dirias natural dengan rambut ikalnya hanya ditata acak.


5 Tips Cegah Jerawat Saat Pakai Masker

 

WC Khusus untuk Sapi

Jerman Latih Sapi Untuk Buang Air di Toilet, Cukup 15 Hari Sudah Mengerti

Liputan6.com 2021-09-17 09:02:02
Ilustrasi sapi (pixabay)

Toilet training, belajar buang air di toilet, kadang-kadang perlu waktu berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun untuk anak balita. Tetapi sapi hanya perlu waktu 15 hari untuk dilatih demikian, kata para peneliti.

Mereka telah menemukan cara melatih sapi untuk kencing di toilet khusus di Jerman. Gagasan ini berasal dari pertanyaan separuh bergurau dalam suatu acara bincang-bincang radio, tetapi kini dapat membantu melindungi lingkungan.

Para ilmuwan perilaku hewan dalam suatu proyek penelitian berhasil melatih 11 dari 16 sapi Holstein untuk kencing di toilet. Yang lebih mengejutkan, pelatihan itu berjalan mudah, kata penulis senior penelitian tersebut, demikian dikutip dari laman VOA Indonesia, Jumat (17/9/2021).

Lindsay Matthews, penulis senior dan ilmuwan perilaku hewan di University of Auckland di Selandia Baru mengatakan, "Hal yang benar-benar mengejutkan di sini adalah betapa cepatnya sapi-sapi belajar dibandingkan dengan anak-anak. Jadi dengan pelatihan yang sangat intensif, sebagian anak dapat belajar dalam hitungan sekitar satu hari. Tetapi sebagian besar anak-anak, sebagaimana Anda ketahui, perlu cukup banyak waktu dan kadang-kadang hari, minggu atau bulan. Kami hanya mengadakan 15 latihan dengan hewan-hewan ini dan rata-rata sapi-sapi itu 20-25 kali kencing, dan mereka sepenuhnya terlatih."

Hanya dalam waktu 15 hari, para peneliti menggunakan sistem hadiah dan sentuhan hukuman untuk membuat sapi masuk ke gerbang yang ditetapkan, masuk ke kandang tertutup yang disebut "MooLoo", dan kemudian buang air kecil saja di sana.

Begitu selesai, sapi-sapi diberi hadiah minuman sangat manis yang sebagian besar mengandung tetes tebu. Kalau kencing di luar MooLoo, sapi akan mendapat semprotan air dingin.

Karena terbatasnya waktu eksperimen, para peneliti memberi diuretik kepada hewan tersebut agar lebih sering kencing. Meskipun eksperimen ini berasal dari pertanyaan setengah bercanda di sebuah acara bincang-bincang radio Selandia Baru, motif di balik penelitian ini sangatlah serius.

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.


Limbah Sapi Kerap Sebabkan Masalah Lingkungan

Sejumlah besar limbah urine sapi dapat menjadi masalah lingkungan yang penting, terutama di Eropa, menurut para peneliti.

"Sapi sangat sering buang air kecil. Seekor sapi dapat menghasilkan sekitar 30 liter urine per hari," kata Matthews.

Apabila hewan ternak itu tinggal di dalam ruang, urine dan feses kerap bercampur, menghasilkan amonia, gas yang menyebabkan hujan asam. Jika sapi itu hidup di luar ruangan, ini menimbulkan masalah lainnya.

Matthews mengemukakan, "Sewaktu ternak tinggal di luar ruangan, urea dapat berubah menjadi nitrat di dalam tanah dan kemudian hanyut dan menimbulkan polusi saluran air, menyebabkan berbagai masalah di saluran air. Dan juga, kalau konsentrasi nitrat terlalu tinggi, ini menyebabkan blue babies (red. - kondisi keracunan nitrat pada bayi yang menyebabkan kulit membiru) dan berbagai macam hal lainnya. Jadi, ini masalah nitrat langsung di dalam tanah. Kemudian nitrat diubah menjadi nitro oksida, yang 300 kali lebih kuat daripada karbon dioksida."

Pada tahun 2019, nitro oksida merupakan tujuh persen dari seluruh gas rumah kaca di AS, menurut Badan Perlindungan Lingkungan Hidup AS.

