Penampakan Ferdy Sambo Usai Dipecat

Penampakan Ferdy Sambo Usai Dipecat dari Polri

Liputan6.com 2022-08-26 06:32:08
Penampakan Irjen Ferdy Sambo usai dipecat dari Polri lewat sidang Komisi Kode Etik Polisi (KKEP). (Foto: Merdeka.com)

Mantan Kadiv Propam Irjen Ferdy Sambo resmi dipecat dari Polri lewat sidang Komisi Kode Etik Polisi (KKEP) yang berlangsung selama hampir 17 jam.

Sidang KKEP terhadap Ferdy Sambo atas perkara pelanggaran etik penanganan kasus kematian Brigadir J alias Nofryansyah Yoshua Hutabarat ini berlangsung sejak Kamis (25/8/2022) pukul 09.25 WIB hingga Jumat (26/8/2022) dini hari pukul 02.00 WIB.

Usai persidangan, Ferdy Sambo yang masih berseragam lengkap dengan pangkat jenderal bintang dua di pundaknya itu keluar dari ruang sidang. Dia keluar dengan pengawalan sejumlah anggota Propam Polri.

Tanpa berbicara sedikit pun, Sambo langsung berjalan keluar dengan raut wajah tanpa ekspresi alias datar. Pandangan matanya menatap lurus ke depan. Sementara anggota Propam dari pangkat Inspektur Satu (Iptu) hingga Komisaris Besar (Kombes) turut mengawal dia keluar.

Penampakan Irjen Ferdy Sambo usai dipecat dari Polri lewat sidang Komisi Kode Etik Polisi (KKEP). (Foto: Merdeka.com)

Mantan Kadiv Propam Polri ini juga terlihat menenteng sebuah map berwarna hijau. Diduga map tersebut berisi surat permohonan maaf kepada Polri yang ia tulis tangan.

Sidang Komisi Kode Etik Polisi (KKEP) ini diketahui dipimpin oleh Kabaintelkam Polri Komjen Ahmad Dhofiri sebagai ketua, Kepala STIK Polri Irjen Yazid Fanani Wakil Ketua, Kadiv Propam Polri Irjen Syahar Diantono, Wairwasum Polri Irjen Tornagogo Sihombing dan Irjen Rudolf sebagai anggota.

Sidang etik ini menghadirkan 15 orang saksi meliputi tersangka kasus pembunuhan Brigadir J hingga sejumlah anggota Polri yang mengetahui peristiwa kematian ajudan Ferdy Sambo itu di Duren Tiga, Jakarta Selatan.

15 orang saksi itu meliputi, Bripka Ricky Rizal, Bharada Richard Eliezer, Kuwat Maruf, Brigjen Hari Nugroho, Brigjen Hendra Kurniawan, Brigjen Benny Ali, AKBP Arif Rahman, Kombes Agus Nurpatria, Kombes Susanto, Kombes Budhi Herdi Susianto, AKP Rifaizal Samual, AKBP Ari Cahya, Kompol Chuck Putranto, AKBP Ridwan Rheky Nellson Soplanit, dan Kombes Murbani Budi Pitono.

Reporter: Nur Habibie

Merdeka.com


Bacakan Permohonan Maaf ke Polri

Mantan Kadiv Propam Irjen Ferdy Sambo resmi dipecat dari Polri. Pemberhentian tidak dengan hormat (PTDH) ini dijatuhkan atas pelanggaran etik penanganan kasus kematian Brigadir J alias Nofriansyah Yosua Hutabarat di rumah dinasnya.

Keputusan ini dibacakan dalam sidang Komisi Etik Profesi Polri (KEPP) yang digelar di Gedung Transnational Crime Center (TNCC) sejak Kamis 25 Agustus 2022 hingga Jumat (26/8/2022) dini hari.

Setelah keputusan pemecatan dibacakan, Ferdy Sambo kemudian menyampaikan permohon maaf kepada seluruh anggota Polri yang ikut terseret dalam kasus pelanggaran kode etik ini.

Irjen Ferdy Sambo meminta izin kepada ketua dan majelis KEPP membacakan sepucuk surat tulisan tangan dirinya. Sambo menyadari perbuatannya telah meruntuhkan kepercayaan publik terhadap intitusi Polri.

"Mohon izin ketua dan majelis KEPP, izin kami menyampaikan tembusan permohonan maaf berupa tulisan kepada senior dan rekan sejawat anggota Polri atas perilaku palanggaran kode etik yang sudah kami lakukan dan menyebabkan jatuhnya kepercayaan masyarakat kepada institusi Polri," kata Ferdy Sambo di ruang sidang, Jumat (26/8/2022).

Ferdy Sambo mengaku telah menyampaikan surat ini ke Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo. Sekarang, ia akan menyerahkan surat permohonan maaf ini kepada ketua dan majelis KEPP.

"Kami mohon izin menyampaikan kepada ketua dan majelis komisi kode etik pada hari ini," ujar dia.

"Dibacakan sekarang?" tanya Ketua Sidang, Komjen Ahmad Dhofiri.

"Siap," jawab Irjen Sambo.


Isi Surat Ferdy Sambo

Berikut isi surat permohonan maaf Ferdy Sambo:

"Permohonan maaf kepada senior dan rekan perwira tinggi perwira menengah perwira pertama dan rekan Bintara"

"Rekan dan senior yang saya hormati dengan niat yang murni. Saya ingin menyampaikan rasa penyesalan dan permohonan maaf yang mendalam atas dampak yang muncul secara langsung pada jabatan yang senior, dan rekan-rekan jalankan dalam institusi Polri, atas perbuatan saya yang telah saya lakukan"

"Saya meminta maaf kepada para senior, dan rekan-rekan semua yang secara langsung merasakan akibatnya. Saya mohon permintaan maaf saya dapat diterima dan saya menyatakan siap untuk menjalankan setiap konsekuensi sesuai hukum yang berlaku saya, juga siap menerima tanggung jawab dan menanggung seluruh akibat hukum yang dilimpahkan kepada senior rekan-rekan yang terdampak".

"Semoga kiranya rasa penyesalan dan permohonan maaf ini dapat diterima dengan terbuka dan saya siap-siap menjalani proses hukum ini dengan baik, sehingga segera mendapatkan keputusan yang membawa rasa keadilan bagi semua pihak. Terima kasih semoga Tuhan senantiasa melindungi kita semua".

<p>Infografis Irjen Ferdy Sambo Tersangka Pembunuhan Berencana Brigadir J. (Liputan6.com/Trieyasni)</p>

Dipecat, Ferdy Sambo Ajukan Banding

Ferdy Sambo Ajukan Banding Usai Dipecat

Liputan6.com 2022-08-26 02:22:34
Kadiv Propam Polri nonaktif Irjen Pol Ferdy Sambo usai menjalani pemeriksaan di Bareskrim Polri, Jakarta Selatan, Kamis (4/8/2022). Irjen Pol Ferdy Sambo meninggalkan Bareskrim Mabes Polri us

Irjen Ferdy Sambo diputuskan melanggar kode etik oleh Sidang Kode Etik Polri dengan sanksi pemecatan tidak dengan hormat atau PTDH. Meski mengakui pelanggaran yang dilakukan, Sambo masih melakukan upaya banding terhadap putusan itu.

"Mohon ijin ketua, sebagaimana kami sampaikan dalam proses persidangan dan mendengar putusan, kami mengakui semua perbuatan dan menyesali semua perbuatan yang kami telah lakukan terhadap institusi Polri," kata Sambo di ruang sidang Gedung Mabes Polri Jakarta, Jumat (26/8/2022).

"Namun mohon ijin, ijinkan kami mengajukan banding, apapun keputusan banding kami siap untuk melaksanakan," lanjut Sambo.

Diberitakan sebelumnya, Irjen Ferdy Sambo resmi dipecat secara tidak hormat dari Polri. Keputusan dikeluarkan oleh Komisi Etik Profesi Polri (KEPP) pada Jumat (26/8/2022) dini hari. Ketua Sidang, Komjen Ahmad Dhofiri menyampaikan, majelis sidang kode etik memberi rekomendasi berupa Pemberhentian Tidak Dengan Hormat (PTDH) terhadap Irjen Ferdy Sambo.

"Pemberhentian dengan tidak hormat atau PTDH sebagai anggota Polri," kata Dhofiri saat konferensi pers, Kamis malam.


Perbuatan Tercela

Dhofiri menyampaikan, perbuatan terperiksa termasuk perbuatan tercela. Karena itu, ditempatkan dalam tempat khusus selama 4 hari dari tanggal 8 Agustus 2022 sampai 12 Agustus 2022 di Rutan Pondok Kopi.

"Dan penempatan dalam tempat khusus tersebut telah dijalani pelanggar," ujar dia.

Irjen Ferdy Sambo menjalani Sidang Kode Etik sejak pukul 09.25 WIB di Gedung Transnational Crime Center (TNCC) Mabes Polri. Dalam persidangan ini, sebanyak 15 orang memberikan kesaksian di hadapan majelis hakim.

Bertindak sebagai Ketua Sidang, Komjen Ahmad Dhofiri sedangkan anggota komisi, Komjen Agung Budi Maryoto, Irjen Pol Syahardiantono, Irjen Yazid Fanani dan Irjen Rudolf Alberth Rodja.

Pertengkaran di Magelang Akibat Wanita Lain?

Pengacara Brigadir J Tegaskan Pertengkaran Ferdy Sambo-Putri di Magelang Akibat Wanita Lain

Liputan6.com 2022-08-26 14:39:53
Banner Infografis Putri Candrawathi Istri Ferdy Sambo Jadi Tersangka Kasus Pembunuhan Brigadir J. (Liputan6.com/Abdillah)

Kuasa Hukum keluarga Brigadir J, Kamaruddin Simanjuntak kembali menegaskan bahwa terjadi pertengkaran antara Irjen Ferdy Sambo dan Putri Candrawathi di Magelang, sebelum peristiwa pembunuhan Brigadir J. Adapun alasannya disebut terkait adanya wanita lain.

"Karena ada wanita lain," tutur Kamaruddin di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Jumat (26/8/2022).

Menurut Kamaruddin, Putri Candrawathi tampak masih bersikap baik dengan Brigadir J selama berada di Magelang. Hal itu terbukti dari bukti percakapan pesan singkat.

"Di Magelang Ibu PC itu aktif ber-WA kepada adek almarhum dan dia bukan sebagai korban tapi dia ceria bahagia kan gitu," jelas dia.

Termasuk soal adanya tangkapan layar Putri Candrawathi yang memuji Brigadir J lantaran terampil dalam berbagai hal, termasuk mensetrika pakaian.

"Ada foto lagi setrika juga, yang dia memuji-muji almarhum rajin banget, semangat sampai multi talenta, sampai bingung mau dikasih gaji berapa," Kamaruddin menandaskan.


Kapolri: Motif Ferdy Sambo Lakukan Pembunuhan Brigadir J Terkait Kesusilaan

Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo menyatakan bahwa motif kasus dugaan pembunuhan berencana Brigadir J yang dilakukan oleh Irjen Ferdy Sambo adalah terkait kesusilaan. Dia pun menyatakan tidak ada motif lain selain hal tersebut.

"Saat ini kami sampaikan bahwa motif ini dipicu adanya laporan ibu PC terkait masalah-masalah kesusilaan. Jadi mungkin ini untuk menjawab isunya antara pelecehan atau perselingkuhan sedang kita dalami. Tidak ada isu di luar itu," tutur Listyo saat Rapat Dengar Pendapat bersama Komisi III DPR RI di Gedung DPR RI, Jakarta, Rabu (24/8/2022).

Menurut Listyo, pihaknya juga telah menjadwalkan pemeriksaan terhadap Putri Candrawathi selaku istri Ferdy Sambo. Hal itu pun dalam rangka mendalami dugaan adanya pelecehan atau pun perselingkuhan.

"Saudara Ferdi Sambo terpicu amarah dan emosinya pada saat saudari PC melaporkan terkait adanya peristiwa terkait adanya kesusilaan yang terjadi di Magelang," kata Listyo.

Sebelumnya, Wakil Ketua Komisi III DPR Adies Kadir meminta penjelasan Listyo mengapa motif dari kasus pembunuhan Brigadir J tidak diungkap ke publik. Adies meminta Listyo membeberkan motif termasuk apa yang terjadi Magelang.

"Apa yang terjadi di Magelang? Siapa tersangka utama? Terkait motif kami pun masih mendengar tunggu di persidangan," kata dia.

Politikus Golkar itu menyebut paling tidak Kapolri Listyo menjelaskan alasan motif tidak bisa dibeberkan sekarang.

"Kenapa kasus ini tunggu persidangan. Padahal kasus lain bisa dibuka. Paling tidak berilah alasan kenapa tunggu persidangan. Apa yang sebenarnya terjadi dengan motif kasus ini?," kata Adies.

<p>Infografis Ragam Tanggapan Anak Ferdy Sambo dan Putri Candrawathi Mengalami Perundungan. (Liputan6.com/Trieyasni)</p>

Datang ke Bareskrim Pakai Kerudung Hitam

Pakai Kerudung Hitam, Putri Candrawathi Datangi Bareskrim

Liputan6.com 2022-08-26 14:01:44
Putri Candrawathi, istri Ferdy Sambo tiba di Gedung Bareskrim, Mabes Polri, Jumat (26/8/2022) (Istimewa)

Putri Candrawathi, istri Ferdy Sambo tiba di Gedung Bareskrim, Mabes Polri. Kedatangannya kali ini sebagai pemenuhan panggilan pemeriksaan perdana sebagai tersangka terkait kasus pembunuhan berencana Brigadir J.

Kedatangan sosok Istri Ferdy Sambo itu telah dikonfirmasi kepada Dirtipidum Bareskrim Polri Brigjen Andi Rian Djajadi.

"Iya (Putri sudah datang)," ujar Andi saat dikonfirmasi, Jumat (26/8).

Putri Candrawathi datang ke di Gedung Bareskrim, Mabes Polri Jakarta Selatan, sekitar pukul 10.48 WIB memakai mobil Kijang Innova B 1284 IR warna hitam. Sebelum terekam gambar, mobil itu terlihat menghindari awak media.

Dengan berkeliling area Mabes Polri terlebih dahulu ketika awak media hendak mengambil gambar kedatangan, mobil tersebut terekam sempat kembali keluar membuat kedatangannya luput dari pantauan.

Putri datang memakai pakaian kerudung hitam serta busana baju hitam langsung masuk ke Lobi Depan Gedung Bareskrim Polri, dengan didampingi sejumlah tim kuasa hukum tanpa melontarkan sepatah katapun.

Termasuk wajah Putri yang tertutup masker hitam, sambil menunduk dia masuk ke dalam gedung Bareskrim untuk menjalani tes kesehatan sebelum diperiksa penyidik.

"Yang bersangkutan sedang menjalani pemeriksaan kesehatan, sebelum pemeriksaan (sebagai tersangka)," kata Andi.

Kemunculan Putri Candrawathi di depan publik merupakan kali kedua. Setelah sebelumnya saat ia menjenguk Ferdy Sambo di Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok.

Putri menghadiri pemanggilan penyidik setelah mengirimkan surat sakit selama sepekan ke belakang. Kondisinya disebut-sebut terguncang pasca peristiwa di Magelang dan Duren Tiga, Jakarta Selatan lalu.


Tersangka

Sebelumnya, Polri telah menetapkan istri Irjen Pol Ferdy Sambo, Putri Candrawathi sebagai tersangka dalam pembunuhan berencana Brigadir J. Penetapan tersangka seusai penyidik menemukan rekaman CCTV yang sempat dikabarkan hilang.

Dirtipidum Bareskrim Polri Brigjen Adi Rian mengatakan, setidaknya sudah ada 52 orang diperiksa oleh Timsus dalam pembunuhan berencana Brigadir J. Bahkan, polisi berhasil menemukan CCTV yang menjadi kunci penetapan Putri Candrawathi sebagai tersangka.

"Alhamudlillah CCTV yang sangat vital menggambarkan situasi sebelum, sesaat dan setelah kejadian. Kami temukan dengan sejumlah tindakan penyidik dari hasil penyelidikan tersebut. Tadi malam sampai pagi sudah dilakukan sejumlah pemeriksaan tadi disampaikan bahwa ibu PC ditetapkan tersangka," jelas Andi Rian di Mabes Polri, Jumat (19/8).