Tetapi masalah lingkungan terbesar bagi hewan ternak adalah gas metana yang mereka keluarkan dalam bentuk sendawa dan buang angin, sumber pemanasan global yang signifikan. Eksperimen tadi menunjukkan betapa mudah untuk melakukan toilet training hewan-hewan lain dan betapa cerdasnya sapi, kata Matthews. Ia memperkirakan teknik yang sama dapat digunakan untuk domba, babi dan hewan ternak lainnya.

Terimakasih, Atlet Paralimpiade

Jokowi Temui Atlet Paralimpiade Tokyo 2020 ke Istana Bogor

Liputan6.com 2021-09-17 09:08:29
Angkatannya hanya unggul 1 kg dari atlet Venezuela, Fuentes Monasterio yang meraih perunggu. Medali emas direbut atlet asal Cina, Guo Lingling dengan angkatan 108 kg yang juga memecahkan reko

Presiden Jokowi bertemu dengan para atlet Indonesia yang mengikuti ajang Paralimpiade Tokyo 2020 di Istana Kepresidenan, Bogor, Jawa Barat. Pada kesempatan itu, Jokowi memberikan apresiasi berupa bonus yang diberikan kepada peraih medali emas, perak, dan perunggu.

"Pemerintah memberikan pengharagaan apresiasi berupa bonus Rp 5,5 miliar kepada peraih emas, Rp 2,5 miliar peraih medali perak, Rp 1,5 miliar medali perunggu. Dan bonus juga diberikan para atlet nonperaih medali," kata Jokowi saat memberikan sambutan saat bertemu para atlet, Jumat(17/9/2021).

Tidak hanya itu, pemerintah juga memberikan bonus untuk para pelatih. "Pelatihnya (juga dapat), tetapi jumlah saya tidak sebutkan di sini. Ada yang membisiki biar Pak Menpora," ungkap dia.

Jokowi berharap, prestasi yang didapat para atlet paralimpiade tersebut menjadi inspirasi seluruh masyarakat. Sehingga memberikan prestasi lebih banyak untuk bangsa dan negara.

"Semoga prestasi ini menjadi inspirasi kita semuanya, bagi para atlet, maupun masyarakat Indonesia. Agar terus memberikan prestasi untuk bangsa dan untuk negara," pungkasnya.


Melebihi Capaian Target

Sebelumnya diketahui Kontingen Indonesia sukses besar di Paralimpiade Tokyo 2020. Tim Merah Putih berhasil memboyong 9 medali, sekaligus menorehan sejarah sepanjang keikutsertaannya di event olah raga dunia ini.

Atlet-atlet Indonesia yang berlaga di Paralimpiade Tokyo menghasilkan 2 medali emas, tiga perak, dan empat perunggu.

Torehan ini melebihi target yang ditetapkan sebelumnya di pesta olahraga atlet disabilitas ini, yakni satu emas, satu perak, dan tiga perunggu.

Reporter: Intan Umbari Prihatin

Sumber: Merdeka.com

Lumba-Lumba Korban Pembantaian

Lebih dari 1.400 Lumba-Lumba Mati dalam Pembantaian Massal di Kepulauan Faroe

Liputan6.com 2021-09-17 07:30:24
Ilustrasi Lumba-lumba (Sumber: Pixabay)

Sekitar 1.400 lumba-lumba bersisi putih dibunuh di Kepulauan Faroe, negara kecil yang masih termasuk dalam wilayah Kerajaan Denmark ini. Jumlah tersebut mencatatkan rekor tertinggi selama musim perburuan yang mengerikan itu.

Kumpulan lumba-lumba tersebut didorong dari tengah laut ke daerah sempit di pinggir laut (di antara tebing atau bukit terjal) wilayah Atlantik Utara pada Minggu, 12 September 2021. Perahu menggiring mereka ke perairan dangkal di pantai Skalabotnur di Eysturoy, kemudian dibantai dengan pisau secara massal. Lalu, tubuh lumba-lumba ditarik ke darat dan dibagikan kepada penduduk setempat untuk dikonsumsi.