Pasal

Putri dijerat dengan Pasal 340 subsider Pasal 338 juncto Pasal 55 juncto Pasal 56 KUHP.

Pasal 340 mengatur pidana terkait pembunuhan berencana dengan ancaman pidana hukuman mati, pidana penjara seumur hidup, atau penjara 20 tahun.

Sumber: Bachtiarudin Alam/Merdeka.com

<p>Infografis Ragam Tanggapan Anak Ferdy Sambo dan Putri Candrawathi Mengalami Perundungan. (Liputan6.com/Trieyasni)</p>

Misteri Suara "Sayang" di Rapat Kapolri

Ada Suara 'Sayang' Saat Rapat dengan Kapolri, Aboe Bakar Al-Habsyi Dilaporkan ke MKD DPR

Liputan6.com 2022-08-26 12:45:45
Maraknya kasus pembakaran hutan dan lahan di Riau, harus sesegera mungkin ditindak tegas oleh aparat berwajib.

Anggota Komisi III DPR RI Aboe Bakar Al-Habsyi dilaporkan ke Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) oleh Ketua Infokom DPP Pembela Kesatuan Tanah Air Indonesia Bersatu (PEKAT IB) Lisman Hasibuan. Laporan itu terkait suara 'sayang' yang terdengar dam rapat kerja Komisi III dengan Kapolri.

Menurut Lisman, suara sayang itu berasal dari ponsel milik Aboe yang merupakan politikus PKS sekaligus Ketua MKD itu.

"Ya kami menduga dan tergantung nanti MKD memanggil pihak-pihaknya. Kan ada CCTV semua siaran ulang yang bisa nanti diputar ulang," ujar Lisman di Kompleks Parlemen Senayan, Jumat (26/8/2022).

Lisman meminta MKD menyelidiki suara sayang itu apakah berasal dari istri Aboe atau dari pihak lainnya. "Apakah dari istrinya anggota DPR atau perempuan, kan harus diselidiki ini perempuan dari mana kok bisa masuk ke microphone yang bisa masuk bahasa sayang dan membuat kegaduhan di Komisi III DPR," katanya.

Menurut Lisman, ia mengantongi bukti kuat terkait laporannya terhadap Aboe. Lisman berpendapat, meski Aboe adalah Ketua MKD, namun MKD memiliki anggita yang tetap bisa menyelidiki asal muasal suara sayang tersebut.

"Ya sekarang masyarakat dan media mengawal lah proses ini tergantung nanti, kan MKD bukan hanya ketua ada beberapa anggota terkait dengan laporan kita dan kita punya bukti kuat," ujarnya.


Masyarakat Kecewa

Saat ini, lanjutLisman, masyarakat menunggu kinerja Komisi III untuk membantu membuka kasus Ferdy Sambo. Namun, adanya suara misterius sayang itu membuat rapat menjadi tidak serius bagai acara lawak dan candaan.

"Kita sayangkan Komisi III DPR yang harapan rakyat menuntaskam dan harusnya menggedor terkait kasusnya Ferdy Sambo kok Komisi III dibuat macam wayang golek macam srimulat kan gitu nah ini kami rakyat sangat kecewa dengan adanya bahan candaan sehingga fokus Komisi III untuk mengejar kasus Ferdy Sambo ini kami melihat kurang serius," ujar Lisman.

Tanpa Makeup, Melisa Raouf Menang Miss England

Cetak Sejarah, Melisa Raouf Jadi Finalis Tanpa Makeup Pertama di Miss England

Liputan6.com 2022-08-26 14:02:18
Melisa Raouf jadi finalis tanpa makeup pertama di Miss England. (dok. Instagram @missenglandofficial/https://www.instagram.com/p/ChpXlHRI

Adalah Melisa Raouf, seorang mahasiswa politik yang mencetak sejarah dalam penyelengggaraan final Miss England. Pasalnya, ia jadi finalis pertama yang tampil tanpa makeup di kontes kecantikan sepanjang 94 tahun penyelenggarannya.

Perempuan berusia 20 tahun ini memukau para juri dengan kecantikan alaminya saat tampil di semifinal kompetisi tersebut di London, Inggris, awal bulan ini, melansir Daily Mail, Jumat (26/8/2022). Raouf mengatakan, ia memutuskan berjalan di catwalk tanpa makeupatau produk kecantikan dengan harapan dapat menginspirasi wanita lain untuk merangkul penampilan alami mereka.

Ia mengaku tercengang ketika mendapat tempat di malam final Miss England, dan mengatakan sekarang ingin menghilangkan narasi "beracun" seputar makeup dan media sosial. "Itu sangat berarti bagi saya karena saya merasa banyak gadis dari berbagai usia memakai makeupkarena mereka merasa tertekan untuk melakukannya," perempuan kelahiran London itu menuturkan.

"Ketika saya mulai memakai makeup di usia muda, saya tidak pernah merasa nyaman dengan kulit saya sendiri," ia menambahkan. "Saya tidak pernah merasa saya memenuhi standar kecantikan."

Raouf mengatakan, ia mengambil langkah yang tidak biasa dengan memasuki kontes kecantikan dengan wajah polos dalam upaya mempromosikan kecantikan dari dalam di era obsesi media sosial. Sejak tampil di panggung Miss England, inbox Melisa Raouf dibanjiri dukungan dari orang-orang yang mengatakan ia telah "menginspirasi mereka."


Bersaing di Malam Final Miss England 2022

Melisa Raouf, yang belajar di King's College London, mengatakan bahwa ia akan sekali lagi tampil tanpa makeup ketika nantinya muncul di malam final Miss England. Ia pun mengungkap bagaimana ia merasa telah melakukannya untuk "semua perempuan."

Ia akan bersaing dengan 40 wanita lain untuk dinobatkan sebagai Miss England pada 17 Oktober 2022 di Pusat Konferensi dan Acara Heart of England di Coventry. Penyelenggara kontes sebelumnya telah memperkenalkan babak bare-face top model, tapi mengatakan ini adalah pertama kalinya mereka mengetahui seseorang berkompetisi di kontes tanpa makeup.

Raouf berkata, "Itu adalah pengalaman yang cukup menakutkan, tapi sangat luar biasa untuk menang dengan cara ini. Jika seseorang bahagia dengan diri sendiri, kita seharusnya tidak dibuat untuk menutupi wajah kita dengan makeup."

"Kekurangan kita membuat kita jadi diri kita sendiri dan itulah yang membuat setiap individu unik," tuturnya. "Saya pikir orang harus mencintai dan merangkul kekurangan diri mereka, seperti yang kita tahu kecantikan sejati terletak dalam kesederhanaan."


Hapus Standar Kecantikan

Raouf mengaku belum lama bisa menerima kondisi kulit yang dimilikinya saat ini. Dari penerimaan itulah ia baru bisa memutuskan untuk bersaing di malam final Miss England tanpa makeup.

"Saya masih merasa percaya diri, dengan riasan saya semua tersembunyi. Inilah saya, saya tidak takut untuk berbagi siapa saya. Saya ingin menunjukkan siapa Melisa sebenarnya."

"Saya akan pergi ke malam final (Miss England 2022) dengan wajah polos (tanpa riasan). Saya ingin menggunakan platform Miss England saya untuk memberdayakan kecantikan alami dan menghilangkan pola pikir beracun ini," ia menyambung.

Ia mengaku banyak perempuan mengiriminya pesan tentang spirit pemberdayaan yang dipancarkan lewat aksi tak biasanya itu. Mereka, kata Raouf, merasa lebih percaya diri.

"Dengan kesehatan mental jadi topik besar, saya ingin membuat semua gadis merasa cukup. Saya hanya ingin menghapus semua standar kecantikan. Saya merasa semua perempuan cantik dengan caranya sendiri," ia menambahkan.


Pertama Kali

Penyelenggara Miss England, Angie Beasley, mengatakan ia memperkenalkan Model Top Bare Face pada 2019 setelah terkejut dengan jumlah makeup dan filler yang dimiliki kontestan. Ia megatakan telah melihat terlalu banyak gambar yang tidak realistis di Instagram sehingga memengaruhi pola pikir para kontestan.

"Kontestan berpikir mereka perlu memakai makeup untuk terlihat cantik," ucapnya.

"Ini mendorong kontestan menunjukkan pada kita siapa mereka sebenarnya tanpa perlu bersembunyi di balik riasan dan filter di media sosial," katanya. "Putaran kontes ini diperkenalkan kembali pada 2019 karena kami menerima begitu banyak gambar entri dari kontestan yang menutupi wajah mereka dengan riasan tebal dan menggunakan filter."

Soal Melisa Raouf, Beasley mengatakan itu pertama kalinya melihat seorang kontestan yang benar-benar tanpa makeup bersaing di semi final. Ia menilai sosok seperti Raouf itu perlu diberdayakan.

"Saya suka makeup untuk meningkatkan kecantikan alami Anda, tapi tidak perlu bagi anak muda untuk memakainya begitu tebal, sehingga terlihat seperti topeng," katanya. "Saya berharap yang terbaik untuk Melisa di Miss England 2022."

Infografis Sampah Kemasan Produk Kecantikan. (Liputan6.com/Abdillah)

Komika Mo Sidik Disomasi 1 Miliar

Istilah Open Mic Dipatenkan Sebagai Merek Dagang, Komika Mo Sidik Disomasi 1 Miliar

Liputan6.com 2022-08-26 14:01:07
Mo Sidik. (Instagram/ mosidik)

Bagi kalian pecinta acara stand up comedy tentu sudah tak asing dengan istilah 'Open Mic'. Rupanya istilah 'Open Mic' telah didaftarkan ke sebagai merek di Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI) sejak tahun 2013 silam.

Terkait hal tersebut stand up comedian Mo Sidik disomasi oleh seseorang yang sudah mematenkan nama 'Open Mic' ke DJKI sebesar 1 milliar akibat memakai istilah tersebut.

Dikutip dari Kapanlagi, dia adalah Ramon Papana yang beberapa kali disebut-sebut para komika lantaran diduga telah mendaftarkan nama 'Open Mic' ke DJKI. Pada awalnya, para komika dikatakan tidak mempermasalahkan terkait pendaftaran nama 'Open Mic' tersebut. Akan tetapi, berjalannya waktu begitu para komika memakai 'Open Mic' justru mereka mendapatkan somasi.

Sejumlah komika pun berniat untuk mendaftarkan gugatan pembatalan 'Open Mic' di Pengadilan Niaga Jakarta Pusat, seperti Adjis Doaibu, Ernest Prakasa, Gilang Bhaskara, Pandji Pragiwaksono, Randhika Djamil, Awwe, Oki Rengga, Erwin Wu, Mo Sidik, Arif Alfiansyah, Gamila Arief, Wawan, dan Egi Haw.

"Sebenarnya lama kejadiannya, tapi kita ngebiarin aja. Tapi, makin ke sini gemes juga. Karena, banyak teman yang dikirimin surat somasi padahal open mic ini kan istilah umum. Ya, karena orang kalau udah enggak bisa nyari lucu, biasanya nyari masalah," kata Adjis Doaibu di Pengadilan Niaga Jakarta Pusat, Kamis (25/8/2022).

Adjis menyampaikan, nama 'Open Mic' bukan hanya digunakan untuk panggung stand up comedy saja. Tetapi, istilah 'Open Mic' sering digunakan dalam acara baca puisi hingga musik.

"Di luar itu, open mic selain stand up ada baca puisi, jamming musik, atau sekadar pengin ngomong apa aja. Nah ada kawan kita yang kena imbasnya sampai ratusan juta rupiah ditutup. Padahal dia bukan stand up tapi jamming musik aja," kata Adjis.


Tanggapan Ernest Prakasa

Sementara itu, Ernest Prakasa menyampaikan bahwa istilah 'Open Mic' sudah menjadi istilah sangat umum. Siapapun bisa menggunakan nama itu setiap acara apapun. Ernest merasa tentu tidak masuk di akal jika ada orang yang mendaftarkan nama 'Open Mic' sebagai merek dagang.

"Ya mungkin dari saya kalo temen-temen yang tidak familiar dengan open mic itu istilah yang sangat umum ya. Jadi kalo open mic didaftarkan sebagai intelektual properti atau kekayaan intelektual itu ibaratnya ada orang yang ngedaftarin pentas seni atau festival jajanan gitu sehingga orang yang membuat acara serupa dipalak disuruh bayar," kata Ernest.

"Ini sama sekali enggak masuk akal. Jadi bahwa Depumham (Departemen Hukum Dan Ham) meloloskan ini kita coba untuk menggugat itu sih," tutup Ernest.

Lesti Kejora Terpesona Defri Juliant

Lesti Kejora Terpesona Defri Juliant Peserta DA 5 di Depan Suami, Rizky Billar: Tobat Kau Lesti

Liputan6.com 2022-08-26 14:00:00
Lesti Kejora. (Foto: Dok. Instagram @lestykejora)

Lesti Kejora baru saja membuat publik Tanah Air terpesona dengan duetnya bersama Raisa menyanyikan lagu "Ada Cerita" dan "Mantan Terindah" di malam puncak HUT SCTV ke-32 Xtraordinary yang berlokasi di Studio 6 Emtek City pada Rabu (24/8/2022) lalu.

Namun beberapa hari sebelumnya, ada momen kocak dari sang pedangdut saat ia diundang menjadi bagian dari ajang Dangdut Academy 5 alias DA 5. Di hadapan Rizky Billar yang juga diundang, Lesti secara terang-terangan terpesona dengan seorang peserta pria.

Momen tersebut terjadi pada saat Lesti menjadi juri dan Rizky Billar menjadi host dalam Final Audition DA 5 (D'Academy 5) yang mengudara pada awal pekan ini. Salah seorang peserta yang dinilai oleh Lesti dan juri-juri lain adalah Defri Juliant asal Kampar, Riau.

Dalam audisi tersebut, Defri menyanyikan lagu "Pandangan Pertama" karya A. Rafiq. Terlihat Lesti tak melepaskan pandangannya ke arah Defri sambil terus-terusan ikut bergoyang dan menikmati penampilannya hingga muncullah satu momen tak terduga nan kocak.


Bikin Jatuh Tersungkur

Setelah Defri tampil, Lesti tiba-tiba saja jatuh tersungkur dari kursinya hingga Rizky Billar menghampirinya. Para host dan juri langsung heboh dan para penonton di dalam studio pun tertawa kencang melihat tingkah Lesti.

"Indosiar memang tahu apa yang dedek butuhkan... Enak banget ya di sini cuci mata, haduh!" celetuk Lesti hingga membuat host mewanti-wanti dan Rizky Billar mengucap istighfar.

"Lesti, mikir, Lesti!" celetuk Billar menimpali celetukan host lain.


Billar Terperanjat

Lantaran tingkah Lesti tersebut, tim acara pun memutar video anaknya dan Rizky Billar, Muhammad Leslar Al-Fatih Billar dengan balon kalimat, "Inget, udah punya anak."

"Abang, bunda lagi kerja, nak," ceplos Lesti mengomentari video anaknya tersebut.

"Kakak sih, pake nge-host di sini, ih kakak mah, ah," sambung Lesti, membuat Billar melontarkan celetukan dengan wajah memelas dan kaget.

"Lesti, tobat kau Lesti," timpal Billar dengan ekspresi terperanjat.

Namun begitu, momen ini dikemas dengan gaya kocak sebagai bagian dari acara dan sukses mengocok perut penonton.

Infografis Mengenal 8 Fungsi Keluarga. (Liputan6.com/Niman)

Dikira Pengemis, Beli Mobil Tunai

Sempat Dikira Pengemis, Pemulung dari Sragen Ini Beli Mobil Baru Secara Tunai

Liputan6.com 2022-08-26 12:02:36
Pemulung asal Sragen beli mobil secara tunai. YouTube/Liputan6

Jika seseorang rajin menabung, bukan tidak mungkin jika uang akan terkumpul lalu bisa dibelikan mobil baru. Hal ini dialami langsung oleh Wardji yang kini sedang viral.

Pria Sragen yang sehari-hari bekerja sebagai pemulung itu jadi sorotan karena membeli mobil dengan uang tunai. Bahkan pada awalnya karyawan dealer mobil menyangka Wardji adalah seorang pengemis karena berpakaian sangat sederhana.