Dilansir dari CNN, 15 September 2021, dalam rekaman perburuan, lumba-lumba terlihat meronta-ronta di perairan dangkal yang memerah karena darah saat ratusan orang menonton dari pantai. Dikenal sebagai grind (atau Grindadrap dalam bahasa Faroe), perburuan mamalia laut, terutama paus dan lumba-lumba, adalah tradisi yang telah dipraktikkan selama ratusan tahun di negara kecil itu.

Pemerintah setempat mengatakan rata-rata sekitar 600 paus pilot ditangkap setiap tahun. Menurut data yang disimpan oleh Kepulauan Faroe, penduduk pulau itu biasanya membunuh hingga 1.000 mamalia laut setiap tahun.

Pembantaian lumba-lumba pada 12 September 2021 itu dikhawatirkan akan menghidupkan kembali diskusi yang bisa mengancam tradisi kuno tersebut. Menurut mereka yang mendukung, perburuan itu adalah cara berkelanjutan untuk mengumpulkan makanan dari alam dan bagian penting dari identitas budaya Faroe.

Di sisi lain, aktivis hak-hak hewan telah lama tidak setuju dan menganggap pembantaian itu kejam dan tidak perlu. Skala pembunuhan di Pantai Skalabotnur mengejutkan banyak penduduk setempat bahkan menuai kritik dari kelompok-kelompok yang terlibat dalam praktik tersebut.

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.


Pro dan Kontra

Lumba-lumba bersisi putih dan paus pilot yang juga sering diburu di Faroe, memang bukan spesies yang terancam punah. Setiap tahun, penduduk di Kepulauan Faroe akan membawa kawanan mamalia terutama paus pilot ke perairan dangkal. Lalu, mamalia malang itu akan ditikam sampai mati.

Menurut organisasi lingkungan Sea Shepherd dalam sejarah perburuan di kawasan tersebut, jumlah ini yang terbesar dalam sejarah Faroe. Jumlah lumba-lumba atau paus pilot yang dibantai sebanyak 1.200 terjadi pada 1940.

Sejak 1980-an Sea Shepherd telah mengkritik dan berjuang untuk menghentikan pembantaian cetacea tersebut. Perburuan ini juga telah menimbulkan pro dan kontra di Kepulauan Faroe.


Dilaporkan ke Polisi

Menurut penduduk setempat yang berbagi video dan foto dengan Sea Shepherd, perburuan ini melanggar beberapa peraturan Faroe yang mengatur Grind. Pertama, pihak distrik setempat tidak pernah diberitahu dan karena itu tidak pernah mengizinkan perburuan.

Kedua, banyak peserta perburuan tidak punya lisensi yang diperlukan di Kepulauan Faroe. Karena untuk kegiatan ini ada pelatihan khusus tentang cara membunuh paus pilot dan lumba-lumba dengan cepat. Namun, rekaman menunjukkan banyak lumba-lumba masih hidup dan bergerak bahkan setelah terlempar ke darat.

Ketiga, beberapa foto menunjukkan banyak lumba-lumba telah terkena baling-baling, yang bisa mengakibatkan kematian yang lambat dan menyakitkan. Menurut penduduk setempat, perburuan telah dilaporkan ke polisi Faroe.

Bjorg Jacobsen dari Kepolisian Faroe sebelumnya sudah mengatakan pada CNN bawah perburuan lumba-lumba itu termasuk legal, tapi dia tidak memberikan komentar lebih lanjut tentang kejadian di pantai tersebut.


Imbauan Penyembelihan Hewan Kurban Saat Pandemi Covid-19

 

Cara Ekstrem Nikmati Hidup

Demi Menikmati Hidup, Pria Ini Sengaja Tidur 30 Menit Sehari Selama 12 Tahun

Liputan6.com 2021-09-17 14:03:31
Ilustrasi Jam Tidur Credit: pexels.com/Archaporn

Tidur tentu menjadi kebutuhan pokok setiap individu. Namun, tampaknya itu tidak berlaku bagi seorang pria dari Jepang.