Namun nyatanya ia datang untuk membeli mobil. Satu unit mobil ia beli secara tunai sebesar Rp180.300.000. Wardji mengaku uang itu berasal dari tabungannya selama jadi pemulung ditambah dari uang warisan yang diterima sang istri.

Saat datang ke dealer, karyawan yang melihat Wardji saat itu sempat mengira kalau dia adalah pengemis. Dezy Ais, karyawan dealer mobil itu, bercerita pada hari pertama Wardji datang dengan pakaian sederhana untuk tanya-tanya dan meminta brosur.

Lalu di hari kedua, Wardji datang lagi dengan membawa bungkusan plastik. Saat itu dia masih bertanya berapa harga mobil. Lalu di hari ketiga Dezy ditelepon pihak keamanan bahwa Wardji datang dengan membawa uang.

"Mbak, ini beneran lho mbak," kata Dezy menirukan perkataan satpam saat itu, dikutip dari kanal YouTube Indonesia Ekspos pada Selasa (23/8).

Saat Dezy menemuinya, Wardji sudah mengeluarkan uang dari dalam karung dan mulai menghitungnya. Setelah itu para karyawan dealer menghitung uang itu lagi. Karena banyak uang receh, perlu waktu tiga jam bagi mereka untuk menghitung uang itu.


Menghitung Uang

"Kemarin kita hitung uangnya dari jam 7 sampai jam 10-11. Kemarin kurang lebih ada lima orang karyawan kami yang menghitung uangnya," kata Dezy.

Wardji mengatakan, memiliki sebuah mobil sudah jadi impiannya sejak lama. Namun dia selalu diragukan teman-temannya karena pekerjaannya hanya memulung rongsokan.

"Kita jujur saja. Tapi kan kita diejek sama orang-orang, seperti kamu kok beli mobil, seperti mimpi saja. Nggak percaya," kata Wardji dikutip dari YouTube Liputan 6 pada Kamis (25/8).

Sumber: Merdeka.com

Infografis 10 Tips Aman Bersepeda di Tengah Pandemi. (Liputan6.com/Trieyasni)

Pemecatan Sambo demi Citra Polri?

HEADLINE: Ferdy Sambo Dipecat Secara Tidak Hormat, Langkah Tepat Selamatkan Citra Polri?

Liputan6.com 2022-08-27 00:00:00
Mantan Kadiv Propam Irjen Ferdy Sambo usai menjalani sidang kode etik di Gedung TNCC Mabes Polri, Jakarta, Jumat (26/8/2022). Irjen Ferdy Sambo resmi dipecat secara tidak hormat dari Polri.

Irjen Ferdy Sambo resmi dipecat secara tidak hormat dari institusi Polri. Keputusan dikeluarkan oleh Komisi Etik Profesi Polri (KEPP) pada Jumat 26 Agustus 2022 dini hari WIB. Keputusan pemecatan ini karena Ferdy Sambo dinyatakan melanggar etik dalam penanganan kasus kematian Nofriansyah Yosua Hutabarat alias Brigadir J.

Sidang kode etik Ferdy Sambo berlangsung panjang. Persidangan dimulai sejak Kamis 25 Agustus 2022 sekira pukul 09.25 WIB hingga Jumat dini hari sekitar pukul 01.57 WIB atau sekitar 16 jam.

Ketua Sidang, Komjen Ahmad Dofiri, menyampaikan, majelis sidang kode etik memberi rekomendasi berupa Pemberhentian Tidak Dengan Hormat (PTDH) terhadap Irjen Ferdy Sambo.

"Pemberhentian dengan tidak hormat atau PTDH sebagai anggota Polri," kata Dofiri saat konferensi pers, Jumat 26 Agustus 2022.

Dofiri menyampaikan, perbuatan terperiksa termasuk perbuatan tercela. Karena itu, Ferdy Sambo ditempatkan dalam tempat khusus selama 4 hari dari tanggal 8 Agustus 2022 sampai 12 Agustus 2022 di Rutan Pondok Kopi.

"Dan penempatan dalam tempat khusus tersebut telah dijalani pelanggar," ujar dia.

Padahal sebelumnya mantan Kadiv Propam Polri tersebut sudah mengajukan pengunduruan diri ke Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo. Namun kala itu, Sigit menilai masih banyak hal yang perlu diperiksa dari pengunduran diri Ferdy Sambo ini.

Diduga pengajuan pengunduran diri Ferdy Sambo ini untuk tidak membuat malu dirinya. Sehingga lebih terhormat mengundurkan diri ketimbang dipecat dari institusi Polri. Namun permohonan pengunduran diri Ferdy Sambo diabaikan. Sebab Polri tetap fokus menggelar sidang kode etik, dengan hasil akhir memecat Ferdy Sambo.

Dalam persidangan kode etik terhadap Ferdy Sambo ini, sebanyak 15 orang memberikan kesaksian di hadapan majelis etik. Mereka di antaranya, mantan Karopaminal Brigjen Hendra Kurniawan, mantan Karoprovos Brigjen Benny Ali, mantan Kapolres Jakarta Selatan Kombes Budhi Herdi.

Kemudian mantan Kaden A Biro Paminal Kombes Agus Nurpatria dan mantan Kabag Gakkum Roprovost Divpropam Kombes Susanto. Lalu ada juga tersangka dalam kasus ini yang dihadirkan sebagai saksi, yakni Richard Eliezer atau Bharada E, Brigadir RR alias Ricky Rizal, dan KM alias Kuat Ma'ruf.

Kadiv Humas Polri Irjen Dedi Prasetyo mengatakan Ferdy Sambo tak membantah kesaksian dari 15 orang tersebut. Menurut Dedi, Ferdy Sambo tidak membantah dirinya melakukan rekayasa dan penghilangan barang bukti di kasus terbunuhnya Brigadir J.

"Irjen FS juga tidak menolak apa yang disampaikan oleh kesaksian para saksi tersebut. Artinya perbuatan tersebut betul adanya mulai dari merekayasa kasusnya kemudian menghilangkan barang buktinya dan juga menghalang-halangi dalam proses penyidikan," ujar Dedi Jumat 26 Agustus 2022 dini hari.

Namun demikian ada satu saksi yang tidak menghadiri secara fisik melainkan lewat daring. Bharada E alias Richard Eliezer tidak dihadirkan langsung di lokasi, melainkan mengikuti persidangan secara online lewat saluran Zoom.

Pengacara Bharada E, Ronny Talapessy menjelaskan kliennya sengaja tidak dihadirkan di lokasi persidangan agar tidak bertemu langsung dengan Ferdy Sambo. Upaya ini juga telah dimohonkan ke Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) menyusul statusnya sebagai Justice Collaborator (JC).

"Sebagai JC, kami minta klien kami tidak dipertemukan secara langsung. Ini juga merupakan program JC dari LPSK," kata Ronny saat dihubungi, Kamis 25 Agustus 2022.

Alasan lain Bharada E tidak dihadirkan secara langsung dalam sidang etik Ferdy Sambo agar dia bisa memberikan keterangan yang jelas dan sebenar-benarnya tanpa intimidasi pihak manapun.

"Agar tidak tepengaruh mental," ucap Ronny.

<p>Infografis Ferdy Sambo Dipecat! (Liputan6.com/Triyasni)</p>

Ferdy Sambo Bacakan Surat Penyesalan

Usai pemecatan tersebut, Ferdy Sambo juga membacakan surat ia tulis teruntuk para senior dan rekannya yang terseret dalam pusaran kasus membelitnya. Ferdy Sambo mengungkapkan rasa penyesalan dan menyampaikan permohonan maaf.

Ferdy Sambo berharap rekan-rekan di institusi Polri membukakan pintu maaf atas tindakan selama ini. Ferdy Sambo menyatakan siap menanggung setiap konsekuensi yang terjadi.

Berikut isi surat permohonan maaf Ferdy Sambo:

"Permohonan maaf kepada senior dan rekan perwira tinggi perwira menengah perwira pertama dan rekan Bintara"

"Rekan dan senior yang saya hormati dengan niat yang murni. Saya ingin menyampaikan rasa penyesalan dan permohonan maaf yang mendalam atas dampak yang muncul secara langsung pada jabatan yang senior, dan rekan-rekan jalankan dalam institusi Polri, atas perbuatan saya yang telah saya lakukan"

"Saya meminta maaf kepada para senior, dan rekan-rekan semua yang secara langsung merasakan akibatnya. Saya mohon permintaan maaf saya dapat diterima dan saya menyatakan siap untuk menjalankan setiap konsekuensi sesuai hukum yang berlaku saya, juga siap menerima tanggung jawab dan menanggung seluruh akibat hukum yang dilimpahkan kepada senior rekan-rekan yang terdampak".

"Semoga kiranya rasa penyesalan dan permohonan maaf ini dapat diterima dengan terbuka dan saya siap-siap menjalani proses hukum ini dengan baik, sehingga segera mendapatkan keputusan yang membawa rasa keadilan bagi semua pihak. Terima kasih semoga Tuhan senantiasa melindungi kita semua".


Ferdy Sambo Banding Pemecatan

Namun demikian, usai dipecat tidak hormat karena menjadi dalang pembunuhan Brigadir J tersebut, Ferdy Sambo masih melakukan upaya perlawanan dengan akan mengajukan banding terhadap keputusan majelis etik.

Adapun banding yang akan dilakukan tersebut adalah jalan terakhir dari Ferdy Sambo melawan pemecatan tidak terhormat terhadap dirinya.

"Mohon izin, sesuai dengan Pasal 69 PP (Perpol) 7 (Tahun) 2022, izinkan kami mengajukan banding. Apapun keputusan banding, kami siap untuk laksanakan," kata Ferdy Sambo setelah mendengarkan hasil putusan sidang.

Sementara, pengacara keluarga Brigadir J, Kamaruddin Simanjuntak menduga upaya banding Ferdy Sambo tersebut hanya sebuah akal-akalan. Itu Karena Irjen Ferdy Sambo diduga ingin tetap mendapatkan gaji setelah tidak berstatus sebagai anggota Polri.

"Itu akal-akalan dia supaya dia tetap jadi anggota polisi dan tetap mendapatkan hak-hak pensiun," kata Kamaruddin di Gedung Bareskrim Polri, Jumat 26 Agustus 2022.

Kamaruddin menyebut upaya banding itu memang adalah hak dari Ferdy Sambo. Namun dia berharap Komisi Kode Etik Polri (KKEP) Polri bisa mengabaikan banding tersebut.

"Tetapi saya ingatkan kepada Komisi Kode Etik supaya tidak menghiraukan," sambung Kamaruddin.

Sementara Kadiv Humas Polri Irjen Dedi Prasetyo memastikan keputusan banding tersebut nantinya akan bersifat final dan mengikat. Kata Dedi, tidak akan ada fasilitas Peninjauan Kembali (PK) terhadap putusan banding tersebut.

"Khusus untuk kasus Irjen FS (Ferdy Sambo), banding adalah keputusan final dan mengikat. Tidak berlaku itu, tidak berlaku PK. Jadi keputusan banding adalah keputusan final dan mengikat, tidak ada upaya hukum lagi," kata Dedi.

Adapun, dalam kasus Brigadir J ini, Tim Khusus Bareskrim Mabes Polri yang dibentuk oleh Kapolri telah menetapkan lima tersangka. Mereka adalah Ferdy Sambo, Putri Chandrawathi, Bharada Richard Eliezer alias Bharada E, Brigadir RR alias Ricky Rizal, dan Kuat Ma'ruf. Mereka dikenakan dengan Pasal 340 subsider 338 juncto Pasal 55 dan 56 KUHP tentang pembunuhan berencana, dengan pidana penjara seumur hidup atau hukuman mati.


Pemecatan Ferdy Sambo Jadi Langkah Tepat Polri Pulihkan Citra?

Lantas apakah adanya pemecatan terhadap Ferdy Sambo menjadi langkah tepat untuk memulihkan citra Korps Bhayangkara tersebut?.

Anggota Komisi III DPR RI Fraksi Partai Nasdem Ahmad Taufik Basari mengatakan, pemecatan tak hormat Ferdy Sambo, sebagai salah satu upaya Polri mengembalikan kepercayaan masyarakat pada Polri. "Tentunya langkah-berikutnya dan kesungguhan untuk menangani kasis ini dapat terus perlahan membangkitkan kepercayaan publik," ujar pria yang akrab disapa Tobas kepada Liputan6.com, Jumat 26 Agustus 2022.

Tobas juga mengingatkan bahwa masyarakat juga menunggu pembenahan kultural seperti kultur rekayasa kasus di tubuh Polri. Sebab kasus Brigadir J ini menjadi momentum bagi Polri untuk melakukan pembenahan.

"Kita juga akan menanti langkah pembenahan yang dilakukan Kapolri, khususnya reformasi kultural, seiring dengan penuntasan kasus ini," katanya.

Legislator Partai Nasdem ini menilai bahwa putusan Komisi Kode Etik Polri (KKEP) untuk memecat Irjen Ferdy Sambo dari institusi kepolisian sudah tepat. Namun, ia menyebut pemecatan Sambo oleh Sidang Komisi Kode Etik Polri merupakan langkah awal dari proses pemberian sanksi kepada pihak-pihak yang terlibat dalam kasus ini.

"Tentu proses ini akan terus berlanjut baik pidananya, pelanggaran etiknya bahkan selanjutnya akan diikuti dengan pembenahan. Saya melihat pemecatan di awal proses ini adalah bagian dari upaya menyingkirkan hambatan dalam penanganan kasus," ungkapnya.

Tobas menyatakan, apabila Sambo masih berstatus sebagai perwira tinggi Polri tentu dapat menjadi hambatan dalam pengungkapan kasus. Pasalnya Ferdy Sambo masih memiliki pengaruh langsung atau tidak langsung terhadap orang-orang yang terlibat.

"Langkah awal berupa pemecatan ini diharapkan mampu membangung optimisme publik bahwa Kapolri bersama tim khusus sangat serius untuk menuntaskan kasus ini dan berusaha menjawab keraguan publik," kata dia.

Sementara terpisah, Anggota Komisi III DPR RI Habiburokhman menilai tidak ada alasan bagi Ferdy Sambo untuk melakukan banding atas putusan pemberhentian tidak dengan hormat (PTDH) di sidang etik.

Menurut Habiburokman, sekalipun melawan dengan banding. Besar kemungkinan bahwa keputusan banding tersebut tetap akan sama, yakni memecat bekas Kadiv Propam dari Polri secara tidak hormat.

"Kami juga tidak melihat alasan-alasan untuk diajukan banding meskipun itu hak yang bersangkutan. Tapi kalau telah diajukan saya rasa hasilnya pun akan sama saja," kata Habiburokhman.

Sementara itu berkaitan dengan keputusan PTDH terhadap Ferdy Sambo, legislator Partai Gerindra ini menegaskan keputusan itu sudah tepat. Sebab Ferdy Sambo telah dengan sengaja dan sadar menghilangkan nyawa manusia.

Terlebih menurut legislator Partai Gerindra ini, Ferdy Sambo terbukti melakukan perencanaan pembunuhan dan skenario pembelokan fakta-fakta dengan, melibatkan rekan-rekannya di Polri.

"Karena ini perbuatan yang bahkan menghilangkan nyawa orang. Selain itu yang lebih memberatkan lagi adalah perbuatan menghilangkan barang bukti dan menghalangi penyidikan dengan melibatkan begitu banyak anggota Polri, menyeret-nyeret orang lain," kata Habiburokhman.

<p>Infografis Ferdy Sambo Ajukan Banding & Mohon Maaf Usai Dipecat (Liputan6.com/Triyasni)</p>

Di tempat terpisah, Ketua Indonesia Police Watch (IPW), Sugeng Teguh Santoso mengatakan, pemecatan secara tidak terhormat terhadap Ferdy Sambo memiliki dua makna. Pertama bahwa Korps Bhayangkara 'ogah' ikut menanggung kesalahan dan dosa atas perbuatan dari mantan Kadiv Propam itu.

"Keputusan Polri yang dipimpin oleh Komjen Ahmad Dofiri tidak ingin institusi Polri tercemarkan dan ikut menanggung dosa atas perbuatan tercela Irjen Ferdy Sambo," kata Sugeng kepada Liputan6.com.

Sementara makna kedua adalah, Kapolri Sigit ingin menjawab keraguan masyarakat atas tuntasnya kasus pembunuhan dengan melibatkan Ferdy Sambo secara transparan.