Daisuke Hori, pria berumur 36 tahun ini telah menghabiskan 12 tahun terakhir dalam hidupnya melatih pikiran dan tubuhnya untuk berfungsi hanya dengan tidur sesedikit mungkin. Itu juga dimaksudkan agar dia lebih bisa menikmati hidupnya.

Melansir dari Oddity Central, Jumat (17/9/2021), dia mengaku hanya tidur 30 menit sehari. Dia bahkan tidak merasa lelah atau mengantuk meski hanya mengistirahatkan tubuhnya sebentar.

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor0811 9787 670hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.


Ketua Asosiasi Pendek-Tidur Jepang

Hori memang sengaja mengurangi waktu tidur hariannya sekitar 8 jam sehari menjadi hanya 30 menit tanpa mengalami efek samping parah terkait kurang tidur.

Itu dilakukannya karena dia ingin menikmati hidup dan dia juga merupakan ketua "Asosiasi Pendek-Tidur Jepang." Kini dia mengajari orang lain cara mengurangi waktu tidur harian mereka sehingga mereka bisa lebih menikmati hidup.


Merasa tak puas hanya beraktivitas selama 16 jam dalam sehari

Kepada TV lokal, dia berbicara mengenai jadwal tidurnya yang kotroversial. Rupaya, dia selalu merasa bahwa waktu untuk beraktivitas selama 16 jam tidak cukup untuk melakukan semua hal yang dia inginkan setiap hari.

"Pada satu titik saya mulai meneliti dan bereksperimen dengan menurunkan rutinitas tidur hariannya dan selama beberapa tahun berhasil mengubah dari 8 jam menjadi hanya setengah jam tidur, sambil tetap sehat dan energik," kata Hori.


Buktikan rutinitas hariannya secara langsung di TV

Karena banyak penonton yang tidak percaya dengan apa yang dilakukannya, produser acara TV itu menantangnya untuk menunjukkan rutinitas hariannya di depan kamera selama tiga hari.

Di hari pertama, Hori bangun jam 8 pagi. Lalu dia pergi ke gym, kemudian membaca buku, menulis beberapa artikel untuk kolom mingguan, bermain video gim dan pergi keluar untuk makan malam bersama teman-temannya.

Setelah makan, dia membuat beberapa klip video pendek tentang rutinitas tidurnya untuk YouTube pribadinya. Kemudian dia makan lagi, melakukan beberapa pekerjaan di sekitar rumah dan mengobrol dengan orang-orang secara online.

Sekitar jam 2 pagi, akhirnya tiba waktunya untuk tidur. 26 menit kemudian dia bangun bahkan tidak menggunakan alarm. Dia lalu berpakaian dan pergi berselancar dengan beberapa teman di tengah malam, sebelum pergi ke gym dan akhirnya kembali ke rumah.


Penonton masih belum percaya

Selama tiga hari itu, Hori menghabiskan malamnya dengan bermain video gim dan mah-jong, berselancar dan berkumpul dengan teman-temannya.

Rekan-rekannya bahkan menjalani rutinitas seperti Hori, agar mereka bisa menikmati lebih banyak waktu berkualitas bersama.

Meski telah menunjukkan rutinitas hariannya di TV, banyak penonton bahkan tidak yakin bahwa Hori hanya tidur 30 menit sehari selama 12 tahun.

Kacamata Maharaja India

Kacamata Peninggalan Kekaisaran India Mughal Dilelang, Diperkirakan Bernilai Jutaan Dolar

Liputan6.com 2021-09-17 18:00:02
Ilustrasi kacamata (Photo by David Travis on Unsplash)

Kacamata milik bangsawan Kekaisaran Mughal akan dilelang mulai bulan depan. Dua pasang kacamata bertahtakan permata abad ke-17 ini diperkirakan akan terjual hingga jutaan dolar.

Tidak hanya bertahtakan permata, kacamata yang diyakini milik bangsawan yang pernah memerintah di Benua India itu memiliki lensa yang terbuat dari berlian dan zamrud, bukan dari kaca.

Kabarnya sepasang kacamata tersebut akan dijual dengan harga USD 2,1 juta hingga USD 3,5 juta.