"Polri menjawab keraguan masyarakat atas isu Sambo memiliki pengaruh kuat dalam tubuh Polri, sekaligus memenuhi rasa keadilan masyarakat," tegasnya.

Sugeng menekankan kepada Kapolri Sigit untuk menggunakan momentum kasus tewasnya Brigadir J oleh Ferdy Sambo yang juga melibatkan anggota lainnya, untuk bebenah untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat. Sebab masyarakat sudah melihat adanya oknum-oknum nakal di tubuh Polri.

"Pesimisme masyarakat pada Polri itu sudah menahun. Oleh karena itu Polri harus mawas diri dengan menggunakan momentum kasus Ferdy Sambo ini untuk membersihkan Polri dari oknum perekayasa kasus dengan putusan yang tegas dan keras," ujarnya.

Sugeng menilai sanksi pemberhentian tidak dengan hormat (PTDH) ke mantan Kadiv Propam Polri Ferdy Sambo sudah tepat. Sebabnya, Ferdy Sambo dianggap Sugeng sudah melakukan perbuatan tercela dengan kualifikasi yang berat.

Bukan hanya itu, Ferdy Sambo juga sudah mempengaruhi anak buahnya untuk ikut terlibat dalam rencana pembunuhan. Sebab adanya kasus ini berdampak langsung terhadap institusi Polri.

"PTDH tersebut diputus karena alasan Sambo melakukan perbuatan tercela dalam kualifikasi berat; berbohong, tidak bertanggung jawab alias tidak kesatria. Bahkan mempengaruhi bawahannya untuk melakukan tindakan tercela, merekayasa kasus, menghilangkan barang bukti, berbohong pada pimpinan Polri dan masyarakat yang pada akhirnya masyarakat tidak percaya pada institusi Polri. Kesalahan ini masuk dalam kategori kesalahan berat. Jadi sanksi pemecatan adalah sudah tepat," tuturnya.


35 Polisi Terseret di Kasus Ferdy Sambo

Pada Rabu 24 Agustus 2022 di rapat kerja Komisi III DPR, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo menyebut jumlah personel Polri yang diperiksa terkait kasus pembunuhan Brigadir J mencapai 97 orang. Kemudian yang diduga melakukan pelanggaran etik sebanyak 35 orang.

"Kami telah memeriksa 97 personel, 35 orang diduga melakukan pelanggaran kode etik profesi," ujar Kapolri.

Sigit merinci, 35 personel yang melanggar kode etik berasal dari beragam pangkat, di antaranya, Irjen Pol 1 orang, Brigjen Pol 3 orang, Kombes Pol 6 orang, Kemudian AKBP 7 orang, Kompol 4 orang, AKP 5 orang, Iptu 2, Ipda 1, Bripka 1, Brigadir 1, Briptu 2, dan Bharada 2.

Sigit menjelaskan dari 35 personel itu, sebanyak 18 di antaranya ditempatkan di penempatan khusus, sementara yang lain masih berproses pemeriksaannya. Selanjutnya, dua orang di antaranya sudah ditetapkan tersangka. Sehingga tersisa 16 personel yang masih berada di penempatan khusus (patsus).

"Saat ini sudah ditetapkan sebagai TSK terkait dengan laporan polisi di Bareskrim sehingga tinggal 16 orang dipatsus. Sisanya menjadi tahanan terkait dengan kasus yang dilaporkan di Bareskrim," tuturnya.

Kapolri Sigit berkomitmen Polri akan menyelesaikan proses kode etik dan profesi dalam waktu 30 hari ke depan terhadap anggotanya tersebut guna memberikan kepastian hukum terhadap terduga pelanggar.

Ketua IPW Sugeng Teguh Santoso juga menanti langkah tegas Polri dalam memproses dugaan pelanggaran kode etik yang dilakukan oleh 35 personel kepolisian tersebut. Menurut Sugeng tidak mmenutup kemungkinan mereka akan dipecat secara tidak hormat, jika terbukti melakukan obstruction of justice atau merintangi penyelidikan suatu kasus.

"Itu diduga melanggar dua hal, satu pelanggaran pidana obstruction of justice dan bersamaan itu juga ada pelanggaran kode etik. Kalau masuk dalam pelanggaran pidana pidana obstruction of justice dan kode etik mereka bisa dipecat oleh pemeriksaan komisi kode etik kepolisian, sanksinya dipecat karena termasuk pelanggaran berat," tegas Sugeng.

Sementara itu, Kriminolog dari Universitas Indonesia (UI) Muhammad Mustofa mengatakan pemecatan terhadap Ferdy Sambo sebagai salah satu upaya Polri memulihkan citra lembaga tersebut yang hancur. Sebab adanya kasus tersebut berdampak langsung persepsi masyarakat terhadap Korps Bhayangkara.

"Pemecatan menyumbang pemulihan kepercayaan kepada polisi yang mulai membaik dengan dibentukntmya Timsus," ujar Mustofa kepada Liputan6.com.

Namun demikian, Mustofa berharap Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) juga perlu diperkuat sebagai pengawas Polri. Sebab masyarakat tidak ingin kasus serupa yang mencoreng istitusi Polri kembali terulang di kemudian hari.

"Sebagai momentum untuk bersih-bersih. Jangan lupa, perlu juga penguatan Kompolnas agar sebagai pengawas fungsional agar Polri tidak dibohongi," tuturnya.


Survei Kasus Brigadir J dan Kinerja Polri

Survei Indikator Politik Indonesia juga memaparkan hasil temuannya, terhadap kesadaran masyarakat tentang kasus tewasnya Brigadir J oleh atasannya sendiri, Irjen Ferdy Sambo di Duren Tiga Jakarta.

Hasilnya, dari survei yang dilakukan pada 11 Agustus 2022 hingga 17 Agustus 2022 ini, sebanyak 54,7 persen responden mengaku mengetahui tentang keberadaan kasus tersebut.

"Sekitar 54,7 persen tahu tentang kasus ini dan 45,3 persen mengaku tidak tahu," kata Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia, Burhanuddin Muhtadi saat pemaparan via daring, Kamis 25 Agustus 2022.

Burhanuddin lalu membedah kembali, seberapa besar kepercayaan responden yang mengetahui kasus ini bahwa Polri mampu menyelesaikannya dengan tuntas sesuai arahan Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Hasilnya, sebanyak 15,6 persen mengatakan sangat percaya dan 41,7 persen juga mengatakan cukup percaya. Menurut Burhanuddin tingginya angka tersebut dipengaruhi momentum Kapolri Jenderal Listyo Sigit saat menetapkan Irjen FS sebagai tersangka pada 9 Agustus 2022.

"Setelah Kapolri mengumumkan Irjen FS sebagai tersangka, tingkat kepercayaan terhadap polisi meningkat total ada 57,3 persen masyarakat yang percaya pihak kepolisian menyelesaikan kasus ini, setelah keterbukaan dilakukan," yakin Burhanuddin.

Burhanuddin mengakui, tingginya angka itu adalah kabar bagus bagi Polri. Namun harus diingat, jika masih banyak responden yang tidak percaya. Sebab melihat hasil survei, terdapat 28,6 persen responden yang kurang percaya, dan 9,5 persen tidak percaya sama sekali jika Polri mampu menyelesaikan kasus tewasnya Brigadir J.

"Jadi artinya kalau polisi tidak bisa membuktikan kinerja terhadap pengusutan kematian Brigadir J, bisa jadi trust publik turun lagi," kata Burhanuddin.

Survei Indikator Politik Indonesia memaparkan hasil temuannya, terhadap alasan kematian Josua Hutabarat alias Brigadir J. Hasilnya, dari survei yang dilakukan pada 11 Agustus 2022 hingga 17 Agustus 2022 ini, responden terbelah antara dua sudut pandang, apakah benar alasan kematiannya karena hal tertentu atau tewas karena adu tembak pasca insiden pengancaman dan pelecehan seksual terhadap istri Ferdy Sambo oleh Brigadir J.

"Hasilnya, 81,8 persen responden mengatakan Brigadir J sengaja dibunuh karena alasan tertentu dan hanya 10,0 persen responden yang mengatakan Brigadir J tewas terbunuh akibat adu tembak karena melakukan pengancaman dan pelecehan seksual terhadap istri Ferdy Sambo. Sedangkan sisanya, 8,2 persen responden mengaku tidak tahu/tidak menjawab," kata Burhanuddin Muhtadi.

Sebagai informasi, responden survei terdiri dari warga negara Indonesia berusia 17 tahun atau sudah menikah dan memiliki ponsel atau total 83 persen dari jumlah populasi nasional. Pemilihan responden dilakukan dengan metode random digit dialing (RDD) dengan total responden debanyak 1229 orang.

Margin of error diperkirakan sebesar kurang lebih 2,9 persen dengan tingkat kepercayaan 95 persen. Wawancara sendiri dilakukan dengan responden melalui telepon oleh pewawancara yang dilatih.

Sementara merujuk pada survei lain, yakni Arus Survei Indonesia (ASI), kinerja Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo dalam menangani insiden penembakan Brigadir J dinilai positif oleh publik.

Dalam temuan itu, sebanyak 70,4 persen responden mengatakan puas. 70,4 persen ini gabungan antara cukup puas sebanyak 56,7 persen dan sangat puas 13,7 persen terhadap kinerja Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo dalam mengurai misteri penembakan Brigadir J.

"Sedangkan yang tidak puas 25,2 persen (gabungan antara kurang puas 18,0 persen dan sangat tidak puas 7,2 persen). Adapun 4,4% mengaku tidak tahu/tidak jawab," ujar Direktur Eksekutif ASI Ali Rif'an dalam keterangan resmi, Kamis 25 Agustus 2022.

Menurut Ali Rif'an, kepuasan publik lantaran Kapolri dinilai sigap dan transparan dalam menangani kasus penembakan Brigadir J ini. Ali Rif'an mengatakan, isu ini juga tidak memengaruhi persepsi publik terhadap kinerja pemerintah.

Menurut dia, di tengah kasus insiden penembakan Brigadir J yang bergulir begitu kencang satu bulan lebih, persepsi publik terhadap kinerja pemerintah tetap positif.

"Persepsi publik terhadap kinerja pemerintah juga tidak terpengaruh. Sebanyak 73,1 persen publik mengaku puas (gabungan antara cukup puas 54,5 persen dan sangat puas 18,6 persen) dengan kinerja Pemerintahan Joko Widodo-Ma'ruf Amin. Sementara yang tidak puas diangka 24,4 persen (gabungan antara kurang puas 21,3 persen dan sangat tidak puas 4,1 persen). Adapun yang mengaku tidak tahu/tidak jawab 1,4 persen," tambah Ali Rif'an.

Sebagai informasi, survei dilaksanakan pada tanggal 18 hingga 23 Agustus 2022 di 34 provinsi di Indonesia dengan cara telesurvei, yaitu responden diwawancara melalui kontak telepon menggunakan kuesioner. Metode penarikan sampel Multistage Random Sampling. Jumlah responden 1200 responden dengan margin of error +/- 2.9 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.


Motif Ferdy Sambo

Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo mengungkap motif Irjen Ferdy Sambo menembak mati Brigadir J. Sambo marah dan emosi mendengar laporan terkait istrinya tentang peristiwa yang terjadi di Magelang, Jawa Tengah.

"Motif saudara FS melakukan perbuatan tersebut karena yang bersangkutan marah dan emosi atas setelah mendengar laporan dari ibu PC terkait dengan peristiwa terjadi di Magelang," ungkap Sigit saat rapat kerja dengan Komisi III DPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu 24 Agustus 2022.

Berdasarkan laporan dari istrinya, Sambo merasa apa yang dilakukan oleh Brigadir J telah merendahkan harkat dan martabat keluarga. Namun, Kapolri Sigit belum mengungkapkan detail seperti apa peristiwa di Magelang.

"Peristiwa terjadi di Magelang yang dianggap mencederai harkat martabat keluarga," ujar Sigit.

Menurut Listyo Sigit Prabowo, motif akan lebih jelas dan terang bila kasus sudah sampai di persidangan.

"Untuk lebih jelasnya akan diungkap di persidangan," kata Sigit.

Merujuk survei mayoritas masyarakat ingin Polri bisa mengungkap motif pembunuhan Ferdy Sambo terhadap Brigadir J tersebut.

Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia, Burhanuddin Muhtadi mengatakan dari hasil temuannya, mayoritas responden yakin ada alasan di balik kematian Brigadir J atau ada motif yang mendasari tindakan tersebut.

Dia pun mewanti, pernyataan Kabareskrim Polri Komjen Agus Andrianto yang mengatakan motif tidak perlu dibuka untuk menjaga perasaan dan silakan dibawa ke persidangan saja.

"Kalau ditanyakan kepada publik, mereka tidak mau tahu, mereka maunya motif atau alasan pembunuhan harus diungkap kepada publik," jelasBurhanuddin.

Melalui pertanyaan lanjutannya, Burhanuddin mengungkap, 65,6 persen responden survei memilih motif atau alasan pembunuhan segera diungkap ke publik, dan hanya 29,7 persen responden yang senada dengan pernyataan Kabareskrim. Sedangkan 4,7 persen responden memilih tidak menjawab dan mengaku tidak tahu.

"Mau kontennya disebut dewasa atau menjijikan pun, publik ingin itu dibuka. Mengapa? karena sejauh ini pihak kepolisian baru menyampaikan 'motif' menurut versi Sambo dan istrinya," urai Burhanuddin.

Sebagai informasi, responden survei terdiri dari warga negara Indonesia berusia 17 tahun atau sudah menikah dan memiliki ponsel atau total 83 persen dari jumlah populasi nasional. Pemilihan responden dilakukan dengan metode random digit dialing (RDD) dengan total responden debanyak 1229 orang.

Margin of error diperkirakan sebesar kurang lebih 2,9 persen dengan tingkat kepercayaan 95 persen. Wawancara sendiri dilakukan dengan responden melalui telepon oleh pewawancara yang dilatih.


Sengkarut Kasus Kematian Brigadir J

Ketua Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) Mahfud Md menyatakan, sudah sepatutnya sengkarut kematian Brigadir J atau Yoshua oleh atasannya Irjen Ferdy Sambo terus diramaikan publik.

Sebab menurut Mahfud, jika publik tidak berteriak maka kasus ini bisa menjadi 'dark number' atau tak dapat dibuka dalam hukum.

"Kalau perkara ini tidak diteriakin akan menjadi 2 saja kemungkinannya, satu menjadi dark number, perkara yang tidak bisa dibuka itu ada di dalam hukum. Kedua, ini soal pelecehan dan yang melecehkan sudah mati sedangkan Bharada E (membunuh Brigadir Josua) untuk membela diri lalu tutup perkara," kata Mahfud yang berbicara sebagai Ketua Kompolnas dalam rapat bersama DPR Komisi III di Kompleks Parlemen Senayan, Senin 22 Agustus 2022.

Mahfud lalu mengaku, telah menyadari gugurnya skenario pertama sejak tanggal 13 Agustus 2022. Dia meyakini memiliki pemikiran berbeda sehingga membelokkan skenario itu pada 24 Agustus 2022 ke muka publik.

"Sejak kapan saya punya pemikiran yang berbeda? sejak 13 Agustus 2022 saya bicara dari Madinah, sesudah itu muncul, Kompolnas masuk ke skenario itu (skenario Ferdy Sambo) tapi tanggal 24 Agustus 2022 saya minta balik, belok skenarionya bukan itu, salah itu basis skenarionya," jelas dia.

Menko Polhukam itu lalu melakukan diskusi dengan Polri tentang skenario terbaliknya. Namun menurut dia, gugurnya skenario pertama sedikit terlambat karena baru dilakukan penghentian pada sepekan setelahnya.

"Skenario pertama baru di SP3 beberapa hari lalu setelah Sambo mengaku. Selama seminggu kemudian baru SP3. Harusnya setelah Sambo ngaku gugur dicabut langsung," kritik Mahfud.

Meski begitu, Mahfud bersyukur jika saat ini publik sudah satu paham bahwa yang terjadi dalam sengkarut ini bukanlah kasus pelecehan seksual terhadap istri Ferdy Sambo, Putri Candrawathi melainkan pembunuhan berencana.

"Kita bersyukur hari ini di DPR kita clear," Mahfud menutup.

<p>Infografis Ragam Tanggapan Ferdy Sambo Dipecat & Ajukan Banding (Liputan6.com/Triyasni)</p>