Kacamata tersebut dirancang khusus untuk membantu pemakainya memperoleh pencerahan hingga menangkal kejahatan. Karena itulah untuk pertama kalinya, barang tersebut akan dipamerkan di depan umum tepatnya di New York, Hong Kong, dan London menjelang penjualannya bulan Oktober mendatang.

"Sejauh yang kami tahu, tidak ada yang lain seperti barang itu," tutur ketua Sotheby Timur Tengah dan India Edward Gibbs, seperti dikutip dari CNN, Jumat (17/9/2021).

Sementara itu menurut ahli perhiasan Mughal, kacamata itu adalah barang yang sangat langka. Kelangkaannya dapat terukur dari ukuran lensa batu permatanya.

Lensa yang terdapat pada pasang pertama dikenal dengan "Halo of Light". Lensa tersebut diyakini berasal dari 200 karat berlian tunggal yang ditemukan di Golconda, sebuah wilayah di negara bagian Andhra Pradesh dan Telangana di India.

Sementara untuk lensa kedua, dijuluki sebagai "Gate of Paradise". Lensa berwarna hijau ini diyakini berasal dari zamrud Kolombia dengan berat lebih dari 300 karat.

Di samping itu, Gibbs beropini bahwa kacamata tersebut memang hanya dimiliki oleh seorang kaisar. Sebab, terlihat dari ukuran batu asli yang menandakan identitas pemilik pertama dari kacatama tersebut.

Tanda tersebut bisa berupa dirinya yang berada dalam lingkaran atau seorang punggawa berpangkat tinggi.

Gibbs mengatakan, "Batu permata apa pun dengan ukuran, besaran, atau nilai ini akan dibawa langsung ke istana Mughal."

Mengapa demikian? Sebab, batu permata begitu sangat dihargai dalam tradisi Islam dan India. Di sana ada asosiasi yang kuat dan ini menyangkut spiritualitas.

Menurut Gibbs, berlian diasosiasikan dengan "calestial light" dan "enlightenment" di masyarakat India. Sebab, batu tersebut diyakini sebagai "vehicles fot astral forces" yang dapat menyalurkan niat baik alam semesta.

Sedangkan pemberian warna hijau, ini merupakan warna yang berkaitan dengan surga, keselamatan, dan kehidupan abadi dalam Islam, agama yang dipraktikkan oleh penguasa Mughal.


Sekilas Kekaisaran Mughal dan Kacamata

Kekaisaran Mughal terkenal karena telah berjasa dalam memajukan keahlian perhiasan di Asia Selatan. Kacamata ini adalah salah satu peninggalannya. Pada abad ke-17, wilayah dari bagian India ini adalah satu-satunya sumber berlian di dunia, kata Gibbs.

Oleh sebab itu, wilayah ini menjadi pelopor beberapa teknik paling canggih pada zamannya. Khususnya membuat lensa kacamata ini, butuh keterampilan teknis yang luar biasa serta penguasaan ilmiah, kata Gibbs. Sebab, hanya pemotong batu permata Mughal yang bisa mengukirnya dengan tangan, tanpa ada kesalahan.

"Ada risiko besar untuk memotong batu dan ukurannya. Jika salah, Anda kehilangan batu tersebut," kata Gibbs.

Menurut Gibbs, ahli permata dari Eropa yang berkunjung ke Istana Mughal kemungkinan besar memengaruhi desain kacamata tersebut. Kedatangan misionaris Jesuit yang mengenakan kacamata pince-nez mungkin yang memengaruhi bingkai asli kacamata ini.

Namun, pada akhir abad ke-19, kedua bingkai ini diganti dengan yang seperti sekarang. Dengan menampilkan banyak berlian di sepanjang bingkai dan penghubung kedua lensa.

Sementara itu untuk lensa berwarna, orang-orang seperti Kaisar Nero menyukai kacamata ini. Konon, dia mengenakan kacamata tersebut untuk menghindari matanya agar tidak melihat darah.

Menurut Sotheby, cerita serupa pun dirasakan oleh Kaisar Mughal Shah Jahan yang dikatakan menggunakan lensa zamrud untuk menutupi matanya setelah menangis berhari-hari akibat kematian istrinya Mumtaz Mahal.

Reporter: Aprilia Wahyu Melati